DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 12 Maret 2019, 15:10 WIB

Kolom

Relasi Jujur Lintas Iman

Dodo Hinganaday - detikNews
Relasi Jujur Lintas Iman Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama (NU) mengusulkan penghapusan istilah kafir bagi kaum non-Muslim di Indonesia. Para ulama yang bersidang sepakat bahwa istilah tersebut mengandung unsur kekerasan teologis. Musyawarah yang berakhir pada 1 Maret 2019 lalu itu pun menawarkan sebutan "muwathinun", yang menonjolkan kesetaraan kaum non-Muslim dengan Muslim sebagai warga negara.

Awalnya, sebagai non-Muslim saya merasa senang dengan usulan ini. Saya mengapresiasi pengakuan Muslim NU terhadap kesetaraan semua warga negara Indonesia sebagai sesama umat beriman. Ungkapan "kafir" saya artikan begitu saja sebagai sebutan bagi mereka yang tidak beriman. Saya sendiri merasa beriman, sehingga secara spontan agak resisten dipanggil "kafir".

Lagipula, dalam sejarah agama-agama, pembaruan cara pandang terhadap pemeluk agama lain semacam ini bukanlah hal yang asing. Pembaruan ini lahir setelah sebelumnya populer pandangan suatu agama yang bernada "mengkafirkan" kaum yang tidak menganut ajaran agama tersebut. Dalam Gereja Katolik, misalnya, pernah dikenal ajaran "extra ecclesiam nulla salus" atau "salus extra ecclesiam non est".

Ungkapan yang pada abad III dipopulerkan oleh Siprianus dari Kartago itu berarti "di luar gereja tidak ada keselamatan". Saat itu ada dua persoalan besar yang perlu segera ditanggapi: bahaya penyangkalan iman Kristiani sebagai akibat dari perisakan kaum non-Kristiani pada zaman itu dan bidah-bidah yang lahir dalam tubuh umat Kristiani sendiri. Dengan kata lain, awalnya ungkapan tersebut tidak dimaksudkan untuk mendiskreditkan kaum non-Kristiani, tapi sebagai dorongan bagi umat Kristiani sendiri agar berpegang pada ajaran yang satu dan dianggap benar.

Selanjutnya, ungkapan tersebut lalu justru kerap digunakan untuk mendiskreditkan umat di luar Gereja Katolik. Oleh karena itu, Konsili Vatikan II pada 1962-1965 mengajarkan suatu cara pandang terhadap umat beragama lain, yang secara tidak langsung juga meluruskan paham yang diakibatkan oleh pergeseran makna "extra ecclesiam nulla salus". Pandangan yang antara lain ditawarkan oleh Konsili Vatikan II adalah sembari tetap setia pada ajaran agama sendiri, setiap orang secara bijak harus menghargai mereka yang memegang teguh kebenaran agama masing-masing.

Yang mau digarisbawahi di sini adalah kesadaran akan hidup bersama pemeluk agama yang berbeda-beda seharusnya mendorong setiap orang untuk saling menghargai. Itu pula yang saya yakini ingin ditawarkan oleh para ulama NU dengan tidak mengkafirkan non-Muslim di Indonesia. Dan, saling menghargai merupakan langkah maju dalam menjaga keharmonisan bangsa kita yang majemuk ini.

Relasi Jujur

Walaupun awalnya senang, ternyata saya juga menjadi gelisah. Tawaran baik para ulama NU untuk tidak lagi menganggap non-Muslim Indonesia sebagai "kafir" menimbulkan pertanyaan, "Apakah penghapusan istilah kafir lantas menjadikan relasi lintas agama di Indonesia dilakukan secara jujur? Atau, yang terjadi justru adalah tindakan saling menghargai yang dibuat-buat?"

Faktanya, di dalam ajaran Islam ungkapan "kafir" tetap dikenakan bagi umat non-Muslim di mana pun. Penghapusan istilah itu hanya terjadi di Indonesia dalam konteks menjaga harmoni sebagai saudara sebangsa. Artinya, ada semacam standar ganda yang ditawarkan di sini, yang sebenarnya berisiko menjadikan relasi lintas iman di Indonesia tidak lagi dilakukan secara jujur.

Saya malah jadi tergoda untuk meminjam istilah dari Miroslav Volf (1992) untuk menggambarkan risiko tersebut: "pelukan beruang yang mematikan" (deadly bear hug). Dengan istilah ini ingin dikatakan bahwa suatu pelukan yang dimaksudkan untuk memberi kehangatan persaudaraan justru menjadi meremukkan dan mematikan layaknya pelukan seekor beruang. Mengapa? Karena relasi antarpribadi yang dilangsungkan tidak lagi jujur. Persahabatan menjadi semu.

Ada pandangan dan anggapan yang disembunyikan, sehingga saat berelasi setiap orang bertingkah laku seolah-olah pandangan itu tidak ada atau tidak pernah diajarkan. Padahal, pandangan itu nyatanya selalu ada, tidak pernah hilang. Alih-alih memberi rasa aman, relasi yang dibuat-buat justru membuat seseorang selalu merasa tidak aman seperti sedang dipeluk seekor beruang.

Sekali lagi, saya pribadi memang masih merasa tidak nyaman jika dianggap "kafir" selama istilah tersebut dimaksudkan sebagai sebutan bagi mereka yang tidak beriman. Tentu saya memiliki iman. Tetapi, bila istilah "kafir" dimaksudkan secara spesifik untuk menyebut orang-orang non-Muslim, suka tidak suka saya memang harus menghargai ajaran tersebut. Kiranya lebih adil jika relasi lintas agama dibangun di atas dasar kejujuran dan keterbukaan seperti itu; kesejatian persahabatan seseorang justru terlihat ketika ia mau menerima dan menghargai orang lain yang berbeda paham darinya.

Yang sekarang justru jauh lebih penting menurut saya adalah komitmen untuk menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, yang mengatasi istilah atau ungkapan apapun. Apakah setiap orang mau menolong sesamanya yang kesusahan dan menderita, walaupun sesamanya itu dianggap "kafir" menurut ajaran agamanya? Apakah mereka mau berkomitmen melindungi kaum yang dianggap "kafir" ketika jiwa mereka terancam?

Selama kita masih percaya bahwa agama diwahyukan Tuhan karena Ia menginginkan hidup manusia menjadi lebih baik, kiranya ajaran agama apapun akan tetap sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Apapun sebutan yang diajarkan agama itu bagi mereka yang berbeda keyakinan.

Dodo Hinganaday mahasiswa Pascasarjana Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed