DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 12 Maret 2019, 14:15 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Ketika Bu Ani Mengintip dari Balik Kaca

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Ketika Bu Ani Mengintip dari Balik Kaca Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - Foto itu amat mengesankan. Bu Ani Yudhoyono yang berdiri berdempetan di depan Pak SBY tengah mengintip dari balik kaca pintu sebuah ruangan di rumah sakit, tempat Bu Ani dirawat untuk menendang jauh-jauh kanker dari tubuhnya. Di luar pintu, menantu dan cucu-cucunya berpose bersama.

Ah, bersama? Tidak juga. Pasti mereka ingin sekali bersama, tapi ada prosedur yang menjadikan batas pintu itu menyebabkan mereka tak bisa bersama.

Di gambar lain, adegannya lebih menyentuh hati. Salah seorang cucu Bu Ani menempelkan tangannya di kaca itu. Bu Ani menyambutnya dari dalam, juga dengan sentuhan tangan. Jelas, hanya dinginnya kaca yang mereka rasakan, meski tampak sekali ada dua hati yang saling berbagi kehangatan. Dari gambar itu kita bisa turut merasakan kerinduan yang tertahan-tahan, sejumput kesedihan dan segumpal kepedihan, perasaan yang dikuat-kuatkan, namun juga harapan yang terus ditanam.

***

Mungkin saya sok dramatis. Tapi saya menyaksikan, memang banyak orang jadi melow memandang adegan-adegan itu. Ya, sebab dalam foto-foto itu kita sedang melihat Bu Ani yang Bu Ani. Bu Ani yang seorang perempuan tangguh, bukan Bu Ani yang istri dari, ehem!, seorang mantan presiden yang entah mengapa kadang masih suka melemparkan celetukan-celetukan politis dan membingungkan.

Melankolisme memang sekilas tampak sebagai kerapuhan. Tapi, betulkah demikian? Rasanya tidak. Dengan bekal melow-melow-an, ternyata kreator dan penyebar hoaks yang membubuhkan gambar sebuah angka bermuatan politis di kaca pintu Bu Ani pun dihajar beramai-ramai!

Bersama Bu Ani, ternyata kita sedang berbahagia karena kembali menjadi manusia.

Gambar-gambar Bu Ani itu menyeret ingatan saya kepada apa yang saya saksikan berbulan-bulan silam di sebuah unggahan Facebook. Lagi-lagi sebuah foto, yang menampilkan Ustaz Tengku Zulkarnain bersama sang istri.

Dalam unggahan itu, Pak Ustaz menceritakan kemesraan dia dan istrinya saat menunaikan ibadah haji. Karena kaki sang istri sakit, ia pun harus duduk di kursi roda, dan Pak Ustaz seorang dirilah yang tak kenal lelah mendorongnya selama prosesi haji dari awal hingga akhir.

Cerita pembuka itu disambung dengan kisah-kisah pengorbanan istri Ustaz Tengku selama 25 tahun perkawinan mereka. Tentang ketelatenan sang istri yang merawat dan menyuapi Pak Ustaz saat sakit selama setahun penuh, tentang ketabahan sang istri saat ditinggal dalam waktu lama, dan sebagainya.

Ini mungkin biasa saja bagi yang menganggapnya biasa. Tapi buat saya yang selama ini nyaris tidak pernah cocok dengan segala pandangan Ustaz Tengku sebagaimana selalu muncul dalam cuitan-cuitannya, ada realitas lain yang hadir. Saya seolah-olah baru menyadari seutuhnya bahwa beliau adalah sosok dengan daging dan darah juga, yang punya romantika, yang punya sisi sentimentil, yang lembut dan sayang istri.

Terkait pendapat-pendapat politik dan keagamaan beliau, mohon maaf, sampai saat ini saya tetap pada posisi semula. Namun rasanya...gimana ya? Anu, ada semacam rasa dekat yang tiba-tiba. Saya merasa jadi mengenal Pak Ustaz Tengku, merasa bisa membayangkan apa yang dia rasakan, bahkan merasa sedikit bisa berdiri pada tempat kakinya dipijakkan.

***

Belum cukup puas waktu itu saya menikmati "perkenalan" dengan Ustaz Tengku, mendadak mampir pula di beranda Facebook saya adegan lain. Kali ini Pak Jokowi yang jadi tokoh utamanya.

Adegan itu sangat sederhana. Sejumput rambut Mister President jatuh di dahinya, merusak sisiran halusnya yang bergaya klasik bin jadul itu. Remeh sekali kejadiannya, namun jika diabaikan bisa-bisa menghancurkan masa depan bangsa dan negara yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.

Kenapa? Sebab Bu Iriana jadi tampak begitu resah gelisah, gatal tangannya seolah ingin membetulkan sendiri letak rambut suaminya, pada detik itu juga!

Sialnya, Pak Jokowi saat itu sedang berceramah di depan banyak orang. Maka, setelah Bu Iriana berkali-kali memberikan kode namun tidak dipahami suaminya, dua kali kertas memo pun dititipkan lewat anggota Paspampres. Isinya tentu saja pesan penting yang begitu genting. Kalau boleh membayangkan, kira-kira begini bunyinya: "Oiii, Paaak, rambutmu beneriiin!"

Hahaha. Semua penonton video itu pasti tersenyum geli-geli gemas. Mereka sekejap lupa bahwa Jokowi adalah Presiden Indonesia, yang dipuja jutaan orang sekaligus dibenci setengah mati oleh jutaan lainnya.

Saat menonton video itu, saya kira para hater Jokowi pun merasakan pengalaman emosional yang sama dengan saya, suasana batin yang sama dengan saya, sebagaimana saat saya memandangi foto Ustaz Tengku.

Bukankah begitu? Ayolaaah, mengaku saja, jangan gengsi-gengsi begitu. Hehehe.

***

Selama ini, kita memang terlalu asyik memandangi gambar-gambar besar. Sebagian dari kita melihat berbagai masalah dari sudut pandang politik, ekonomi, dan blablabla lainnya. Sebagian lainnya lagi memahami aneka persoalan sebagai perang agama, benturan peradaban, konspirasi internasional Novus Ordo Seclorum, jebakan ideologi Cina, atau skema-skema global mengerikan yang sejenis dengan itu semua.

Akibatnya, saat melihat sosok-sosok yang peran publiknya tak lepas dari konfigurasi peta-peta besar pertempuran itu, kita cenderung mempersepsi mereka dalam peran-peran yang juga seutuhnya besar. Maka Ustaz Tengku di mata saya ya murni personifikasi dari barisan oposisi, atau lebih spesifik lagi Jamaah 212. Titik. Tak ada yang lain. Sementara, Jokowi di mata pembencinya semata merupakan boneka dari kekuatan hitam hewes hewes hewes. Itu, sudah! Tak ada citra manusia yang kita tangkap dari mereka semua.

Walhasil, jarak psikologis dan jarak batin antara kita dan sosok-sosok itu jadi terlalu jauh. Bahkan situasi itu pun menjadikan jarak antarkelompok masyarakat terus melebar. Kita jadi semakin sulit berdialog, bebal dalam berkomunikasi. Dari situasi itulah, yang terus tumbuh subur hanyalah rentetan imajinasi yang kian tak terkendali.

Dalam atmosfer spiritual yang garing dan compang-camping seperti inilah, agaknya kita tak perlu malu-malu untuk kadang-kadang menjadi melow. Sebab setahu saya yang bisa melow hanyalah manusia, meski konon anjing dan simpanse juga. Tapi setidaknya, menyentuh sisi remeh-temeh manusiawi dari sosok-sosok yang selama ini kita lupakan kemanusiaan mereka akan sedikit memulihkan diri kita sendiri sebagai manusia.

Itung-itung, mumpung nubuat Yuval Noah Harari tentang robot-robot dengan emosi penuh itu belum terwujud dan terlaksana.

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed