DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 06 Maret 2019, 12:00 WIB

Kolom

Titik Temu Komunitas Sosial dan Parpol

Milastri Muzakkar - detikNews
Titik Temu Komunitas Sosial dan Parpol Aksi para relawan menyerukan kampanye damai (Rifkianto Nugroho)
Jakarta -

Jika ada pertanyaan, siapa yang paling idealis dan betul-betul bekerja untuk kemanusiaan tanpa embel-embel dan imbalan apapun? Maka jawabannya adalah para relawan yang tergabung dalam komunitas sosial --bukan lembaga think thank apalagi lembaga "plat merah"-- apapun bidang yang digeluti komunitas itu. Secara sukarela, para relawan berkumpul karena kesamaan keresahan, hobi, atau kemauan berbuat sesuatu. Tujuan besarnya mendorong perubahan yang lebih baik untuk Bangsa.

Mereka datang dari berbagai latar belakang, lintas status sosial, usia, agama, dan suku. Bahkan mengeluarkan biaya pribadi untuk menghidupkan komunitas biasa dilakukan oleh relawan. Karena kesamaan visi-misi itulah orang-orang yang tergabung dalam komunitas sosial ini jumlahnya banyak dan sangat solid.

Bagaimana dengan para politisi yang tergabung dalam partai politik (parpol)? Betulkah mereka berkumpul karena ada keresahan dan kemauan untuk mengadakan perubahan yang lebih baik untuk bangsa? Hal itulah yang akan kita bahas dalam tulisan ini. Namun, sebelumnya saya ingin membahas pandangan umum komunitas terhadap parpol atau segala sesuatu yang politis.

Menyentuh Komunitas

Coba tanyakan kepada relawan komunitas, apakah mereka bersedia bekerja sama dengan parpol atau salah satu kandidat yang sedang bertarung di pemilu atau pilkada? Umumnya mereka akan menjawab: tidak bersedia! Bukan karena tidak mau, tapi image parpol dan politisinya yang telanjur negatif di mata komunitas. Ingat, anggota komunitas adalah kumpulan orang-orang yang sedang mengemban visi-misi yang lebih konkret untuk bangsa tanpa embel-embel apapun.

Berbeda dengan parpol dan politisinya. Apapun yang mereka lakukan selalu ingin dilihat dan dipublikasi seluas-luasnya di depan masyarakat. Para politisi bisa disulap oleh konsultan politiknya menjadi pribadi yang lebih perhatian kepada rakyat, tersenyum ramah saat jalan ke pasar becek, bahkan menggendong bayi salah satu pedagang. Padahal, sebelumnya mungkin jangankan ke pasar becek, ke pasar modern saja mereka belum pernah.

Apalagi politisi instan yang berasal dari kalangan selebritis, tersenyum ramah, bersalaman, apalagi mengendong balita yang kusam adalah sesuatu yang dapat mengganggu perawatan yang setiap hari mereka lakukan. Bagi masyarakat awam, bisa jadi percaya saja dengan perilaku dadakan para politisi itu. Tapi, belum tentu bagi anggota komunitas yang biasanya lebih cerdas dan kritis.

Lalu, bagaimana strategi agar kampanye yang dilakukan parpol dan politisinya bisa menyentuh seluruh kalangan, termasuk komunitas? Bisakah komunitas sosial dan parpol berkolaborasi dalam melakukan perubahan positif untuk bangsa?

Membangun Branding

Kekeliruan umum pertama yang dilakukan oleh parpol dan politisinya adalah membangun branding politik parsial dan memasarkannya hanya saat musim kampanye. Parahnya, setelah musim pemilihan selesai, branding positif yang dibangun susah payah dengan biaya besar selama kampanye --dan mungkin sempat dilakukan meski secara parsial-- redup dan hilang.

Kekeliruan kedua, umumnya parpol menganggap ketika pernyataan, video, atau foto kandidatnya sudah dipajang di TV, koran, radio, atau baliho di pinggir jalan otomatis kandidat akan dikenal dan perolehan suaranya meningkat. Anggapan keliru lainnya adalah parpol dan politisi menganggap masyarakat yang ramai-ramai dimobilisasi saat kampanye di ruang-ruang publik atau yang mau menggunakan kaos bergambar wajah kandidat otomatis akan memilih kandidat tersebut.

Faktanya, membangun sebuah branding --baik dalam konteks perusahaan atau pun parpol-- adalah pekerjaan yang sistematis, terencana dengan baik, dan terus dilakukan setiap saat. Bukan hanya saat musim pemilu) atau pilkada. Sistematis dan terencana yang dimaksud adalah sebelum membuat program kampanye diawali dengan menentukan target utama kampanye (petani, milenial, buruh). Karena sebesar apapun partai dan konstituennya tidak akan bisa memenuhi semua kebutuhan masyarakat.

Setelah itu, meneliti apa kebutuhan utama target sasaran yang akan diturunkan menjadi aksi nyata. Teknis PRA bisa menjadi alternatif dalam proses mengumpulkan data. Di sini diperlukan inovasi program. Program yang menyentuh pengalaman pribadi sasaran dan menonjolkan perbedaan dengan program partai lainnya. Dalam pelaksanaan program penting sekali melibatkan masyarakat setempat sehingga terbangun rasa memiliki terhadap program sekaligus kepada politisi sebagai inisiator program.

Selanjutnya, biarkan masyarakat yang melakukan dan mengembangkan program, dengan atau tanpa bantuan parpol dan politisi lagi. Politisi cukup me-monitoring. Jadi lebih konkret, bermanfaat dan murah kan?

Kedua, memperbanyak aktivitas sosial bersama komunitas sosial, tokoh masyarakat, dan masyarakat umum di ruang publik lebih mampu mengangkat citra positif politisi meski tanpa menyebut merek politik. Sehingga, ketika musim kampanye tiba atau telah berakhir, masyarakat sudah menilai politisi tersebut adalah orang yang merakyat, ramah, paham dengan kondisi masyarakat. Dengan begitu, biaya baliho atau iklan di media bisa ditekan.

Fakta ketiga, seseorang akan meyakini, memilih, dan setia pada sesuatu jika afeksinya tersentuh. Sebab afeksi inilah yang akan mengubah perilaku seseorang. Mau ikut kampanye dan memakai kaos kandidat belum tentu akan memilih kandidat. Karena itu, buatlah program kampanye yang membumi dan menyentuh afeksi masyarakat.

Melibatkan Komunitas

Melibatkan komunitas sosial dalam proses kampanye program adalah alternatif strategis yang perlu dilakukan oleh parpol secara kelembagaan, ataupun kandidat secara personal. Tentu saja syaratnya adalah tidak membawa embel-embel parpol atau tidak berkampanye secara langsung. Komunitas yang dimaksud adalah komunitas yang memang sudah ada, bukan dibentuk oleh parpol. Sebab sulit membedakan ketulusan bergabungnya seseorang secara murni atau karena ada harapan akan mendapatkan imbalan dari parpol.

Menurut indorelawan.org (sebuah platform yang menghimpun relawan Indonesia dari berbagai isu), jumlah relawan dari berbagai komunitas sekarang mencapai 90.742 orang. Belum terhitung yang tidak mendaftar. Meski jumlahnya terkesan sedikit, tapi kekuatan mereka bisa melampaui jutaan orang. Mengapa? Pertama, relawan memiliki ketulusan, keyakinan, dan loyalitas yang tinggi. Ini adalah fondasi dan modal utama. Dengan modal itu, parpol tak perlu mengeluarkan biaya besar untuk "membeli" suara yang belum tentu memilihnya.

Kedua, relawan komunitas datang dari berbagai latar belakang. Keberagaman ini akan memperkaya perspektif dan karya dalam menyusun program kampanye. Ketiga, mereka yang berkomunitas, umumnya cerdas, kritis, kreatif dan aktif bermedia sosial. Lihat saja kegiatan-kegiatan yang dibuat komunitas selama ini. Terkadang kegiatan itu belum pernah terpikirkan atau tidak pernah dilakukan oleh pemerintah. Jika pun ada yang pernah dilakukan pemerintah, seringkali gaungnya kurang menggema karena sosialisasi yang kurang tepat. Nah, inovasi program kampanye yang lebih membumi, modern, menggema, dan murah bisa dilakukan bersama komunitas.

Parpol atau kandidat yang mampu membangun kolaborasi yang baik dengan komunitas sosial akan menampilkan branding politik yang positif. Ini juga membantu meruntuhkan citra politik yang selama ini cenderung negatif dan membosankan. Berani mencoba?

Milastri Muzakkar founder Generasi Literat


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed