DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 08 Maret 2019, 14:50 WIB

Kolom

Kantong Plastik Berbayar (Lagi) dan "Mindset" Kita

Robi'ah Machtumah Malayati - detikNews
Kantong Plastik Berbayar (Lagi) dan Mindset Kita Ilustrasi: Zaki Alfarabi
Jakarta - Awal Maret 2019, peritel kembali menerapkan kantong plastik berbayar atau Kantong Plastik Tidak Gratis (KPTG). Setiap pembeli yang menggunakan kantong belanja plastik akan dikenakan biaya 200-500 rupiah. Langkah serupa sebenarnya pernah dilakukan pada 2016. Tetapi dihentikan per 1 Oktober 2016 ketika terjadi pro-kontra dan dinilai tidak efektif.

Langkah itu menurut Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) sebagai salah satu upaya mendukung visi pemerintah untuk mengurangi 30 persen sampah pada tahun 2025. Melalui langkah tersebut diharapkan masyarakat menjadi lebih bijak dalam menggunakan kantong belanja plastik dengan membawa dan menggunakan kantong belanja tidak sekali pakai dan bisa dipakai berulang-ulang.

Penerapan KPTG itu merujuk pada Surat Edaran Dirjen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang dikeluarkan pada 2016 bernomor SE/8/PSLB3/PS/PLB.0/5/2016 tentang Pengurangan Sampah Plasik Melalui Penerapan Kantong Belanja Plastik Sekali Pakai Tidak Gratis. Surat edaran itu dikeluarkan sambil menunggu peraturan menteri yang tengah dikaji sampai sekarang ini.

Terlepas pro-kontra, pemberlakuan KPTG itu perlu mendapat perhatian di tengah euforia politik praktis sekarang ini. Sebab persoalan sampah plastik sudah sangat memprihatinkan yang tidak kalah membutuhkan perhatian.

Pekerjaan Besar

Persoalan sampah memang masih menjadi pekerjaan besar. Di samping pengembangan program infrastruktur, pemerintah perlu memberikan perhatian khusus pada persoalan sampah. Jangan sampai setelah ada kecelakaan, baru mengambil langkah serius. Masih segar di ingatan tentang peristiwa pada 2005, di mana 143 orang terkubur dalam longsor sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) di Desa Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat. Selain itu, sekitar 86 rumah ikut tertimbun sampah.

Pada 2018 juga ditemukannya seekor paus jenis sperma (Physeter macrocephalus) mati di Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Dalam perut paus tersebut terdapat 5,9 kilogram sampah yang didominasi sampah plastik. Mulai dari sampah gelas plastik 750 gram (115 buah), plastik keras 140 gram (19 buah), botol plastik 150 gram (4 buah), kantong plastik 260 gram (25 buah), sisanya jenis sampah lain seperti nilon, karet dan lain-lain.

Sampah plastik memang menjadi problem besar. Berdasarkan data World Economic Forum 2016 disebutkan ada lebih dari 150 juta ton plastik di samudera planet ini. Tiap tahun, 8 juta ton plastik mengalir ke laut. Padahal membutuhkan waktu sangat lama bagi plastik bisa benar-benar terurai menjadi partikel kecil.

Selain di laut, sehari-hari bisa kita jumpai sampah rumah tangga yang didominasi sampah plastik. Tidak hanya satu, tapi puluhan. Tidak hanya sehari, tapi setiap hari dengan dominasi sampah yang sama, yaitu plastik. Sampah plastik tersebut bisa berupa kantong belanjaan, bungkus jajanan anak, bungkus makanan, dan lain-lain.

Sampah plastik rumah tangga tidak sedikit setiap harinya. Bisa dibilang, plastik beredar dengan mudahnya. Belanjaan banyak atau sedikit selalu disertakan plastik baru sebagai wadah, yang ujung-ujungnya plastik tersebut digunakan sekali saja dan akan menjadi sampah dan dibuang di belakang rumah. Problem ini menjadi besar, karena hampir setiap rumah tangga melakukan hal yang sama.

Bukan Problem Nyata

Penerapan KPTG tersebut memang dinilai debatable. Sebab, pembeli harus dibebankan biaya kantong plastik sebesar 200-500 rupiah. Kalaupun satu orang masih sedikit nominalnya, berbeda kalau itu dilakukan oleh ribuan bahkan jutaan anggota masyarakat. Tentu saja, akan menguntungkan pihak tertentu. Padahal, tujuan dari penerapan KPTG adalah untuk meminimalisasi sampah plastik, bukan untuk mendulangkan untung bagi pihak tertentu.

Di sisi lain, dengan biaya 200-500 rupiah, bisa jadi masyarakat akan tetap membayarnya. Bahkan, sampai 10 kantong plastik bisa dibayar, hanya dengan 2000 rupiah saja. Karena itu, masih banyak kita jumpai sampah plastik di mana-mana.

Jika memang demikian, persoalan sampah plastik sebenarnya adalah persoalan mindset kita. Bagi kita sampah seolah-olah bukan problem nyata. Hanya persoalan sepele yang akan teratasi dengan kita mengumpulkan sampah atau membuang sampah pada tempatnya. Sehingga, tidak segan-segan kita menggunakan plastik, bahkan walaupun harus membayarnya. Kita tidak menyadari bahwa sampah plastik membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai dan bisa berdampak negatif untuk lingkungan.

Persoalan sampah adalah gejala modernisasi. Kehidupan modern lekat dengan konsumsi barang-barang yang menyisakan sampah yang tidak terurai lingkungan. Modernisasi mendorong proses produksi yang tentu saja menuntut aktivitas konsumsi. Ketika barang produksi semakin banyak dan beragam, maka kegiatan konsumsi ditingkatkan. Untuk itu, digenjotlah konsumerisme melalui penciptaan gaya hidup tertentu. Tanpa kita sadari gaya atau pola hidup yang dilakukan menyisakan sampah, termasuk plastik. Fakta dan dampaknya sudah bisa diamati sehari-hari.

Persoalan sampah tidak hanya sekadar bagaimana membersihkan dan membuangnya ke tempat sampah. Tapi, sampah merupakan bagian dari problem pola pikir dan cara kita memandangnya. Purwo Santoso, pengkaji politik dan kebijakan lingkungan pernah mengatakan, persoalan sampah adalah persoalan tenggelamnya manusia ke dalam lautan egoisme sehingga membuatnya tidak sanggup memikirkan kebaikan bersama. Ini artinya mementingkan diri sendiri dengan menyampah tanpa memikirkan dampak untuk yang lainnya.

Kita sering beranggapan bahwa membuang sampah pada tempatnya adalah langkah yang cukup. Tanpa kita sadari hal ini menjadi beban pihak lain untuk menyelesaikannya. Dengan demikian, persoalan sampah berarti memindahkan persoalan diri sendiri menjadi persoalan pihak lain. Itulah wujud egoisme diri. Alih-alih memberikan solusi, kita malah menambah beban sosial.

Itulah mengapa problem sampah (termasuk plastik) adalah persoalan cara pikir. Perlu pemahaman dan cara bijak untuk memperlakukan barang-barang di sekitar kita. Maka perlu dipahami, jika kita tidak bisa menghilangkannya maka kita bisa meminimalisirnya. Banyak hal yang bisa dilakukan. Misalnya, sedia kantong plastik bekas ke mana-mana untuk kebutuhan belanja kita sewaktu-waktu. Kita tidak perlu meminta kantong plastik lagi. Kita juga bisa beralih menggunakan sedotan aluminium, untuk meminimalisir sampah sedotan berbahan plastik. Membeli jajanan tertentu kita bisa membawa wadah sendiri, tanpa meminta wadah dari penjualnya yang berbahan plastik atau styrofoam.

Termasuk pemberlakuan KPTG, yang menjadi salah satu upaya mengatasi sampah plastik. Tentu saja kita perlu mendukungnya, bukan dengan bersedia membayarnya, tapi dengan meminimalisir penggunaan kantong belanja plastik. Sehingga kita tidak perlu khawatir penerapan KPTG akan menguntungkan satu pihak tertentu. Lebih dari itu, kehidupan yang harmonis dengan alam dan lingkungan bisa tercipta dengan baik.

Robi'ah Machtumah Malayati dosen Universitas Hasyim Asy'ari Tebuireng


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed