detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 24 Februari 2019, 12:50 WIB

Jeda

Ilusi Tubuh Perenang

Mumu Aloha - detikNews
Ilusi Tubuh Perenang Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Mari bicara tentang kebahagiaan. Lagi? Kenapa tidak? Ini adalah salah satu tema abadi yang telah menjadi obsesi banyak orang. Ambillah sembarang buku --sejarah, sains, hingga seni merapikan rumah; ujung-ujungnya yang dibicarakan adalah soal kebahagiaan. Kalau tidak percaya, bacalah misalnya Sapiens: A Brief History of Humankind karya Yuval Noah Harari yang selalu dikutip dalam hampir setiap tulisan maupun perbincangan itu.

Lagi pula --kenapa tidak, kembali bicara tentang kebahagiaan, sebab-- di luar sudah banyak yang bicara tentang "copras-capres", pemilu....atau kalau kata penyair Wiji Thukul, "O, pilu, pilu!" Jadi, kita bicara yang ringan-ringan saja dan menyentuh langsung kehidupan keseharian kita. Hasil pemilu mau tak mau tentu saja juga akan mempengaruhi hidup kita, baik secara langsung maupun tidak, tapi biarlah itu menjadi pembahasan para ilmuwan politik dan mereka yang menyebut diri pengamat.

Kita hanya pelaku kehidupan sejati, yang bertungkus lumus dengan berbagai persoalan hidup dari urusan yang remeh-temeh seperti sakit gigi dan patah hati hingga hal-hal rumit seperti pertemanan yang gagal, karier yang mentok, dan cita-cita yang kandas. Politik jelas menaungi itu semua. Tapi, sekali lagi, percayalah, sudah ada yang memikirkannya. Kita tinggal kembali ke soal kebahagiaan.

Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang? Masih mau percaya dengan ungkapan sejuta umat bahwa "bahagia itu sederhana" --yang kedengarannya gagah, tapi sebenarnya tak ada artinya apa-apa itu? Atau, meyakini ungkapan lama bahwa orang yang membicarakan tentang kebahagiaan berarti hidupnya tidak bahagia --omong kosong apa lagi ini?

Ada sebuah cerita....

***

Pada suatu hari...ada...sebatang kayu. Tidak, ini bukan cerita Pinokio. Pada suatu hari, ada seorang bernama Nassim Nicholas Taleb. Pernah dengar? Familiar? Ya, penulis buku terkenal Black Swan itu. Alkisah, karena ingin menghilangkan kelebihan lemak di tubuhnya, dia pun bertekad untuk rajin olah raga. Terbayang beberapa jenis untuk dipilih. Lari, angkat beban, atau bersepeda.

Kemudian terbayang sosok para pelaku olah raga tersebut satu per satu. Pelari terlihat kurus kering dan menderita. Binaragawan kelihatan lebar dan tolol. Pengendara sepeda? Oh, terlalu berat untuk pantat! Hingga akhirnya terbayanglah sosok seorang perenang. Dengan tubuh yang tegap, langsing, dan berlekuk indah, perenang kelihatan menarik baginya.

Taleb pun memutuskan untuk mendaftarkan diri sebagai anggota di sebuah kolam renang setempat, dan akan berlatih dengan keras dua kali seminggu. Tidak berapa lama kemudian, sebagai seorang yang biasa berpikir kritis, ia menyadari bahwa dirinya telah terjebak dalam ilusi. Para perenang itu, apalagi perenang profesional, tidak mendapatkan tubuh yang sempurna karena mereka berlatih keras.

Sebaliknya, mereka menjadi perenang yang baik karena kondisi fisik mereka. Bentuk tubuh adalah faktor untuk seleksi, dan bukan hasil dari kegiatan mereka. Sama halnya dengan model-model perempuan yang mengiklankan produk kosmetik pemutih kulit, yang diperlihatkan berubah lebih putih dalam enam minggu, sehingga banyak konsumen perempuan yang percaya bahwa produk tersebut bisa membuat hal yang sama pada mereka.

Yang benar saja! Bukan kosmetik yang membuat model-model itu menjadi lebih putih. Bahkan, bukan kosmetik yang membuat mereka menjadi model. Tak perlu memiliki kecerdasan luar biasa untuk tahu bahwa para model itu memang dilahirkan cantik, putih, menarik, dan oleh alasan itulah mereka menjadi model iklan kosmetik atau pun pemutih kulit. Seperti tubuh para perenang, kecantikan adalah faktor seleksi, dan bukan hasil.

***

Setiap kali kita salah memahami antara "faktor seleksi" dan "hasil", kita menjadi korban --apa yang disebut Taleb-- ilusi tubuh perenang. Tanpa ilusi ini, bisa dipastikan hampir separo dari iklan tidak akan manjur. Namun, menurut Rolf Dobelli dalam The Art of Thinking Clearly, bias ini tak sekadar berhubungan dengan kondisi fisik tubuh. Sebagai contoh, institusi pendidikan yang memiliki reputasi bagus dan dianggap terkemuka biasanya banyak melahirkan lulusan yang sukses dan bahkan mungkin terkenal.

Tapi, apakah itu berarti bahwa institusi pendidikan tersebut memang benar-benar bagus? Bisa iya, bisa juga tidak. Yang jelas, untuk masuk dan bisa diterima di institusi pendidikan yang dianggap bagus tersebut, harus melalui seleksi yang ketat. Sekali lagi, kita melihat ilusi tubuh perenang bekerja: faktor seleksi tertukar dengan hasilnya. Jadi, bagi para lulusan SMU yang nanti akan mencari universitas, pertimbangkan baik-baik hal ini.

Para motivator ketika menyinggung tema kebahagiaan biasanya akan melontarkan ungkapan populer ini: Anda harus melihat gelas setengah isi, dan bukannya setengah kosong." Siapapun yang mengatakan itu, sepertinya tidak menyadari bahwa orang-orang yang bahagia memang terlahir bahagia dan cenderung melihat sisi positif dalam segala hal.

Psikologi positif, cabang dalam psikologi yang mempelajari rasa puas dan pemenuhan diri, mengungkapkan bahwa 50% rasa bahagia ditentukan secara genetis, dan hanya 10 persen oleh keadaan dan situasi hidup --sisanya 40% oleh tindakan kita sendiri. Menurut banyak penelitian mutakhir lainnya di bidang yang sama ditemukan bahwa keceriaan, yang merupakan salah satu manifestasi dari orang yang bahagia, adalah ciri kepribadian yang konstan sepanjang hidup seseorang.

Itulah sebabnya, pemenang lotre hanya bahagia dalam waktu yang sesaat. Demikian pula kebahagiaan yang dirasakan oleh atlet yang memenangkan pertandingan. Saat diwawancarai setelah menjuarai ajang Wimbledon 1992, petenis Ande Agasi menyatakan bahwa ia telah mempelajari sesuatu yang jarang diketahui orang lain: bahwa rasa bahagia setelah memenangkan suatu pertandingan tidaklah sekuat rasa putus asa setelah kekalahan. Dan, kegembiraan setelah kemenangan itu bertahan hanya sebentar dibanding penderitaan yang harus ditanggung setelah mengalami kekalahan telak.

Kebahagiaan bukanlah keadaan yang kita "menangkan" setelah memenuhi syarat-syarat, kriteria-kriteria, standar-standar, atau pun ideal-ideal tertentu. Atau, seperti ditegaskan oleh dua ahli ilmu sosial, David Lykken dan Auke Tellegen, "Berusaha untuk menjadi lebih bahagia sama sia-sianya seperti berusaha untuk menjadi lebih jangkung."

Ilusi tubuh perenang adalah sebuah ilusi diri. Di tangan para motivator, ilusi ini bisa berbahaya. Itulah sebabnya kita perlu menjaga jarak dari saran dan nasihat para penulis dan pakar pengembangan diri. Hindari buku-buku "kiat" yang memberikan jurus-jurus "instan". Bagi kebanyakan orang, berbagai "nasihat" itu mungkin tidak membantu. Tapi, mereka --orang-orang yang gagal atau tidak bahagia itu-- tidak pernah menulis buku tentang keadaan mereka, sehingga fakta itu tetap tersembunyi.

Setiap hari kita dibujuk oleh iklan (cara enak menurunkan kolesterol, cara mudah menurunkan berat badan), disodori berbagai penawaran (kredit tanpa agunan, rumah DP nol persen, pengobatan tanpa operasi), dan dibuai janji-janji politik (SIM seumur hidup, penghapusan pajak ini-itu, lapangan kerja, membangun tanpa utang, mandiri tanpa impor). Waspadalah untuk setiap rayuan demi mendapatkan hal-hal tertentu --perut rata bak papan penggilesan, pendapatan lebih tinggi dengan usaha lebih santai, bisnis tanpa modal, kebebasan finansial, penampilan sempurna, hingga kebahagiaan. Kau mungkin terjebak ilusi tubuh perenang.

Sebelum memutuskan untuk terjun, pandanglah bayanganmu di permukaan air. Jujurlah tentang apa yang kau lihat. Pikirkan kembali apa yang kau inginkan. Tidak ada cara untuk bahagia. Bahagia adalah caranya. Kita tidak "menjadi" bahagia. Tapi, kita senantiasa bisa "merasa" bahagia. Kencangkan tali celana renangmu. Meluncurlah. Selebihnya, biarkan Hukum Archimedes bekerja, membuat tubuhmu mengambang, tanpa beban, ringan, melayang....

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com