DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 06 Maret 2019, 13:30 WIB

Kolom

Nyepi, Pemilu, dan Harmoni

Dede Solehudin - detikNews
Nyepi, Pemilu, dan Harmoni Ogog-ogoh untuk menyambut Hari Raya Nyepi (Foto: Rifkianto Nugroho)
Jakarta -
Ada kondisi yang cenderung paradoks pada awal Maret ini, tepatnya pada 7 Maret besok. Secara spesifik ini merujuk masyarakat yang tinggal di Bali. Kondisi paradoks tersebut adalah sebuah fakta kekinian yakni pemilu yang cenderung bising berhadapan dengan Hari Raya Nyepi yang dirayakan oleh saudara kita yang beragama Hindu.

Secara makna dan tradisi Nyepi kali ini tak beda dengan tahun sebelumnya. Akan sunyi-senyap selama 24 jam. Menepikan urusan keduniaan seperti bekerja, berpergian, atau bentuk lain yang sifatnya pengamalan dari Catur Brata Penyepian. Diawali dengan berbagai upacara atau ritual lainnya kemudian di tutup dengan pertunjukan karya seni berupa ogoh-ogoh yang diarak menuju sebuah titik kumpul yang biasanya berupa alun-alun kota.

Ogoh ogoh adalah sebuah manifestasi dari tokoh jahat yang dinamakan Buta Kala. Namun kini sepertinya ogoh-ogoh telah bergeser dari semula hanya sebatas gambaran tokoh jahat menjadi sebuah hasil karya seni yang unik. Tokoh jahat yang dibangun menjadi sebuah bentuk patung yang pada prosesnya memerlukan imajinasi bentuk, rupa, dan makna. Dibuat oleh tangan-tangan anak muda kreatif dengan mengandalkan ketelitian dan kesabaran juga pengorbanan baik bersifat materi maupun waktu.

Ogoh-ogoh yang telah jadi tersebut kemudian pada satu hari menjelang Nyepi diarak menjadi sebuah pertunjukan hasil seni. Disaksikan oleh masyarakat baik pendatang sebagai wisatawan maupun masyarakat setempat. Pelancong mancanegara banyak juga yang menyaksikan. Pertunjukan seni cuma-cuma.

Akhirnya ogoh-ogoh yang merupakan simbol dari kejahatan kemudian dibakar. Dengan dibakarnya ogoh-ogoh tersebut menandai musnahnya berbagai unsur jahat dalam kehidupan. Sehingga siap untuk melakukan ritual Nyepi.

Nyepi dan Pemilu

Berkaitan dengan suhu politik yang semakin memanas yang ditandai dengan pelbagai friksi dan polarisasi dukungan, Nyepi memungkinkan sekali dijadikan momentum kontemplasi. Saat yang tepat untuk memeriksa kembali apakah perdebatan pemilu ini sudah bermuara sekaligus berpijak pada kepentingan negara dan bangsa atau hanya sekedar memenuhi syahwat berkuasa.

Pemilu adalah sebuah kontestasi dalam kebaikan, yaitu berlomba-lomba untuk mengabdikan diri kepada masyarakat dan negara secara keseluruhan, bukan mengabdi pada partai, golongan, atau kelompok kepentingan tertentu. Proses perenungan ini bukan hanya oleh saudara yang beragama Hindu, namun bagi semua elemen bangsa khususnya yang tinggal di Bali.

Seharian penuh kita tidak akan menyaksikan saling klaim, saling maki dan saling sindir. Seharian penuh kita mengisolasi diri dari dunia luar. Dipaksa untuk tidak posting dan berkomentar di media sosial. Berhenti untuk menebar kontroversi dan hoaks. Fokus pada perenungan dan introspeksi individu. Seharian penuh pula kita terbebas dari runyam dan berisiknya media sosial dengan segala posting-an dan sifatnya yang viral. Akses internet untuk sementara dimatikan, begitu pun dengan jaringan televisi. Sehingga bisa dengan nyaman saudara yang beragama Hindu melakukan ritualnya.

Berbeda dengan kami yang muslim atau kawan-kawan kami yang bukan Hindu. Momen Nyepi dijadikan sebagai waktu yang tepat untuk beristirahat total. Tanpa bising kendaraan, tanpa polusi suara, dan tanpa radiasi ponsel. Terutama tanpa harus dipaksa mendengar riuhnya tim kampanye yang saling tuduh dan saling memuji diri dan kelompoknya. Narsisme politik dan ego kelompok.

Jika Nyepi ini betul-betul dijadikan sebagai sarana kontemplasi, maka sejalan dengan pemusnahan unsur jahat yang dimanifestasikan dalam bentuk patung ogoh-ogoh. Unsur keburukan dalam kehidupan baik berupa hoaks, caci maki, fitnah, dan perkataan kotor selayaknya ditinggalkan. Karena itu semua merupakan bentuk dari keburukan. Termasuk di dalamnya adalah sikap intoleran dan penghalalan segala cara dalam mencapai tujuan.

Sehingga selepas Nyepi, akan tumbuh energi kebaikan dan berkurangnya energi keburukan. Kampanye akan semakin bermartabat dan akhirnya proses pemungutan suara akan dilakukan secara jujur. Jika itu dilakukan, maka outcome pemilu berupa anggota legislatif dan pasangan presiden pun berkualitas. Atau minimal itu adalah manifestasi pilihan masyarakat yang berpikir jernih dan waras.

Tetap Menarik

Dengan segala keunikan dan daya tariknya, Bali memberi ruang yang begitu leluasa bagi kita untuk melakukan harmonisasi dengan alam dan lingkungannya. Dalam suasana Hari Raya Nyepi, Pulau Dewata meskipun seharian penuh istirahat tanpa denyut kehidupan masih saja menarik.

Jalanan diberi kesempatan untuk melepaskan beban kendaraan yang hilir mudik. Pantai yang selalu jadi magnet utama Bali untuk sementara terbebas dari manusia dan aktivitas lainnya. Pun demikian dengan destinasi wisata lainnya seperti diberikan waktu untuk me-recovery diri.

Pada hari itu, semua wisatawan menikmati sisi lain dari Bali, kesunyian dan sepi juga gulita di malam hari. Alih-alih menjadi penghalang tujuan wisata, di Hari Nyepi itu justru untuk beberapa turis asing atau domestik menjadi daya tarik tersendiri. Mereka penasaran untuk menyaksikan dan mengalami Nyepi di Bali.

Meskipun aktivitas hanya terbatas di hotel atau tempat penginapan, wisatawan bisa menikmati sisi lain dari Bali. Menyaksikan sekaligus merasakan ragam perilaku toleransi antarpemeluk agama yang berlainan. Melihat betapa masyarakat Bali sangat patuh pada ajarannya. Serta, banyak lagi keunikan juga kekhasan Bali di Hari Raya Nyepi yang tidak ditemukan di daerah lain.

Inilah Bali dengan segala daya tariknya. Bukan hanya pantainya. Bukan sebatas Kuta, tari Kecak, pura, dan landmark lainnya. Tapi Bali yang memiliki daya tarik di setiap sendinya. Bali yang memiliki denyut yang selalu hidup meskipun dalam suasana Nyepi. Bali sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa untuk Indonesia tercinta.

Keseimbangan

Spirit Nyepi bagi saya secara pribadi adalah keseimbangan, harmoni dengan alam, juga sebagai tanda koma. Berhenti sesaat dari aktivitas keseharian baik di kantor maupun aktivitas sosial lainnya. Namun tentu bagi sebagian kecil kelompok, Nyepi dengan segala pembatasan termasuk pada akses internet merupakan sebuah kondisi kurang menyenangkan.

Kaum milenial yang cenderung lekat dengan dunia digital termasuk teknologi smartphone akan kurang nyaman. Seharian penuh tidak bisa mengakses internet baik berupa media sosial maupun game online sepertinya suatu kerugian dan cenderung membosankan.

Pun bagi kontestan dan tim kampanye sepertinya tak jauh berbeda. Mereka tidak bisa menyebarkan informasi, propaganda, dan lain sebagainya kepada masyarakat. Akses informasi shutdown untuk sementara waktu. Namun, dengan Nyepi kita bisa merenungi secara jernih dan bisa berpikir waras dalam menentukan pilihan baik dalam pilpres maupun pileg. Semoga dengan spirit Nyepi unsur keburukan dalam setiap individu bisa sirna seperti sirnanya ogoh-ogoh yang telah dibakar.

Dede Solehudin pemerhati sosial, tinggal di Bali

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed