DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 11 Maret 2019, 15:10 WIB

Kolom

"Setan Gundul" di Pemilu

Manaf Maulana - detikNews
Setan Gundul di Pemilu Ilustrasi: Basith Subastian/detikcom
Jakarta - "Gampangnya, setan gundul pun kalau dipilih rakyat, kita terima." (Nurcholish Madjid, 15/3/99).

Satire Nurcholish Madjid (Cak Nur) tersebut dulu dilontarkan untuk menanggapi perkembangan demokrasi di Indonesia yang cenderung menganggap rakyat hanya sebagai batu loncatan belaka untuk meraih kekuasaan oleh para elite politik yang mendewa-dewakan superioritas dalam segi keuangan sehingga selalu membuka peluang munculnya fenomena politik uang di setiap pesta demokrasi.

Untuk konteks pemilu serentak tahun ini, satire Cak Nur tersebut agaknya cukup relevan untuk diingat kembali. Selain itu, setan gundul dalam satire Cak Nur tersebut cukup menarik untuk dikaji. Sebab, bagi masyarakat Indonesia, sosok setan gundul tidak asing lagi, meskipun merupakan makhluk gaib.

Konon, setan gundul sangat mahir mencuri uang yang tersimpan di brankas yang terkunci sekalipun tanpa meninggalkan jejak, bahkan tanpa sedikit pun merusak kunci pintu brankas, atas perintah sang tuan yang memeliharanya.

Bagi masyarakat Indonesia, setan gundul memang dikenal sebagai pesugihan yang mampu membuat sang tuannya menjadi kaya raya tanpa kerja keras. Karena itu, setan gundul juga telah lama menjadi istilah yang dipakai untuk menyebut kaum koruptor.

Konon, bagi orang-orang yang ingin kaya raya, termasuk ingin meraih kekuasaan dengan uang, tidak peduli etika dan hukum, akan sangat senang memilih setan gundul sebagai partner. Bahkan mereka tidak segan-segan akan berusaha menjelma menjadi barisan setan gundul.

Dalam fenomena politik uang yang telah lama mengotori demokrasi di Indonesia, keberadaan setan gundul sekarang layak dicermati. Sebab, siapa yang mampu mengalahkan pihak yang memiliki banyak uang? Apalagi sekarang banyak rakyat miskin yang butuh uluran tangan kaum "dermawan". Dan siapa lagi kaum "dermawan" yang bermurah hati memberi bantuan kepada rakyat kalau bukan mereka yang sedang mengincar kekuasaan, karena kekuasaan dianggap sebagai lumbung kekayaan?

Konon pula, banyak pihak sangat senang menerima bantuan dari kaum "dermawan" tersebut. Bantuannya macam-macam. Dari mulai biaya pembangunan tempat-tempat ibadah, panti-panti sosial, sarana pendidikan agama, atau sekadar sembako. Mereka yang pernah menerima bantuan tersebut, tentu sudah bermain matematika: menghitung untung rugi kalau harus berpolitik atau menggunakan hak politiknya.

Lalu, ketika banyak pihak sedang bermain matematika seperti itu, bukan tidak mungkin jika mentalitas setan gundul diam-diam merasuki sehingga sangat bersemangat menawarkan bantuan lagi.

Kultur politik di Indonesia, dari tingkat desa sampai tingkat nasional, sejak dulu memang diwarnai spirit setan gundul. Dalam istilah Umar Kayam, budaya "harus bayar" tampak telah melanda semua sendi kehidupan berbangsa dan bernegara (17/3/99), sehingga suara rakyat pun harus dibayar.

Dengan kondisi demikian, politik uang tak mungkin dapat dihapus. Maka pemilu sangat mustahil tanpa diwarnai politik uang. Dan jika demikian halnya, yang menang pemilu bisa saja setan gundul yang punya banyak uang (hasil korupsi).

Jangan sampai ada yang bilang bahwa persoalannya sekarang tidak lagi pada siapa yang ingin menang pemilu. Selain itu, ada masalah lain yang lebih urgen, yakni bagaimana agar setan gundul tidak selalu membodohi rakyat, sehingga proses demokratisasi tidak berjalan mundur. Dan inilah yang perlu diperhatikan.

Ada tiga hal yang mungkin patut diperjuangkan agar hasil pemilu bermanfaat bagi bangsa dan negara. Pertama, bersedia bersikap antagonis dalam menghadapi kekuatan barisan yang memiliki spirit setan gundul. Dalam hal ini, sejak dini rakyat dididik untuk bersikap egaliter dalam mengawal hasil pemilu.

Jangan sampai kandidat yang menang dalam pemilu di kemudian hari berlaku korup yang ujung-ujungnya sangat merugikan bangsa dan negara. Karena itu, rakyat perlu terus diajak untuk bisa tegas menolak politik uang.

Kedua, berupaya menghormati etika berpolitik berdasarkan agama. Jika agama mana pun mengharamkan praktik-praktik politik uang, hendaknya hal itu disosialisasikan dalam wujud sikap dan tindakan nyata semua pihak, khususnya pemimpin agama. Hanya dengan etika demikian spirit setan gundul dalam pemilu dapat diperlemah.

Misalnya, sikap penolakan atas tawaran bantuan elite politik untuk pembangunan tempat-tempat ibadah bisa diberlakukan secara luas. Sehingga tidak ada lagi tempat-tempat ibadah yang dibangun dengan sebagian dana dari politik uang.

Sudah saatnya rasa malu menerima bantuan dalam rangka praktik politik uang dimiliki oleh pemimpin agama dan pemimpin parpol mana pun. Sebab bagaimanapun agama masih menjadi magma moralitas kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam hal ini, harus diakui, masih banyak pemimpin agama di sejumlah pelosok daerah justru berbangga-bangga jika mendapatkan banyak dana yang identik dengan politik uang dari elite politik.

Ketiga, berupaya melaksanakan setiap tahapan pemilu dengan jujur dan adil. Dalam hal ini jangan ada pihak hanya apriori dan main tuduh adanya kecurangan tanpa bersedia turut aktif melakukan pengawasan di lapangan.

Sangat tidak relevan sikap apatis di tengah proses pemilu yang sedang berlangsung. Sebab jika barisan setan gundul leluasa mengotori proses pemilu dengan politik uang, maka mereka akan semakin leluasa bergerak dan akhirnya pemilu dimenangkannya.

Jangan sampai peluang bagi barisan dengan spirit setan gundul untuk berkuasa terbuka lebar-lebar karena masih banyak rakyat sedang susah terjerat mahalnya biaya hidup dan biaya pendidikan anak-anaknya.

Manaf Maulana peneliti budaya politik




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed