DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 01 Maret 2019, 13:50 WIB

Kolom

Mendekati Milenial dengan "Politik Instagram"

Donny Syofyan - detikNews
Mendekati Milenial dengan Politik Instagram Foto: Carl Court/Getty Images
Jakarta - Generasi milenial akan menjadi sumber daya krusial dalam pemilihan presiden pada 2019 ini. Generasi yang lahir antara tahun 1981-2000 atau saat ini berusia 15 tahun hingga 34 tahun ini memiliki ciri-ciri tersendiri yang berbeda dari generasi lain, seperti generasi baby boomer atau Generasi X. Mewakili generasi yang cerdas teknologi, kaum milenial sangat dipengaruhi oleh kebangkitan telepon cerdas (smartphone), penyebaran internet, dan kebangkitan media sosial.

Jumlah pemilih milenial tidak bisa dianggap sepele, nyaris mencapai 80 juta dari 192 juta pemilih. Jumlah itu meningkat dua kali lipat dibandingkan pada Pilres 2014 yang hanya mencapai 40 juta orang. Jumlah signifikan ini tentu menjadi rebutan buat partai politik untuk mendapatkan lebih banyak suara potensial dari generasi muda. Potensi ini harus berjalan beriringan dengan karakter mereka yang cenderung abai terhadap politik.

Kemampuan calon presiden untuk menarik kelompok ini sangat vital karena merupakan sumber pemilih segar yang relatif bebas dari kecenderungan cuci otak. Sebaliknya, mengabaikan mereka sama saja dengan kehilangan peluang suara dari kalangan pendukung yang masih lurus dan awam.

Dalam upaya menggaet kaum milenial, para capres khususnya dan politisi pada umumnya perlu menyadari bahwa mereka punya karakteristik yang berbeda serta membutuhkan apa yang disebut "politik instagram" (lebih tepat sebetulnya instagrammable politics). Istilah ini terinspirasi oleh apa yang Instagram dapat tawarkan kepada politisi.

Sebagai media sosial yang jauh lebih berkembang, modern, dan berkelas Instagram menjadi alat yang disukai untuk menarik perhatian milenium, muda, dan pemilih baru. Apa dan bagaimana politik instagram? Mengapa para politisi perlu lebih memperhatikan ragam politik canggih ini untuk menarik lebih banyak kaum milenial?

Karakteristik Visual

Sama seperti Instagram dengan karakteristik visualnya yang kuat, politik instagram menekankan pentingnya visualisasi kandidat. Kandidat presiden dan wakil presiden perlu unggul dalam mempromosikan diri mereka sendiri sevisual mungkin.

Mendekati milenial melalui pidato konvensional atau perjalanan panjang pengenalan diri dalam bentuk tulisan di situs web adalah masa lalu. Karena gaya hidup kaum milenial yang instan dan melek IT, mereka menghabiskan banyak waktu mencari informasi secara cepat untuk waktu yang terbatas. Hal-hal yang berbau fotografi menjadi favorit untuk kebutuhan. Politik instagram memberikan aksentuasi pada gambar, foto, dan video.

Beberapa hari lalu, saya mengobrol dengan para mahasiswa, menanyakan bagaimana mereka mengidentifikasi dan menjatuhkan pilihan kepada kandidat presiden dan wakil presiden yang tengah berlaga. Seperti yang saya duga, jawaban populer mereka adalah melalui media sosial, khususnya Instagram dengan berbagai macam sudut pandang.

Sejumlah mahasiswa mengakui bahwa informasi lewat Instagram lebih personal karena menggambarkan kandidat secara lebih langsung. A picture speaks a thousand words. Mahasiswa lainnya menyatakan bahwa Instagram fungsional mencegah politisi dari kecenderungan berbohong atau mengada-ada. Dalam pikiran kaum milenial ini, pemikiran, gambar, foto, dan video memberikan dampak yang lebih emosional dan otentik kepada orang-orang.

Meskipun gambar atau video juga dapat diedit, pemilih dengan mudah dan cepat untuk menilai dan bereaksi terhadapnya. Ini sama sekali berbeda dengan membaca pesan-pesan kampanye atau mendengarkan pidato yang membutuhkan keterampilan analitis dan pemikiran kritis.

Tak kalah pentingnya, politik instagram menjadikan politik bertahan karena dapat mengurangi kejenuhan orang dengan politisi. Gambar-gambar politisi yang merajalela sebagai "over promise and under delivery" akan menyusut pada saat para politisi ini berkomitmen untuk memperbarui aksi-aksi visual mereka yang dapat dilihat oleh para milenial.

Pembaharuan foto dan video --terutama oleh para capres-- bakal memberi kesan kepada kaum milenial bahwa mereka melakukan layanan dan dedikasi yang berkelanjutan. Sebaliknya, ketidakmampuan para politisi ini untuk memperbarui aktivitas mereka kepada pemilih milenial tersebut hanya akan menegaskan kekecewaan jangka panjang kepada publik bahwa pendekatan secara langsung mereka terhadap pemilih lebih merupakan manuver seremonial daripada pengabdian yang terus-menerus terhadap masyarakat pemilih.

Memperbarui citra --gambar atau video-- agaknya terdengar egois dan berlebihan. Namun, itu menunjukkan betapa serius dan berpengetahuan para capres/cawapres tentang tuntutan politik unik kaum milenial.

Sebagai generasi yang praktis, kaum milenial tidak hanya suka berkomunikasi secara ringkas --seperti kecenderungan atau kebiasaan untuk membuat pilihan kata-kata lebih singkat dalam mengirimkan SMS atau pesan WA-- tetapi juga cenderung menerapkan pola jalan singkat (shortcut) dalam melakukan banyak hal. Sudah bukan masanya lagi bagi kaum milenial untuk membaca halaman opini atau profil di sebuah koran atau majalah sekadar untuk mencari tahu atau melakukan penelitian tentang profil calon presiden dan wakil presiden.

Dalam percakapan baru-baru ini dengan beberapa mahasiswa Indonesia di Clayton, sebuah kawasan pinggiran Melbourne, saya menemukan bagaimana pengguna media sosial tidak lagi mandiri dalam menanggapi setiap kejadian atau kepribadian. Di Facebook, misalnya, banyak yang sibuk mengomentari komentar pengguna lain daripada membuat status mereka sendiri, sementara di Instagram dan Twitter komentar yang diberikan diatur oleh jumlah tertentu.

Ini adalah tantangan lain bagi para politisi; bagaimana mereka mendukung diri sendiri melalui akun media sosial dengan cara yang lebih sederhana, lebih mudah dipahami, dan menarik bagi para milenium dan pemilih muda yang kehilangan kebebasan untuk menyuarakan pendapat mereka.

Donny Syofyan dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed