DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Sabtu 09 Maret 2019, 11:14 WIB

Pustaka

Jurnalisme dan Islam di Tanah Serumpun Melayu

Abdul Aziz Rasjid - detikNews
Jurnalisme dan Islam di Tanah Serumpun Melayu Foto: istimewa
Jakarta - Judul: Mediating Islam: Jurnalisme Kosmopolitan di Negara-Negara Muslim Asia Tenggara: Penulis: Janet Steele; Penerjemah: Indradya Susanto Putra; Penerbit: Bentang, 2018; Tebal: xii + 292

Pertumbuhan agama Islam di dua negara serumpun Melayu, Indonesia dan Malaysia, diwarnai latar belakang sejarah, geografi, ekonomi, dan politik yang kompleks merentang ratusan tahun. Di Indonesia, sejak pemerintahan kolonial Belanda menunjuk Christian Snouck Hurgronje pada 1889 sebagai Penasihat Urusan Arab dan Pribumi sampai rezim Orde Baru Soeharto (1966-1998) berkuasa, dilangsungkan kebijakan penjauhan umat Islam dari politik dan ideologi islamis. Sebaliknya di Malaysia, negara terlibat langsung dalam urusan-urusan keagamaan ―sejarah otoritarianisme pemerintahan agamis bermula pada 1874 lewat Perjanjian Pongkor pada masa kolonialisme Inggris.

Di lain sisi, dari 1,59 miliar jiwa populasi Muslim dunia, sekitar 13% bermukim di Indonesia dan Malaysia. Signifikansi nilai-nilai Islam tak terelakkan mempengaruhi berbagai sendi kehidupan di dua negara serumpun Melayu ini. Termasuk konfigurasi praktik jurnalistik yang berkesinambungan berinteraksi dengan peristiwa dan permasalahan masyarakat.

Buku Mediating Islam: Jurnalisme Kosmopolitan di Negara-Negara Muslim Asia Tenggara karya Janet Steele (Associate Professor of Journalism di George Washington University) ini berfokus mengkaji lembaga pers dan jurnalis Muslim di antara faset pertumbuhan agama Islam di Indonesia dan Malaysia. Pembacaan pertama, mengungkai praktik pelaporan profesional lima kantor berita yakni Sabili, Republika, Harakah, Malaysiakini dan Tempo mewacanakan Islam kepada masyarakat pembaca. Pembacaan kedua, menyelami jurnalis Muslim memahami, menjelaskan pekerjaan mereka serta memposisikan diri di lembaga pers sebagai institusi sosial.

Lima media yang dipilih, dipandang Janet Steele "saling terkait bukan hanya dalam cara mereka menghubungkan diri dengan Islam politik, melainkan juga dalam hubungan mereka dengan otoritarianisme." (hal 241).

Mewacanakan Islam

Kajian Janet Steele dimulai dengan mengupas Sabili, majalah dengan konfigurasi tegas menyerukan penerapan syariah menjadi kesadaran berbangsa. Dipengaruhi gerakan tarbiah di Indonesia 1980-an, jurnalis dibekali kemampuan propaganda Islam. Sabili menjadi media bawah tanah pada 1984, mati suri pada 1993, terbit kembali pada 2002-2013. Corak isinya menyebarluaskan representasi Islam secara literal dan melihat Islam sebagai agama yang terkepung oleh musuh-musuh baik dari dalam maupun luar.

Beranjak ke koran Republika, dikaji transisi media dari periode "politik" ke periode "bisnis". Menjadikan masyarakat muslim sebagai segmen pembaca utama, profesionalisme para jurnalis Republika berada dalam wacana sosial menjadi payung bagi semua kelompok muslim. Mereka berkomitmen menampilkan surat kabar yang toleran, plural, modern, saleh, dan kritis.

Menyeberang ke Malaysia, surat kabar Harakah menjadi tempat wartawan berafiliasi dengan Partai Islam Se-Malaysia (PAS). Para jurnalis tak hanya menyesuaikan prinsip-prinsip jurnalisme dengan ajaran Islam, tapi juga kebutuhan partai politik mereka. Selanjutnya di portal berita daring Malaysiakini, para jurnalis berjuang menyeimbangkan wacana ras dan agama yang kerap dipolitisasi.

Berujung pada majalah Tempo, pemikiran cendekiawan muslim progresif seperti Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra dan Abdrurrachman Wahid dipromosikan ke publik menyerukan pembaruan dalam pemikiran Islam. Meski Tempo tak berafiliasi ke kelompok agama tertentu, cenderung mengekspresikan pemikiran pada pendekatan Islam kosmopolitan.

Lewat lima media itu termuat pandangan komparatif lembaga pers mewacanakan Islam berdasarkan konfigurasi tertentu. Setidaknya, konfigurasi lembaga pers terbagi dua kategori. Pertama, pemurnian ajaran Islam dengan kembali pada ajaran awal. Kedua, upaya menemukan kompromi antara Islam dan modernisasi. Setiap media tersebut, sebagaimana kata Janet Steele, "memijakkan satu kaki pada tradisi Islam dan satu kaki lagi pada modernitas Barat." (hal 242).

Kecenderungan Khas

Temuan Janet Steele, baik jurnalis Muslim di Indonesia maupun di Malaysia memposisikan diri di lembaga pers dengan menjunjung prinsip-prinsip dasar jurnalisme yakni kebenaran, verifikasi, keberimbangan, independensi sebagaimana wartawan di Barat. Bedanya, ada kecenderungan khas, pemaknaan prinsip dasar jurnalisme mencerminkan nilai-nilai keagamaan.

Sayang, Janet Steele luput menyinggung bahwa nilai-nilai keagamaan yang dipraktikkan oleh jurnalis Muslim tak terpisahkan dengan prinsip Tauhid. Padahal, dalam salah satu petikan wawancara dengan Pemimpin Redaksi Tempo Arif Zulkifli terdokumentasi bahwa spiritualitas batiniah dipahami menyangkut segala sesuatu yang berada dalam dunia yang lebih tinggi dari dunia realitas.

"Saya harus melakukan banyak hal baik, 'mengajak kebaikan dan mencegah keburukan', agar nanti ketika saya mati, hidup saya memiliki makna. Saya percaya akan adanya kehidupan setelah kematian..." (hal 23). Selain itu, juga tak digali secara spesifik segi eksotorik (lahiriah) ajaran Islam seperti hukum, teologi, dan falsafah mempengaruhi jurnalis Muslim.

Buku ini lebih mengetengahkan perjuangan sekaligus wacana sosial keagamaan Islam berdimensi pandangan perbandingan dalam praktik jurnalistik. Cara pandang jurnalis Muslim dinilai Janet Steele lebih mengarah ke kosmopolitan, yakni menghargai keterbukaan, keinginan terlibat bersama orang lain sebagai dataran keruhanian. Keutamaannya, sikap mental yang terbuka pada keberagaman penting bagi langgengnya setiap bentuk hidup bersama di tengah perbedaan suku, ras, agama juga etnis. Apalagi, corak sejarah Asia Tenggara telah dikenal luas lewat kekayaan budayanya.

Sayang, anomali justru terjadi hari ini yang ikut membayangi pula kebebasan pers dan wacana sosial agama di tanah serumpun Melayu. Di Indonesia pasca lengsernya rezim Orde Baru yang ketat mengontrol pers, kini ancaman justru datang dari kelompok sipil yang mengatasnamakan agama. Sedangkan di Malaysia praktik jurnalisme dibayang-bayangi oleh pengotakan etnis dan agama yang menjangkit seluruh negeri.

Abdul Aziz Rasjid jurnalis dan esais, bergiat di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Purwokerto


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed