detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 26 Februari 2019, 11:30 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Anisha Dasuki dan Ratapan Petani

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Anisha Dasuki dan Ratapan Petani Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - "Makan nasi adalah dosa besar buat saya," kata Anisha Dasuki. Kepada sebuah media, mbak-mbak yang namanya berkibar tinggi sejak debat capres tempo hari itu menyampaikan sikap politiknya atas nasi. Kontan, sahabat saya Bang Fauzan Mukrim meratap-ratap. "Aduh, masuk neraka dong kita semua, Kak...."

Saya tidak ingin bergabung dengan Bang Fauzan. Namun, orang-orang seperti Mbak Anisha semakin banyak pada saat ini. Tidak makan nasi, dan kalaulah terpaksa makan ya cuma empat sendok, itu pun sekali saja setiap tujuh hari.

Teori-teori kesehatan termutakhir semakin memusuhi nasi. Kurangi makan nasi kalau Anda ingin meraih berat badan ideal. Jangan ragu me-ngepras konsumsi nasi, maka konsentrasi dan tenaga Anda akan meningkat. Tak tanggung-tanggung, bahkan banyak yang menyodorkan paket diet tanpa nasi sama sekali. Bebas makan daging dan lemak, asal tidak dipadu dengan nasi. Makanlah sayur-buah ditambah sekepal tiwul, dan tinggalkan nasi. Dan sebagainya dan sebagainya, saya tak tahu apa nama-nama program dietnya berikut mazhab-mazhabnya yang seringkali bertarung satu sama lain.

Sebenarnya, betapa ingin mulut saya mencibir nyinyir kepada para propagandis anti-nasi itu. Hei, kalau kalian setop menelan nasi, lantas bagaimana nasib para petani?

Sialnya, saya sendiri menyaksikan kawan saya Airlangga Pribadi yang progresif itu rajin makan ayam utuh tanpa nasi. Dan, memang terbukti: tak berselang lama, badan tambunnya melangsing secara ajaib! Mengagumkan sekali!

Saya juga terpana saat mendengar dengan telinga kepala saya sendiri, betapa sahabat saya Puthut EA yang habis bobok tiga hari di rumah sakit itu menolak ajakan makan malam. "Sori, Bro aku nggak makan malam, apalagi nasi." Tentu saja itu karena saran dokternya, dan dokter yang punya otoritas medis itu memang mewajibkan Puthut untuk mengurangi nasi.

Tak puas hanya dengan kasus rekan-rekan saya sendiri, saya coba mengintip Google. Hanya dengan mengetikkan kata kunci "kampanye kurangi nasi", mata saya langsung disodori dengan judul-judul berita dan artikel: Empat Manfaat Mengurangi Makan Nasi Putih bagi Kesehatan; Yuk Kurangi Makan Nasi dan Perbanyak Jalan Kaki; PKK Sukoharjo Gencar Kampanyekan Kurangi Makan Nasi pada Acara Hari Pangan Sedunia; Ayo Kurangi Makan Nasi, Mari Bermanggadong; Kampanye Kurangi Konsumsi Beras Lewat Lomba Cipta Menu; Pemkab Pasaman Barat Ajak Masyarakat Kurangi Konsumsi Nasi; dan, masih banyak lagi.

Meski kebelet nyinyir, akhirnya saya sendiri pun merasakan perut saya yang agak buncit ini mengempis indah kalau porsi nasi saya kurangi. Badan lebih enteng, pikiran ikut enteng, meski beban masa lalu dan dosa-dosa saya belum turut menjadi enteng sebagaimana dosa-dosa Mbak Anisha Dasuki. Wow. Gimana ini?

Dengan perkembangan tren gaya hidup yang konon lebih sehat tanpa nasi, saya malah jadi bingung dengan konsep-konsep ketahanan pangan yang disodorkan para capres-cawapres. Semua masih ingin menggenjot produksi beras. Infrastruktur pangan akan dibenahi, dan infrastruktur yang dimaksud masih dititikberatkan pada urusan beras, dan beras tentu saja akan ditanak menjadi nasi. Buat apa?

Ada lagi yang melontarkan visi meningkatkan kemampuan petani padi, sehingga diharapkan produksi mereka berlipat-lipat lebih banyak lagi. Kalau produksi mereka banyak, lalu petani padi sejahtera, maka dibayangkan bakalan tumbuh regenerasi petani, anak-anak muda mengukir cita-cita sebagai petani, bergiat dengan penuh martabat sebagai petani, dan lagi-lagi semua itu masih berkutat pada menu utama pertanian padi.

Maka saya membayangkan, bagaimana jadinya nanti andai beneran pertanian padi berkembang pesat, namun konsumen dalam negeri justru beramai-ramai meninggalkan nasi, sehingga para petani malah pada gigit jari? "Ealaaah, kami-kami ini lho, disuruh-suruh menggenjot produksi padi, tapi kalian malah pada pergi. Tega banget ih." Bukankah begitu kira-kira keluhan yang mungkin muncul?

Ya ya ya, saya paham kok, bahwa hingga hari ini mayoritas rakyat Indonesia masih sangat tergantung pada nasi. Daerah-daerah yang dulu pemakan singkong, jagung, dan sagu pun sudah telanjur disulap oleh Pak Harto sebagai penyantap nasi. Ketergantungan akan nasi begitu tinggi, tidak mudah diubah begitu saja dalam hitungan hari. Banyak sekali orang yang belum merasa makan kalau belum makan nasi, bahkan meski diam-diam sudah kenyang makan cinta dan makan teman sendiri.

Selain itu, jika kelak ada surplus hebat dari produksi pertanian padi, alias hasil padi kita melimpah namun kita sendiri tidak memakannya, toh kita malah bisa ekspor. Begitu logikanya, dan saya paham itu. Masalahnya, pola yang ideal untuk kedaulatan pangan adalah memproduksi sendiri apa yang kita konsumsi. Bangunan pola produksi-konsumsi seperti itulah yang tahan banting, tidak gampang digoyang ontran-ontran ekonomi global.

Tapi begini. Kalau produksi padi kita berlebih lalu kita ekspor, namun di saat yang sama kita sendiri malah makan mie, roti, atau bahkan singkong yang diam-diam masih impor pula, gimana coba? Itu tak bedanya dengan keajaiban di sektor energi: mengekspor gas alam yang kita miliki dengan amat melimpah, sembari mengimpor minyak besar-besaran. Apa yang sudah kita punyai dengan sangat cukup malah kita jual, sementara di saat yang sama kita mengonsumsi sesuatu yang untuk mendapatkannya kita harus membeli. Aneh, kan?

Sebenarnya, saya juga tidak ingin pusing-pusing amat dengan urusan ekonomi yang besar-besar itu. Tak paham saya dengan semua itu. Kebingungan saya sesungguhnya sesederhana begini: kenapa kita mengajak berjalan ke utara, namun di saat yang sama juga menyuruh berlari ke selatan? Kalau memang ada orientasi serius menuju pelipatgandaan produksi padi, kenapa di saat yang sama dengan gencar dan masif disebarkan kampanye mengurangi makan nasi?

Itu buat Anda kurang lucu? Buat saya kok lucu ya. Nggak tahu sih kalau buat Mbak Anisha Dasuki.

Jangan salah, ideologi anti-nasi saat ini tak lagi berkutat di kelas jetset tajir sebangsa Deddy Corbuzier saja. Coba simak lagi judul-judul berita hasil googling-an saya. Kampanye "Sehari Tanpa Nasi" dicecarkan secara resmi di mana-mana, sampai ke sudut-sudut desa. Bayangkan, di Sukoharjo yang lumbung padi pun, pengurangan konsumsi nasi dikampanyekan di Hari Pangan Sedunia. Di Medan, santer digalakkan lagi tradisi manggadong untuk melawan nasi. Manggadong adalah budaya makan umbi-umbian dalam masyarakat Batak. Pendek kata, kampanye tolak nasi ini bukan lagi konsumsi kaum borjuis perkotaan, melainkan sudah masuk hingga ke lapisan masyarakat terbawah.

Maka, pertanyaan lebih jauhnya, kenapa tidak sekalian janji-janji diobral para capres untuk menggenjot produksi pangan non-padi, sembari tetap digencarkan kampanye massal pengurangan konsumsi nasi? Jika bisa begitu, bukankah mereka tidak perlu membuat saya bingung? Ingat, kebebasan dari rasa bingung adalah bagian dari hak warga negara!

Saya jadi ingat mendiang Profesor Suhardi, Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM. Beliau terkenal dengan sumpahnya untuk tidak memakan segala produk olahan gandum, karena gandum bukan produk pertanian kita.

Pak Hardi pernah punya gagasan keren untuk mengganti tanaman-tanaman hias di tepian jalan dengan aneka tanaman pangan lokal. Jadi, di kiri kanan jalan raya, yang semestinya ditanam bukan bunga, melainkan pohon-pohon singkong, sagu, jagung, dan sebagainya. Dengan demikian, kelaparan tak perlu lagi kita takutkan. Buat apa takut, jika di mana-mana tersedia akses atas bahan pangan? Konsekuensinya, tentu saja lidah dan perut kita harus lepas dari selera tunggal akan nasi, dan membiasakan diri dengan cita rasa ketela dan kawan-kawannya.

Anda mau? Saya dan Mbak Anisha Dasuki sih mau. Tapi sembari menunggu tepian Jalan Malioboro ditanami deretan pohon-pohon sagu, saya pamit mau menikmati mie instan terakhir saya dulu. Maafkan saya, Pak Hardi.

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed