Kolom

Revivalisme Katastrofe Bencana

Mujaddid Muhas - detikNews
Senin, 25 Feb 2019 12:53 WIB
Hunian tetap jenis rumah instan sehat sederhana yang telah dibangun di Desa Akar Akar Bayan
Jakarta -
Bencana gempa bumi yang melanda Pulau Lombok dan sebagian Pulau Sumbawa beberapa waktu lampau, kini tengah pada fase rehabilitasi rekonstruksi. Infrastruktur bangunan yang porak poranda perlahan mulai dibangun, baik fasilitas umum layanan publik maupun rumah hunian tetap (huntap) warga terdampak gempa. Sebelumnya, warga terdampak gempa membangun secara guyub hunian sementara (huntara) dari berbagai bahan puing bangunan maupun bantuan bahan dari pemerintah daerah.

Ada beragam dan banyak instansi pemerintah maupun swasta atau lembaga filantropi sosial kemanusiaan yang turut andil dalam penanggulangan bencana. Di antaranya melalui pemerintah pusat, provinsi/kabupaten/kota, Badan Usaha Milik Negara/Daerah (BUMN/D), perbankan, koperasi, komunitas/paguyuban, jejaring filantropi media, perorangan dan sebagainya. Kesemuanya merevival spirit untuk bangkit bersama melakukan penanggulangan bencana dengan sugesti empati yang holistik.

Bantuan stimulan perbaikan rumah yang diterima warga telah bertuah manfaatnya dalam bentuk pembangunan rumah warga sesuai jenis rumah yang dipilihnya. Tentu saja, melalui lisensi standar rumah tahan gempa yang difasilitasi Fasilitator Pendamping dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Berbagai jenis huntap tahan gempa yang ditawarkan. Mulai dari Rumah Instan Sehat Sederhana (RISHA), Rumah Instan Konvensional (RIKO), Rumah Instan Kayu (RIKA), Rumah Instan Baja Ringan (RISBA), hingga hunian rumah jenis lainnya.

Polanya pun beragam. Ada yang menunggu bantuan stimulan pemerintah cair kemudian membentuk Kelompok Masyarakat (Pokmas) yang bekerja sama dengan Aplikator Penyedia bahan bangunan panel hunian, ada yang dijaminkan oleh konsorsium pengusaha untuk dibangun rumah warga terlebih dahulu, ada pula dengan sistem menerima bantuan dari pihak-pihak lembaga filantropi.

Untuk memastikan lisensi hunian layak dan tahan gempa, proses pendirian huntap dilakukan melalui pendampingan oleh tenaga Fasilitator Pendamping dari PUPR yang dibentuk ad hoc. Fasilitator pendamping menilai hunian pada skala hunian tahan gempa serta berkoordinasi intensif dengan Pokmas bersama Aplikator Penyedia bahan material huntap.

Tak dimungkiri, terdapat kendala-kendala teknis dan berbagai kritikan yang ditujukan pada pemerintah terkait penanggulangan yang mesti responsif dan cepat. Hal demikian dapat diatasi gradual melalui komunikasi dan tindak lanjut lapangan terhadap persoalan-persoalan teknis rehabilitasi rekonstruksi. Kendati belum semua rumah warga telah dibangun, namun seminimalnya warga terdampak gempa tak meratap lagi seperti keadaan-keadaan sebelumnya. Kian lama kian banyak warga yang menempati kembali huniannya: dari hunian tenda pengungsian ke hunian sementara menuju hunian tetap.

Hampir saban Jumat, Pimpinan Daerah Pemda Kabupaten Lombok Utara (KLU) melakukan peletakan batu pertama sebagai petanda kepastian pembangunan huntap warga dari berbagai jenis permintaan yang dipilih oleh warga, melalui kesepakatan bersama Pokmasnya. Amsal yang terjadi di Desa Medana Tanjung, Bupati Lombok Utara H Najmul Akhyar memulai secara simbolis dengan peletakan batu pertama pembangunan jenis Huntap RIKA sejumlah 111 unit, sedangkan jenis Huntap RIKO di Desa Persiapan Babussalam Gangga terdapat 215 unit pada medio Januari (11/1).

Sementara itu, sejumlah 339 unit huntap jenis RIKO lainnya diresmikan di hadapan warga sekitar dan aparatur kecamatan di Desa Senaru Bayan. Adapun jenis RISHA dan RIKA diletakkan batu pertamanya di Desa Akar Akar Bayan berjumlah 524 unit pada akhir Januari (26/1). Jumlah tersebut terus bertambah seiring kian bertambahnya warga yang telah menerima kepastian rekening dan pengurusan teknis bersama Pokmas, Failitator Pendamping, dan Aplikator Penyedia bahan material.

Kini, untuk percepatan pembangunan huntap, khususnya bagi warga terdampak gempa yang telah menerima rekening bantuan stimulan dari pemerintah pusat, dibutuhkan koordinasi yang lebih intensif antara Pokmas dengan Fasilitator Pendamping serta Aplikator Penyedia bahan material bangunan.

Selain itu pula, perekonomian relatif pulih dan relasi sosial serta gejolak psikis publik berangsur-angsur mengalami normalisasi. Senyum warga beriring dengan membaiknya pranata sosial. Netizen pun turut andil berkontribusi positif bagi penanganan dan pemulihan pascabencana. Semisal mengabarkan realita. Sinergi dengan media massa konvensional, membentuk komunitas yang terkelola, melakukan penyampaian edukasi informasi ringan dan bermanfaat. Tentu saja, informasi yang disampaikan adalah informasi realita: tepat dan akurat.

Netizen menginformasikan terkait perkembangan keadaan yang terjadi, dan usul aspirasi kebijakan pemerintah. Pembaharuan informasi mengenai kondisi terkini perkembangan rehabilitasi rekonstruksi, imbauan dari pemerintah daerah, kiprah relawan dan fasilitator pendamping. Agenda kegiatan stakeholders melalui posko yang didirikan terkait rehabilitasi rekonstruksi. Corong media digunakan untuk menyampaikan informasi, menanggapi perkembangan terkini, pesan spirit mitigasi bencana. Media massa dan media sosial sebagai katalis sirkulasi informasi secara berkala.

Tak pelak, nyaris semua unsur bahu membahu membantu penanggulangan pascabencana gempa. Bahwa adanya evaluasi terdapat poin krusial penanggulangan yang masih mengalami "kemampetan", upaya terus diikhtiarkan. Suatu tindakan terap revivalisme terhadap katastrofe bencana yang melanda tiba-tiba memang tidaklah mudah. Sebagaimana diketahui bahwa KLU merupakan daerah yang paling terdampak bencana gempa yang melanda sejak Juli tahun silam.

Hal lainnya, hikmah agung setelah dilanda katasrofe bencana gempa, tak sedikit kita jumpai masyarakat kian kreatif. Membangun huniannya dengan gagasan opsional (mixing). Perpaduan antara hunian tahan gempa yang simpel, bahan daur ulang yang mudah didapat, harga material produksi yang memadai, serta cepat proses penyelesaiannya. Pernah terkendala sebelumnya pada penyediaan berbahan panel beton ringan, tetapi kini telah dapat diatasi berangsur-angsur. Berkat sinergi yang komprehensif antara pemerintah daerah, unsur Babinsa TNI dan Babinkamtibmas Polri, relawan swadaya masyarakat beserta stakeholders lainnya.

Para filantroper luhur relawan turut andil membantu, selain adanya pedoman aturan juklak-juknis penjelas yang disajikan pemerintah, sehingga aspek keselamatan, kenyamanan dan keindahan hunian bersahaja tampak nyata mengindra kita dengan perasaan lega. Bencana memberikan hikmah dan semangat kolektif untuk bangkit kembali menata kehidupan yang lebih baik lagi. Dengan menjaga dan merawat harmoni lingkungan dan alam semesta.

Mujaddid Muhas, M.A Kepala Bagian Hubungan Masyarakat dan Protokol Sekretariat Daerah Kabupaten Lombok Utara

(mmu/mmu)