DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 10 Maret 2019, 11:50 WIB

Jeda

Provokasi Buah Campolay

Mumu Aloha - detikNews
Provokasi Buah Campolay Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Campolay adalah buah yang provokatif. Keberadaannya sendiri sudah mengganggu, mengusik, dan bahkan mungkin menjengkelkan. Ia meminta perhatian kita tanpa bisa ditolak. Bahkan dari namanya saja sudah aneh. Penjualnya biasanya menaruh tulisan di sepotong kertas kardus: campolay/sawo ubi. Tapi, itu tak menjelaskan apa-apa. Sawo ubi? Apa maksudnya? Orang yang lewat dan berhenti pasti tetap bertanya: ini buah apa?

"Itu ada tulisannya. Atau, lihat saja di internet," demikian dengan nada setengah putus asa sang penjual akan menjawab.

Aku pertama kali menjumpai buah itu di Pasar Gede Solo waktu liburan Natal yang lalu. Ini fakta aneh yang lain lagi, bahwa aku bertemu buah itu di kota kelahiranku, padahal seperti yang kuketahui belakangan, campolay adalah buah "endemik" yang hanya bisa dijumpai di kota-kota di Jawa Barat, seperti Bogor, Cirebon, dan terutama Sumedang.

Terdorong oleh rasa penasaran yang tak bisa dibendung, akhirnya aku membeli satu kilo, sebagai semacam percobaan. Sampai di Jakarta, kutaruh buah itu di kulkas, dan untuk beberapa hari nyaris terlupakan. Ketika kemudian ingat, bahwa aku punya "oleh-oleh" yang istimewa, kuluangkan waktu untuk mencicipinya. Setelah hampir satu minggu, buah itu masih segar. Aku mengamatinya, seperti takut untuk menyentuhnya, apalagi memakannya, seolah-olah itu buah terlarang yang sama yang telah membuat Adam terusir dari Surga, atau jangan-jangan jatuh dari planet lain, dibawa oleh alien.

Bentuknya lonjong, melengkung, seperti mangga dengan ukuran yang lebih "ringkas", dan ujung yang runcing mengerucut. Dibilang sawo, kulitnya yang coklat terang nyaris oranye terlihat begitu mengilat dan halus. Dibilang ubi --ya, tentu saja akhirnya aku membelah buah itu dengan pisau-- dagingnya terlalu lembut, dan jauh lebih manis. Mengingatkan pada ubi cilembu. Saking lembutnya daging buah itu, sampai menempel di bijinya. Aku teringat alpukat, yang ketika dibelah, tinggal dibuang bijinya, lalu disantap dagingnya dengan dikerok. Campolay seperti durian, bijinya bisa dikelamuti, plus daging yang menempel tebal di kulitnya bisa dinikmati layaknya makan ubi, atau dikerok macam alpukat.

Dengan segala keanehan itu, tak heran jika sebutannya pun banyak. Selain sawo ubi, ada yang menyebutnya sebagai sawo mentega, terong mentega, hingga sawo belanda. Ada juga yang menyebutnya konyal, alkesah, kanistel. Nama latinnya Pouteria compechiana. Tapi sudahlah, nama-nama itu hanya menambah kerumitan saja. Faktanya, ini buah yang langka, dan setelah memakannya aku merasa beruntung telah membelinya. Dan untuk beberapa saat lamanya aku terpesona oleh bentuk, rasa, dan cara memakannya.

Di supermarket hari-hari ini kau bisa menjumpai ciplukan, semacam "tomat ceri" yang pernah kau akrabi sewaktu kecil dulu saat bermain di semak-semak. Kau juga masih bisa menjumpai buah menteng yang mulai nyaris punah. Tapi campolay? Kau harus ke Sumedang! Di supermarket, paling banter kau hanya bisa menjumpainya sebagai merek sirup produksi khas Cirebon, yang ditulis dengan ejaan lama --"siroop tjap buah tjampolay".

Kenapa buah yang begitu mempesona ini tak populer? Kenapa tak ada yang membudidayakannya, dan mengangkat harkatnya, layaknya ciplukan yang oleh sebagian orang bahkan dianggap tak lebih dari "buah liar makanan ular" itu?

Aku terus memikirkan campolay, terbuai oleh keajaibannya, dan menimbang-nimbang keistimewaannya. Mungkin aku berlebihan. Tapi, kenapa tidak? Alam memberi kita nyaris segalanya. Kita tak hanya bisa memanfaatkan dan menikmatinya, melainkan juga belajar darinya. Tiba-tiba aku ingin belajar, atau mengingat kembali, bagaimana cara hidup, dari buah campolay. Anggun dalam penampilan, punya misteri yang bikin penasaran, menyimpan pesona yang mengundang siapa saja, tak bisa ditebak.

Dalam dirinya tersusun berbagai unsur dari buah-buah lain. Campolay adalah ubi segar yang bisa langsung dinikmati tanpa harus direbus, ditambah kelebihannya dalam rasa manis yang lembut. Ia layaknya alpukat tapi lebih kenyal. Ia durian yang tidak menguar aroma menyengat yang bagi sebagian orang "memabukkan" --dan tentu saja jauh lebih "praktis" karena ukurannya, dan karena tak berkulit duri. Dari luar, ia mangga yang mungil dan imut. Di dalamnya tersimpan kumpulan dari berbagai kenikmatan, tapi utuh dan unik sebagai dirinya sendiri. Ia sawo yang tak berair, tapi juga bukan terong yang kering dan hambar. Ia nyata, namun tak mengobral keberadaannya. Ia ada di tempatnya sendiri, memilih orang yang hendak dijumpainya. Memanggil lewat penampilannya yang anggun, cerah, berkilau.

Aku ingin hidup meniru campolay. Mengecoh dalam maknanya yang tulus, murni, dan positif. Berbeda dengan bunglon yang berubah-ubah sesuai dengan kepentingannya, dan dengan demikian justru mudah dinilai, dilabeli, distereotipkan, campolay nyaris tak bisa didefinisikan secara tunggal. Sulit untuk dijelaskan dengan satu kata yang paling bisa mewakili. Kita hidup di dunia yang dipenuhi oleh entitas-entitas yang merupakan antitesis dari campolay. Kaum politikus misalnya, mereka begitu mudah ditebak dan membosankan.

Mudah bagi siapa saja untuk menyimpulkan --dan jangan salahkan mereka-- bahwa ketika ada seorang aktivis, atau politikus, atau aktivis yang kemudian menjadi politikus, atau pokoknya tokoh masyarakat, yang terkena kasus, ditangkap polisi karena suatu pelanggaran hukum, maka sikap "vokal"-nya selama ini, suara kerasnya, kegalakannya yang nyaris membabi buta dan cenderung hantam sana-sini selama ini, tak lebih dari upaya untuk menutupi ketidakberesannya. Kata orang Jawa, "kekejer kaya manuk branjangan, kopat-kapit kaya ula tapak meri" --alias hanya lantang sesumbar dan banyak tingkah, tanpa isi, minus kompetensi yang memadai.

Ketika berkampanye untuk memenangkan kelompoknya dalam kontestasi politik, politikus semacam itu tak menawarkan sesuatu yang bisa ditimbang dan diperhitungkan oleh rakyat, melainkan hanya terus-menerus menakut-nakuti, bahkan kalau perlu menebar kebohongan dan kebencian, lewat penyataan-pernyataan yang lebih serupa fantasi yang jungkir balik, akrobat kata-kata yang bising, penuh bias dan intimidatif. Dalam bahasa lirik Emha Ainun Nadjib, orang-orang seperti itu: "...kenceng melulu/ tegang, nabrak-nabrak/Membentur-benturkan kepala."

Mereka adalah orang-orang yang "berlaku sebagai besi, jadi gampang dipatahkan." Sampeyan batu sih, jadi gampang dipecah.

Sebaliknya, orang-orang kreatif, seniman, ilmuwan, mereka tak terduga, menjadi dirinya sendiri sebagaimana mestinya, sesuai kemauan dan suara hatinya. Rendah hati, tak menonjolkan diri, bahkan rela untuk tak terlihat. Para penyair misalnya, mereka hanya menyuarakan apa yang benar-benar merupakan suara hatinya, yang paling dalam, bening, mengendap sehingga suara itu menjadi gema yang menuntun pendengarnya --pembacanya-- dalam pengembaraan batin yang memperkaya pengalaman.

Sementara para politikus yang mendadak jadi penyair, suara mereka semata-mata kegaduhan yang tak menawarkan apa-apa selain kekosongan untuk menciptakan kegaduhan-kegaduhan baru yang tak kalah kosongnya. Mereka bukan campolay, yang provokasinya elegan, cantik, penuh rasa humor dalam seleranya yang paling tinggi, lentur, membimbing kita, siapapun yang penasaran, ragu-ragu, bertanya-tanya, kepada jawaban yang mencerahkan secara mengejutkan dan tak tersangka-sangka. Bahkan, kata "enak" pun tak cukup baginya.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed