DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Sabtu 02 Maret 2019, 12:10 WIB

Pustaka

Penyembuh Tubuh Bangsa

Setyaningsih - detikNews
Penyembuh Tubuh Bangsa Foto: istimewa
Jakarta - Judul Buku: Merawat Bangsa: Sejarah Pergerakan Para Dokter Indonesia; Penulis: Hans Pols; Penerjemah: Thomas Bambang Murtianto; Penerbit: Kompas, 2019; Tebal: xx+380 halaman

Setiap kita mendapati sosok modern di masa pramodern Hindia Belanda, sekali lagi kita menyaksikan dilema yang memijak di dua sisi. Satu sisi, mereka adalah sosok terpelajar tapi tidak sepenuhnya diakui sebagai bagian dari masyarakat kulit putih kolonial di negeri terjajah, di sisi lain mereka dituduh berkhianat dari akar identitas dan etnisitas. Mereka adalah para dokter, yang disebut Hans Pols dalam buku Merawat Bangsa: Sejarah Pergerakan Para Dokter Indonesia (2019) dengan "elite rakyat kolonial hibrida". Para dokter bertindak tidak hanya demi menyembuhkan secara fisik. Mereka menyemai pemikiran sekaligus merintis pergerakan untuk menyembuhkan tubuh bangsa dari sakit penjajahan.

Sekolah Dokter Djawa kelak menjadi STOVIA, sekolah dokter pertama di masa kolonial berdiri pada 1851, lahir dari imajinasi buruk. Hindia Belanda adalah gudangnya penyakit sampai dijuluki kuburannya orang Eropa. Tifus yang melanda Jawa Tengah pada 1847 salah satunya menjadi alasan agar para kaum muda Jawa menerima pendidikan dokter. Berbalik dari kondisi sekarang yang menganggap pendidikan dokter sebagai sekolah elite dan kaum berduit, sekolah dokter masa kolonial justru dianggap "sekolah kaum miskin" karena tidak berbayar dan para lulusan membalas jasa dengan ikatan kerja selama 10 tahun.

Pemerintah kolonial juga gagal menciptakan posisi sosial simbolis secara hierarki tradisional yang membuat sekolah dokter tidak terlalu banyak diminati terutama bagi bangsawan Jawa. Namun tahun-tahun terakhir abad ke-19, gaya hidup para dokter tampil dengan "sangat Barat". Hal ini terlihat dari cara bergaul dan berbahasa, "Mereka berbicara dalam Bahasa Belanda satu sama lain, diajarkan tentang temuan-temuan terbaru ilmu kedokteran Barat, dan menghabiskan waktu senggang di kota metropolitan. Para pelajar memiliki kehidupan ekstrakurikuler yang sibuk: berolahraga, bergabung dalam perkumpulan pelajar, membaca koran, dan berpesta."

Sosok yang cukup ndableg tentu saja Tjipto Mangoenkoesoemo yang menjadikan kejelataan busana kedaerahan sebagai perlawanan politik. Dia meninggalkan Boedi Oetomo yang dianggap terlalu elitis dan konservatif, melakukan pemberantasan wabah, sampai bersengketa dengan pejabat kolonial demi menyuarakan kemapanan gaji buruh. Meski memang memilih tidak memfokuskan pada sosok Tjipto, Hans Pols sempat mengutip ujaran Tjipto yang mengkritik parlemen kolonial, "Kekuatan tubuh nasional dihancurkan oleh tumor kanker. Ilmu kedokteran saat ini tidak mengetahui cara yang lebih baik untuk melawan kanker daripada pisau. Dulu, saya naif dan berasumsi bahwa Volksraad akan bertindak seperti ahli bedah untuk menghentikan pertumbuhan lebih lanjut kanker ini. Saya sangat naif! Pengalaman telah mengajari saya bahwa, pada kenyataannya, Volksraad adalah dukun yang tidak bisa dipercaya memegang pisau."

Imajinasi medis hadir untuk mendiagnosis tubuh sosial masyarakat pribumi yang sakit tidak tersembuhkan hanya dengan obat. Kemiskinan, kekurangan gizi, kelaparan, penyakit, menjadi efek politis kebijakan tanam paksa dan perburuhan di perkebunan yang sangat menguras tenaga para pekerja pribumi. Bahkan pihak kolonial menggunakan teori evolusi untuk menunjukkan keterlambatan intelektual intelektual pribumi dari orang Eropa. Kebodohan dan kemunduran kaum pribumi tidak diakui karena diskriminasi pendidikan, politik kebahasaan, dan lain-lain.

Medis adalah alat intelektual. Hal ini ditunjukkan Hans Pols lewat ketokohan Abdul Rivai, lulusan pertama Sekolah Dokter Djawa (1895). Rivai kecewa berat saat kualifikasi medis di Hindia Belanda hanya memungkinkannya bergaji rendah dan tidak bisa mencapai status sosial setara (dokter) Eropa. Rivai memiliki ambisi, "kekuatan transformasi sains, teknologi, dan ilmu kedokteran akan membawa kemakmuran dan kemajuan ke Hindia Belanda." Ambisi kosmopolitannya dibuktikan juga dengan mengganti pakaian Minangkabau dengan setelan, jas, dan topi.

Didorong oleh kolega-kolega mumpuni Eropa, Rivai berhasil melanjutkan studi di Belanda. Di sinilah, muncul kesadaran kuasa gelar medis harus diperkuat dengan pers. Dia mendirikan majalah dua mingguan Pewarta Wolanda meski tutup setelah enam bulan. Bersama H.C.C. Clockener Brousson, pensiunan tentara kolonial, Rivai kemudian mendirikan majalah bergambar untuk orang-orang terpelajar, Bintang Hindia Belanda. Rivai mengartikulasikan pandangan politik kebangsaan dan pendidikan agar menjangkau modernitas yang diidam-idamkan. Bahwa pertalian erat dengan Belanda akan membawa Hindia Belanda terangkat dari status primitif menjadi beradab.

Di masanya, Rivai juga bisa dikatakan sebagai dokter Hindia Belanda pertama yang berhasil secara status sosial dan kemapanan ekonomi sebagai dokter. Pada 1912, Rivai bertugas di Dinas Kesehatan Kolonial di Padang. "Dia terpilih sebagai Dewan Kota dan membeli mobil baru, dengan senangnya bisa menyalip rekan-rekan Eropa yang masih bepergian dengan kuda dan mobil buggy." Rivai pindah ke Surabaya ketika bersengketa dengan atasan. Dia berhasil mencipta jaringan sosial dengan orang Eropa, pedagang Cina kaya, saudagar Arab, dan bangsawan pribumi.

Masa pendudukan Jepang dinilai Hans Pols sebagai masa yang kurang diperhatikan para sejarawan atas nasib para dokter. Namun, sengatan kaum modernis higienis seharusnya memiliki pertaruhan untuk memperkuat revolusi dengan cara memposisikan diri di institusi-institusi dominan yang ditinggalkan oleh orang Eropa.

Setelah kemerdekaan, para dokter hampir tidak memiliki tantangan ideologis demi mempertaruhkan posisi kebangsaan mereka. Di majalah, koran, atau jurnal, dokter hanya memberikan diri untuk menulis tema-tema kesehatan. Pertarungan politik nyaris sepenuhnya selesai. Dokter cukup hanya memikirkan kesehatan. Para dokter berada dalam arti harfiahnya sebagai penyembuh. Dan sebagai para sosok elite rakyat hibrida pada masanya, kita memang masih mendengar namanya, tapi sering tersisa hanya sebagai nama rumah sakit.

Setyaningsih esais, tim penulis buku Semaian Iman, Sebaran Pengabdian (2018)


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed