DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 19 Februari 2019, 20:16 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Kiat Jitu Memahami Baliho Para Caleg

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Kiat Jitu Memahami Baliho Para Caleg Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - Menonton debat memang jadi salah satu cara untuk memahami visi-misi para capres-cawapres. Meskipun mungkin pilihan final akan dijatuhkan secara emosional saja alih-alih rasional, minimal ada pengetahuan objektif tentang visi. Lumayan, kan? Sialnya, mabuk copras-capres ini membuat kita lupa bahwa pada waktu yang sama nanti kita harus nyoblos juga tiga anggota legislatif.

Pertanyaannya, dari mana kita bisa tahu visi-misi para caleg? Jawabannya amat menyedihkan: dari baliho, poster, dan spanduk yang bikin gatal mata itu! Ya, memang cuma dari situ! Ngenes.

Saat kerja bakti membangun pagar makam tiga pekan lalu, saya sempat bertanya ke beberapa bapak warga kampung. Siapa yang sudah masuk ke sini, Pak? Caleg mana saja yang sudah menjanjikan ini-itu? Caleg partai mana yang sudah menyumbangkan sak-sak semen untuk perbaikan jalan kampung, atau memberikan bantuan pengadaan alat-alat olah raga untuk muda-mudi karang taruna?

Biasanya, dengan "politik bantuan" (karena istilah "politik uang" sudah terdengar terlalu jijay), nasib para caleg di kampung kami ditentukan. Tidak ada paksaan sih, semua tetap bebas memilih. Namun, rata-rata para warga sudah pada TST alias tahu sama tahu, gitu. Anehnya, pada musim kali ini, belum ada satu pun caleg yang nongol. Ini tumben-tumbenan sekali, dan menyisakan satu PR yang terlalu berat untuk kami yang tidak punya pergaulan luas ini. Siapa yang harus kami coblos? Untuk sekadar nyoblos partai, kami sudah tidak percaya partai. Partai akan sibuk mengurusi diri mereka sendiri. Tapi kalau figur, orang yang kami kenal, atau orang yang sudah sering berinteraksi dengan kami misalnya guru-guru ngaji, atau minimal orang yang sudah nge-drop bantuan ini-itu ke kampung kami, tentu agak beda.

Berangkat dari kegalauan kolektif warga kampung, saya ingin memberikan sedikit sumbangsih yang akan membuat para tetangga saya tak perlu repot-repot mikir. Saya bertekad melakukan pembedahan ilmiah atas visi dan misi para caleg yang menawarkan diri mereka untuk kami pilih. Maka, pagi kemarin, sambil bersepeda motor mengantarkan anak saya ke sekolah, saya amati baik-baik tawaran-tawaran politik dari tampang-tampang berpipi halus yang mejeng di pinggir-pinggir jalan itu.

***

Pertama kali motor saya dihentikan oleh lampu merah perempatan Gapura Kasongan. Ini momen yang cocok untuk melakukan eksplorasi.

Di sebelah kanan, langsung tampak baliho yang melintang di separuh jalan di atas kepala. Seorang pemuda berbaju paramiliter, lengkap dengan baretnya, bergaya di sana. Di samping tangannya yang terkepal, berderet tiga kata mencolok: "Cerdas, Tegas, dan Berani". Hmmm. Oke. Saya sama sekali tidak tahu bagaimana cara membuktikan kecerdasannya, ketegasannya, juga keberaniannya. Tapi biarlah, kalau dia memang percaya bahwa dirinya begitu. Yang jadi pertanyaan saya justru adalah: untuk apa kecerdasan, ketegasan, dan keberaniannya?

Tiga hal yang dia sajikan itu adalah deretan potensi (lagi-lagi: kalau memang benar dia punya potensi itu). Masalahnya, sebuah potensi hanya akan jadi potensi kalau ia tidak diarahkan menuju sepaket aksi. Lah, aksi yang akan dia jalankan kalau berhasil mewakili kami di gedung dewan itu apa? Kok nggak disampaikan? Jadi, dia ini cuma mau pamer potensi, gitu? Yang kami butuhkan adalah visi dan misi, alias dia mau apa. Kalau kami tidak paham dia mau apa, jangan-jangan tiga potensi kebanggaannya itu malah cuma akan dipakai buat ngibulin kami, ha? Iya, kan?

Ketajaman sebuah pisau itu potensi. Potensi itu bisa dipakai untuk memotong bawang, mengupas mangga, namun bisa juga dioptimalkan faedahnya untuk menusuk perut orang. Yang mana yang mau dijalankan? Kan begitu analoginya, to?

Saya juga jadi ingat sebuah diskusi bersama The Legend Pak Roem Topatimasang, penulis buku klasik Sekolah Itu Candu. Pak Roem berbicara tentang bonus demografi. Jadi, bonus demografi itu terjadi ketika ada ledakan jumlah penduduk usia produktif, yaitu warga negara berumur 15 hingga 64 tahun. Kita senang dengan bonus demografi itu, tanpa mempertanyakan: apa yang dilakukan para penduduk usia produktif itu? Bukankah itu yang paling penting?

Usia produktif itu potensi. Aksinya adalah produksi. Kalau yang produktif cuma usianya saja tapi tidak berproduksi, ya potensi itu akan muspra belaka. Sementara, banyak pemuda menunggu lulus kuliah dulu baru aktif berproduksi. Sebelum lulus, mereka mengisap kekuatan ekonomi orangtua, menjadi tanggungan kampus tempat belajar, dan belum memberikan apa-apa bagi masyarakat di sekitar. Bila lulusnya baru di umur 25, artinya selama 10 tahun pertama di atas kertas mereka bagian dari bonus demografi, namun secara de facto mereka adalah beban demografi!

Begitulah cara memahami potensi. Sebenarnya, potensi tidak layak dipamerkan jika tidak disertai dengan rencana aksi. Ini juga yang bikin saya terkekeh setiap kali melihat baliho dan poster-poster caleg lainnya. Salah satunya di lampu merah Ring Road Jalan Parangtritis. Di sana mejeng sosok anak muda berkacamata yang periode lalu sudah jadi anggota legislatif pusat. Saya ingat, almarhum ketua umum partainya sempat ngomel-ngomel ke anak itu, karena dia menang suara tanpa pernah nongol kampanye, dan karenanya Pak Ketum yang bersahaja itu justru tersingkir.

Nah, tiga potensi yang ditampilkan anak itu adalah: "Jujur, Muda, Terpercaya". Dua poin awal dan akhir tak usah dibahas, sama saja dengan yang di atas tadi. Saya lebih tertarik dengan poin "muda". Kemudaan selalu ditempatkan seolah menjadi garansi kualitas. Di saat yang sama, uzurnya usia selalu dikaitkan dengan kelambanan, mutu personal yang tak lagi menjanjikan, ibarat produk konsumsi yang sudah kedaluwarsa.

Faktanya, usia muda bukan jaminan apa-apa, Bung! Empat tahun silam, Ketua KPK pernah menyajikan fakta bahwa banyak sekali koruptor berusia muda. Dua tokoh legendaris yang disebut-sebut oleh Mas Ketua KPK waktu itu, yakni Muhammad Nazaruddin dan Angelina Sondakh, melakukan korupsi sebelum usia 35. Bahkan, Gayus Tambunan menumpuk kekayaan haram di kala umurnya baru 25! Betul: dua puluh lima tahun!

Lantas, di mana pentingnya usia muda? Apa yang bisa dijanjikan dengan kemudaan? Kenapa poin "muda" selalu dibangga-banggakan?

Ya sudah, kita tinggalkan anak berkacamata yang bangga sekali karena masih muda tanpa mengatakan apa yang akan dia lakukan dengan kemudaannya itu. Lebih baik kita beralih ke tokoh-tokoh lain yang menyajikan hal-hal konkret, lebih di atas pamer potensi.

Saya berjumpa dengan satu spanduk merah, dengan huruf besar-besar: "Mas Didik Siap Melayani". Mas Didik tentu nama samaran saja, nggak enak kalau pakai nama asli. Nah, ini. Ini dia. Mas Didik bukan cuma pamer potensi. Dia sudah lebih jelas lagi dalam menyampaikan apa yang akan dia lakukan: melayani! Inilah jawaban dari segenap pertanyaan yang saya tumpuk-tumpuk di atas tadi. Allahu Akbar!

Hampir saja saya ambruk sujud syukur karena menemukan caleg yang mantap. Namun tiba-tiba saya urungkan niat suci saya. Tunggu, tunggu. Melayani? Siap melayani? Melayani siapa? Kok tidak disampaikan? Jangan-jangan...melayani investor? Melayani cukong yang meng-cover semua biaya kampanye Mas Didik, sehingga nantinya seluruh masa bakti cuma akan habis untuk berbakti dan melayani pemodal dengan urusan konsesi-konsesi? Waduh waduh. Saya tak berani ambil risiko dengan terbius begitu saja oleh kata "melayani".

***

Kita kembali lagi ke perempatan Gapura Kasongan. Di sudut sebelah kiri, persis di belokan, berdiri berdampingan dua baliho kecil yang tampak dipasang asal-asalan. Salah satunya sesosok anak muda tampan tampak tersenyum ramah, tanpa peduli senyum ramahnya tak terlalu digubris orang yang berbelok dari Jalan Bantul ke Jalan Kasongan.

Lelaki muda yang ini, saya tahu, maju nyaleg bersama tiga saudaranya. Empat caleg dalam satu rumah. Borongan. Luar biasa kompak cieee. Dalam keluarbiasaannya itu, tentulah dia bisa menawarkan sesuatu yang menggiurkan dan memantapkan harapan di hati para calon pemilihnya. Pasti.

Maka, saya perhatikan baik-baik deretan kata mutiara yang bertengger manis di atas foto gantengnya: "Diparingi sehat kudu manfaat." Hmmm, menarik sekali. Benar-benar bijaksana. Deretan kata berbahasa Jawa itu bermakna "Karena dikaruniai kesehatan, maka harus (jadi orang yang) bermanfaat". Guuud.

Tapi, tunggu dulu. Apa pentingnya kalimat itu bagi para calon pemilih, Mas? Bahwa siapa pun yang diberi anugerah kesehatan harus menjadikan kesehatannya itu membawa manfaat bagi alam semesta dan sekitarnya, tentu saja semua sepakat. Pertanyaannya, apa yang bisa kami dapatkan dari slogan arif bijaksana yang satu itu? Sampeyan itu nyaleg. Biar sampeyan dipilih, maka warga semestinya tahu apa rencana sampean kalau sudah jadi aleg. Ya to? Lah ini, kami ini sudah nggak paham rencana-rencana sampean, eh malah disodori slogan common sense yang semua orang pasti setuju, dan sifatnya lebih cocok disampaikan untuk diri sendiri alih-alih untuk warga calon pemilih.

Semoga sampean paham maksud saya, Mas. Semboyan "Diparingi sehat kudu manfaat" itu lebih pas kalau sampeyan ucapkan sendirian di depan cermin setiap habis salat Subuh, sebelum jogging pagi. Ucapkan saja "Diparingi sehat kudu manfaat, diparingi sehat kudu manfaat, diparingi sehat kudu manfaat..." sampai 77x, karena kalimat itu cocok untuk memotivasi diri sendiri, dan bukan untuk menawarkan sesuatu kepada ribuan calon pemilih. Begitu, kan?

Saya sudah hampir putus asa, namun motor tetap saya gas ke arah utara. Tibalah saya di lampu merah Dongkelan.

Dari kejauhan, saya sudah bisa memandang baliho super-jumbo itu. Mbak-mbak cantik berjilbab tersenyum manis di sana, serasa memanggil-manggil saya. Saya kuatkan iman saya agar tidak salah fokus, lalu kembali saya berkonsentrasi untuk mencermati slogannya. "Insyaallah Amanah." Begitulah bunyinya.

Tawa saya nyaris meledak. Sungguh saya tak habis pikir. Bagaimana bisa mbak-mbak berjilbab itu meminta dirinya untuk dipilih sebagai anggota legislatif, namun slogan promosi yang dia sajikan adalah: "Insyaallah amanah"? Lho, amanah kok insyaallah? Gimana to ini? Kalau dia sendiri tidak yakin apakah dirinya amanah, kok bisa nyuruh-nyuruh kita buat yakin sama dia? Hoalaah....

Begini lho maksud saya. Insyaallah itu kan maknanya jika Tuhan mengizinkan. Itu konsekuensi orang beriman, yang tidak yakin apakah sesuatu yang diikhtiarkan bakal berhasil. Setiap rencana selalu memiliki keterbatasan. Karena umur, sebab bisa jadi nanti malam kita mati. Karena terbatasnya kemampuan, sebab manusia adalah makhluk lemah.

Maka, kalau mau berencana, ucapkan "insyaallah". "Insyaallah saya sowan ke semua kampung basis konstituen saya minggu depan." Bisa juga "Insyaallah saya akan memuaskan seluruh pemilih saya." Itu masuk akal. Bisa jadi sebelum minggu depan ada halangan, masuk angin atau apa, sehingga batal berkunjung ke kampung konstituen. Bisa jadi pula si caleg yang sudah jadi aleg total bekerja keras, tapi karena keterbatasan tenaganya, kemampuannya, juga keterbatasan efektivitas lobi-lobinya, ternyata pemilihnya tidak sepenuhnya puas.

Itu semua beda dengan amanah. Amanah itu kondisi moral personal. Dia tidak tergantung dengan rencana-rencana. Kalau Anda bukan seorang yang berniat berkhianat, tidak pernah berkhianat, maka Anda amanah. Kalau Anda tidak suka berdusta, maka Anda jujur. Sama juga, kalau Anda percaya kepada Tuhan, maka Anda beriman. Konsekuensinya, tidak pas kalau Anda bilang "Insyaallah saya beriman." Lha wong iman itu kondisi, bukan rencana. Demikian juga sifat jujur dan amanah. Keduanya pun kondisi, bukan rencana.

Lha kalau buat jadi insan yang amanah saja kok masih insyaallah, alias belum cukup yakin apakah amanah atau tidak, lha gimana kami-kami ini Anda buat yakin? Huuu!

***

Saya masih punya belasan materi analisis filosofis atas slogan-slogan para caleg yang tersebar di ratusan baliho, poster, dan spanduk. Tidak perlu saya ceritakan semuanya, karena tak ada satu pun yang membuat saya paham visi, misi, rencana, dan orientasi mereka. Kepada tetangga-tetangga saya para warga kampung, saya cuma mau berpesan agar mereka menunggu saja sampai masa pasangnya selesai, lalu spanduk-spanduk itu biar diambil saja buat tenda warung pecel lele.

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed