DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 18 Februari 2019, 11:30 WIB

Kolom

"Logos" Jokowi dan "Pathos" Prabowo di Debat Kedua

Iding Rosyidin - detikNews
Logos Jokowi dan Pathos Prabowo di Debat Kedua Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Debat calon presiden (capres) kedua telah berlangsung Minggu (17/2) malam. Dibandingkan dengan debat pertama, debat kali ini tampak sudah memiliki kemajuan. Pertanyaan atau kisi-kisi tidak lagi diberitahukan kepada peserta debat, dalam hal ini Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto. Keduanya hanya diminta mengambil soal secara diundi yang sudah dibuat oleh tim panelis.

Baik Jokowi maupun Prabowo telah berhasil menuntaskan debat yang membahas tentang lima isu strategis. Kelima isu tersebut adalah infrastruktur, energi, pangan, sumber daya alam, dan lingkungan hidup.

Seperti biasa, masing-masing pendukung capres mengunggulkan jagoannya. Tanpa melihat pada bagaimana berjalannya perdebatan dan kemampuan capres dukungannya dalam menjawab isu-isu yang ditanyakan, mereka tetap mendukungnya dengan sepenuh hati. Tetapi, hal itu merupakan sesuatu yang lazim dalam politik.

Logos versus Pathos

Terlepas dari penilaian masing-masing pendukung yang cenderung subjektif, tulisan ini berusaha untuk melihat kelebihan dan kekurangan dari setiap capres saat berdebat untuk yang kedua kalinya ini. Pada Jokowi, misalnya, tampak jelas keunggulannya dalam aspek logos. Sebaliknya, Prabowo lebih menonjol dalam aspek pathos.

Menurut teori retorika Aristoteles, seperti dijelaskan Richard West dan Lynn H Turner dalam Introduction to Communication Theory (2008), logos lebih menitikberatkan pada argumentasi logis yang berbasis data dan fakta. Orang yang memiliki kemampuan logos dengan baik biasanya akan bisa menjelaskan suatu persoalan dengan baik.

Hal itulah yang diperlihatkan Jokowi pada debat tadi malam. Dalam setiap isu yang menjadi objek perdebatan, mantan Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta tersebut selalu berupaya menjelaskan isu yang ditanyakan dengan menyertakan data. Ini tentu banyak membantunya dalam memberikan pemahaman yang jelas kepada publik.

Selain itu, penjelasan dengan menonjolkan aspek logos tersebut seperti yang diperlihatkan Jokowi biasanya akan lebih meyakinkan orang lain. Dan, pada saat yang sama, karena mampu berbicara secara detail, ia bisa memberikan indikasi bahwa orang yang bersangkutan memiliki penguasaan terhadap masalah dan kemampuan untuk menyelesaikan.

Tetapi, Jokowi memiliki kelemahan dalam aspek artikulasi. Komunikasi verbal dan non verbal capres dengan nomor urut 01 tersebut cenderung datar. Meski mempunyai intonasi suara yang berat, dan itu sebenarnya penting ketika seseorang berpidato, tetapi tanpa dibarengi artikulasi yang baik, akan terasa kurang greget.

Sementara, pathos berkaitan dengan imbauan psikologis. Di sini seorang pembicara yang memiliki pathos yang baik, biasanya akan mudah membangkitkan emosi khalayak. Itulah yang terlihat dari Prabowo. Sebenarnya bukan hanya pada debat kali ini saja, dari sebelum-sebelumnya capres dengan nomor urut 02 ini memang sangat kuat dalam aspek pathos.

Kalau berpidato, Prabowo bisa cukup mudah membangkitkan emosi khalayaknya. Hal itu ditunjang oleh kemampuan artikulasinya yang baik. Intonasi suaranya sangat membantunya untuk tampil seperti itu. Pada masa lalu, pemimpin Indonesia yang sangat kuat dengan unsur pathos-nya adalah Sang Proklamator Sukarno.

Pada sisi yang lain, orang yang memiliki keunggulan dalam hal pathos biasanya kurang menguasai aspek logos. Tentu tidak semua orang seperti itu, ada juga yang memiliki kemampuan kedua-duanya dengan sama baiknya. Dalam hal ini, Prabowo termasuk yang memiliki pathos yang baik, tetapi kurang di logos.

Itulah kenapa Prabowo tampak kesulitan menjelaskan sesuatu. Misalnya, ketika mengatakan bahwa ia memiliki strategi yang berbeda dengan Jokowi, namun tidak membarengi dengan penjelasan rincinya seperti apa strategi yang akan dilakukannya.

Misalnya, ketika Prabowo menjelaskan mengenai ekonomi untuk rakyat. Ia menjelaskan bahwa timnya memiliki strategi yang berbeda dengan Jokowi. Timnya berpedoman pada Pasal 33 UUD 1945. Kemudian ia mengakhiri penjelasannya dengan "bukan rakyat untuk ekonomi, tetapi ekonomi rakyat".

Siapa yang Terpengaruh?

Ungkapan seperti yang disampaikan Prabowo di atas memang cukup bisa membangkitkan khalayak. Rakyat biasanya begitu mudah tersentuh kalau mendengar ungkapan-ungkapan semisal "untuk rakyat", "demi rakyat", dan seterusnya. Pertanyaannya, khalayak manakah yang akan lebih terpengaruh oleh hal tersebut?

Kalau kita berbicara tentang pemilih, sebenarnya yang akan lebih dapat dipengaruhi oleh debat itu adalah pemilih-pemilih rasional, terutama mereka-mereka yang masih belum menentukan pilihan (undecided voters) dan yang masih ragu atau mengambang untuk menjatuhkan pilihannya (swing voters). Sementara, pemilih tradisional mungkin tidak terpengaruh.

Secara spesifik dapat dikatakan bahwa pernyataan-pernyataan capres yang lebih menonjolkan aspek logos akan lebih berpengaruh terhadap para pemilih yang belum memutuskan pilihan dan masih mengambang. Mereka biasanya akan menunggu terus sampai menjelang hari pemilihan, sehingga yakin betul dengan gagasan dan program yang ditawarkan capres.

Sedangkan, pernyataan-pernyataan capres yang bernada pathos mungkin hanya akan mempengaruhi para pemilih tradisionalnya saja. Mereka akan semakin kuat menjatuhkan pilihannya kepada capres tersebut. Tetapi, para pemilih rasional dengan kedua jenis yang disinggung di atas kemungkinan besar tidak terpengaruh banyak.

Demikianlah kesimpulan yang bisa didapat dari debat capres kedua tadi malam. Masih ada debat-debat capres berikutnya. Tentu masing-masing tim perlu mengevaluasi lagi penampilan yang telah diperlihatkan oleh capresnya. Sebagai publik kita berharap, akan ada terus peningkatan dalam debat berikutnya, baik secara format maupun penampilan peserta debat itu sendiri.

Iding Rosyidin Pengurus Pusat Asosiasi Program Studi Ilmu Politik (APSIPOL) Indonesia, Kaprodi Ilmu Politik FISIP UIN Jakarta


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed