DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 20 Februari 2019, 15:02 WIB

Mimbar Mahasiswa

Tanjakan Curam Harga Jagung

Fatimah Zahra - detikNews
Tanjakan Curam Harga Jagung Foto: Dok. Kementan
Jakarta -

Jagung merupakan salah satu komoditas yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Jagung sebagai pakan ternak unggas digiling menjadi campuran konsentrat ternak ruminansia. Jagung juga merupakan salah satu bahan pangan pokok yang dikonsumsi di Indonesia. Pemerintah Indonesia sendiri masih memberlakukan impor jagung untuk memenuhi kebutuhan pakan dan pangan di Indonesia.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah impor jagung pada 2018 mencapai 737,22 ribu ton senilai 150,54 juta dolar AS. Indonesia mengimpor jagung paling banyak dari Argentina sebanyak 326,58 ribu ton dan Brazil 222,57 ribu ton. Jagung untuk pakan ternak diimpor dalam dua tahap; pertama 100 ribu ton dan kedua 30 ribu ton. Kebutuhan pakan ternak mencapai 7,76 juta ton pipil kering, dan peternak mandiri membutuhkan 2,52 juta ton pipil kering jagung.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyatakan bahwa selain melakukan impor, Indonesia juga mengekspor jagung sebanyak 380 ribu ton ke Malaysia dan Thailand. Impor jagung pada 2019 ini direncanakan pada Januari hingga Februari, paling lambat pertengahan Maret. Hal ini dikarenakan Maret adalah masa panen jagung. Impor belum terlaksana pada Januari, dan jika hingga Februari ini tidak segera datang stok jagung, maka harga bisa naik dan harga pakan ternak menjadi tinggi.

Impor jagung tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya pada Maret. Adanya masa panen menyebabkan stok jagung dalam negeri banyak dan bisa menyebabkan penumpukan stok. Adanya penumpukan stok dapat menyebabkan harga jagung turun di bawah Rp 3.000. Hal ini akan merugikan petani jagung lokal.

Pemerintah melakukan impor karena kurangnya ketersediaan jagung dalam negeri. Beberapa daerah di Indonesia merupakan daerah penghasil jagung seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Lampung. Di daerah-daerah tersebut juga terdapat pabrik pakan dengan bahan jagung. Namun, ada beberapa daerah yang memiliki keterbatasan sumber jagung untuk diolah menjadi pakan seperti Banten, DKI Jakarta, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan padahal di daerah-daerah ini terdapat pabrik pengolah pakan.

Untuk mengatasi ketimpangan persebaran jagung, maka daerah non sentra jagung harus mengambil sumber jagung dari daerah yang memiliki sumber jagung. Namun, tentu saja biayanya tidak murah dan prosesnya tidak mudah. Beberapa daerah harus melewati jalur darat yang memakan waktu dan menghabiskan banyak anggaran produksi. Tingginya biaya produksi menyebabkan harga pakan ternak menjadi naik. Selain itu, keterbatasan lahan dan sumber daya manusia menyebabkan stok jagung di Indonesia tidak mampu mencukupi kebutuhan permintaan jagung untuk pakan.

Impor memang dapat mencukupi kebutuhan jagung dalam negeri, namun fluktuasi rupiah terhadap dolar AS menyebabkan harga jagung kembali naik. Pada Oktober 2018 nilai tukar rupiah terhadap dolar mencapai Rp 15.200. Menurut Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT), harga jagung untuk bahan pakan naik menjadi Rp 5.000-6.000 per kilogram padahal harga normal jagung Rp 3.700-Rp 3.800 per kilogram. Kebutuhan jagung pada pakan mencapai 50-55% dari total pakan ternak.

Tingginya harga jagung menyebabkan petani menurunkan konsumsi jagung menjadi 35-40%. Produksi pakan ternak 2018 diproyeksikan mencapai 19,4 juta ton, namun karena adanya penurunan konsumsi jagung, angka tersebut turun di bawah 7 juta ton. Tahun ini diproyeksikan produksi pakan ternak mencapai 20,6 juta ton.

Naiknya harga jagung pakan di kalangan peternak juga disebabkan karena panjangnya rantai distribusi jagung. Harga jagung dari petani di Cianjur Rp 3.500-4.000 per kilogram. Harga jagung di Tanah Karo Rp 4.000-4.200 per kilogram, jagung dijual pada umur 4,3-4,5 bulan. Namun, setelah sampai di tangan peternak harga tersebut bisa naik hingga mencapai Rp 5.000-6.000 per kilogram. Hal ini dikarenakan jagung dijual melalui para tengkulak sehingga harga naik dan bisa mencapai dua kali lipat dari harga awal dari petani.

Kenaikan harga pakan dapat menyebabkan biaya produksi tinggi. Tingginya biaya produksi bisa menyebabkan hasil ternak seperti daging, susu, dan telur menjadi naik akibatnya banyak peternak yang rugi dan bisa terjadi kelangkaan produk ternak.

Indonesia masih memiliki lahan yang bisa dan layak untuk ditanami jagung. Perbaikan sumber daya manusia juga diperlukan sehingga mampu mengolah jagung yang kualitasnya tidak kalah dibanding produk jagung pakan dari luar negeri. Jagung impor cenderung memiliki kadar air yang lebih stabil dibanding jagung lokal dan dijual dalam keadaan yang sudah kering sehingga daya simpan jagung lebih lama.

Perbaikan transportasi untuk mengangkut produksi jagung pakan dari satu daerah ke daerah lain juga diperlukan sehingga biaya transportasi dapat dikurangi dan biaya produksi menjadi tidak terlalu tinggi. Peternak tidak perlu mencemaskan harga pakan ternak yang melambung tinggi dan tidak akan terjadi kenaikan harga produk peternakan. Perbaikan rantai distribusi juga perlu dilakukan.

Bulog sebagai lembaga pemerintah yang mengatur persebaran komoditas jagung perlu mengatur dan memperpendek rantai distribusi sehingga biaya jagung yang sampai pada peternak tidak terlalu tinggi, namun juga tidak merugikan petani sebagai produsen jagung. Perbaikan tidak hanya dilakukan pada sisi infrastruktur, namun juga sumber daya manusia dan sistemnya.

Fatimah Az Zahra Chairunissa mahasiswa Fakultas Peternakan UGM


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed