DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 26 Februari 2019, 14:16 WIB

Kolom

Regenerasi Petani, Menjadikannya Cita-Cita

Mila Sulasmaya - detikNews
Regenerasi Petani, Menjadikannya Cita-Cita Sebuah perusahaan patungan Jepang-Indonesia membina petani muda (Foto: Pool/Ewindo)
Jakarta - Tidak banyak pemuda yang bercita-cita menjadi petani. Kelompok kecil ini, yang benar-benar menjadikan pertanian sebagai passion dan mata pencaharian utama, mulai muncul ke permukaan. Geliatnya sudah mulai terasa terutama di media-media sosial, tempat mereka berbagi ilmu pertanian berdasarkan trial dan error.

Keinginan beberapa wilayah untuk menjadi daerah industri maju membuat pertanian semakin tersisihkan. Tidak adanya dukungan yang sungguh-sungguh dari pemerintah untuk menggenjot sektor pertanian membuat sektor ini semakin terbelakang. Jauh dari radar keinginan generasi muda.

Belanda yang luas wilayahnya tidak lebih luas dibandingkan Provinsi Jawa Timur mampu tampil menjadi negara pengekspor produk pertanian nomor dua di dunia. Hal ini tidak lepas dari peran pemerintah yang sungguh-sungguh mengembangkan pertanian. Semua kebijakan dibuat berdasarkan riset-riset yang dilakukan para ahli.

Amerika Serikat, Jepang, dan China adalah negara-negara besar lain yang unggul dalam sektor pertanian. Riset-riset dilakukan untuk mendukung kebijakan di bidang pertanian. Teknologi dibuat untuk mendukung pertanian. Maka tidak heran jika hari ini mereka menguasai ekspor pertanian dunia.

Perdesaan yang perekonomiannya bercorak pertanian tidak seharusnya berubah menjadi perkotaan yang bercorak industri dan jasa untuk menjadi daerah yang maju. Desa bisa menjadi pendukung yang baik bagi kota. Begitupun sebaliknya. Desa bisa tumbuh, berkembang, dan maju setara dengan kota tanpa harus beralih menjadi daerah yang bercorak industri dan jasa. Profesi petani bisa setara dengan profesi lainnya terutama di bidang industri dan jasa.

Pertanian tidak bisa tergantikan. Negara tanpa sistem pertanian yang baik akan selalu tergantung kepada negara lain. Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Tanahnya subur, tapi ironis pertaniannya malah tidak lebih baik dari negara tetangganya. Sudah banyak kata sindiran ditulis namun tujuh puluh tiga tahun merdeka pertanian tidak banyak berubah. Sistem mengolah, menanam, sampai memanen seperti berjalan di tempat.

Jika di Amerika petani sudah menenteng laptop dan pegangannya GPS, di negara kita masih saja mengayunkan cangkul. Tidak heran jika profesi ini semakin hari semakin ditinggalkan. Kebanyakan orangtua petani pun tidak ingin anaknya nanti berprofesi seperti mereka. Bagaimana regenerasi petani bisa dilakukan jika fakta di lapangan seperti itu?

Mungkin tidak pernah mendengar ada anak yang bercita-cita menjadi petani. Umumnya mereka bercita-cita menjadi dokter, polisi, yang penting di kantor, tidak kotor. Kotor identik dengan keterbelakangan. Bahkan mahasiswa Jurusan Pertanian sekalipun ketika lulus memilih menjadi karyawan. Ini menjadi tanda paling sederhana bahwa menjadi petani bukan sesuatu yang diharapkan --bukan profesi prestisius, apalagi menjanjikan.

Kebanyakan petani adalah mereka yang "kalah" dalam persaingan bursa kerja --terpaksa daripada tidak bekerja. Akhirnya kualitas pertanian pun tidak pernah berkembang, karena ilmu yang dipakai tidak pernah di-upgrade. Bertani hanya sekadar menyambung hidup. Tanpa ada keinginan untuk mencari dan melakukan cara lain yang lebih modern.

Data memperlihatkan bahwa jumlah petani setiap tahunnya selalu menurun sekitar 1,1 persen, tanpa ada penambahan yang signifikan di kelompok usia muda. Data BPS dari hasil survei pertanian antarsensus 2018 menunjukkan hampir 70 persen petani adalah kelompok umur 45 tahun ke atas. Berkurangnya jumlah petani juga diikuti dengan luas lahan pertanian yang semakin menyusut setiap tahunnya karena alih fungsi.

Regenerasi sudah lama tidak berjalan, ditambah label di masyarakat tentang petani membuat anak muda maju-mundur untuk menjadi petani. Seorang sarjana pertanian memiliki ilmu tentang bertani, tapi tidak memiliki mental untuk menjadi petani.

Sebenarnya tidak menjadi masalah yang terlalu serius jumlah petani semakin menyusut jika yang tersisa adalah petani yang memiliki keinginan besar dalam bidang pertanian. Orang-orang yang memiliki passion dalam bidang mana pun akan selalu berupaya. Melalui orang-orang seperti ini pertanian akan maju. Tapi, seberapa banyak orang yang memiliki passion di pertanian?

Menjadi tugas kita semua sebagai masyarakat untuk turut mendukung pertanian agar lebih maju. Salah satu caranya dengan menghapus gambaran kurang baik tentang petani. Paling tidak, kita tidak menjadi bagian yang menjatuhkan ketika seorang sarjana yang kata orang sudah sekolah tinggi-tinggi memutuskan untuk menjadi petani. Walaupun sebenarnya gambaran ini muncul lebih dikarenakan ketiadaan bukti petani yang berhasil melalui ilmu dan teknologi. Petani kita masih identik dengan pendidikan rendah dan kemiskinan.

Selama ini gambaran tentang petani adalah mereka dengan pendidikan rendah dan hidup di bawah garis kemiskinan. Walaupun tidak sedikit yang sukses dan menjadi kaya, tetapi kalangan ini pun belum menarik minat generasi muda. Lagi-lagi petani yang sukses ini tidak lebih baik secara pendidikan. Keberhasilan mereka identik dengan kerja keras menggunakan otot. Sehingga terlihat masih kurang keren di mata anak muda.

Tugas untuk menghapus gambaran kurang baik tentang petani akan lebih mudah jika petaninya itu sendiri yang berubah. Salah satunya melalui petani-petani muda yang saya sebutkan tadi. Mereka memiliki kemauan dan passion di bidang pertanian. Mereka menghargai profesi pertanian. Dengan begitu kita berharap beberapa tahun ke depan akan muncul petani-petani sukses yang tentengannya laptop, bukan pacul --yang cara kerjanya dengan penerapan teknologi. Sehingga akan menggugah minat generasi selanjutnya. Maka regenerasi petani diharapkan akan tumbuh.

Pemerintah juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Desa yang maju akan memudahkan petaninya. Desa yang maju adalah desa yang memiliki infrastruktur dasar yang baik, seperti fasilitas jalan yang baik, air bersih yang memadai, dan listrik. Di sinilah pemerintah hadir untuk menyediakan infrastruktur dasar yang lengkap.

Dengan begitu kita berharap di masa yang akan datang akan banyak anak muda yang bercita-cita menjadi seorang petani. Menumbuhkan kembali minat pertanian yang sebenarnya sangat cocok di alam Indonesia. Menumbuhkan semangat berdikari yang sampai hari ini masih menjadi slogan manis pemecut semangat. Sehingga lirik lagu kondang era 1970-an milik Koes Plus, "Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman," tidak sekadar ironi di tanah subur yang hasil pertaniannya sendiri harus impor.

Mila Sulasmaya ASN BPS Brebes


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed