DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 18 Februari 2019, 09:57 WIB

Kolom Kang Hasan

Merecoki Pendidikan Anak

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Merecoki Pendidikan Anak Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Seorang pengelola sekolah swasta mengeluh pada saya soal perilaku para orangtua murid di sekolahnya. "Mereka terlibat dalam urusan pendidikan anak," katanya.

"Apa masalahnya kalau mereka terlibat? Kan bagus kalau orangtua terlibat," tanya saya memeriksa ulang pernyataannya.

Lalu dia bercerita. Kalau anak-anak diberi tugas, orangtua mereka yang lebih sibuk untuk turut campur dan mengerjakan. Misalnya, anak-anak diberi tugas membuat projek sains. Pihak sekolah berharap anak-anak mengusahakannya dengan kemampuan mereka sendiri, meski hasilnya adalah sesuatu yang sederhana. Tapi, para orangtua tidak bisa diam. Mereka ingin membuat sesuatu yang hebat, yang secara nyata bisa dinilai bahwa hasil itu tidak mungkin dikerjakan oleh anak-anak.

Demikian pula kalau ada kegiatan lain, misalnya hari pasar, di mana anak-anak belajar mengenal proses jual beli. Sekolah ingin agar anak-anak berpartisipasi dengan kemampuan mereka sendiri secara sederhana. Lagi-lagi para orangtua yang heboh menyiapkan hal-hal yang hebat.

"Kami sudah sering ingatkan kepada para orangtua bahwa kegiatan ini adalah latihan dan proses belajar bagi anak-anak. Karena itu mereka harus mengerjakannya secara mandiri. Tapi, tetap saja para orangtua itu ngotot untuk turut campur. Belakangan ini akhirnya kami tidak beri tahu orangtua soal kegiatan anak-anak. Seluruh persiapan kami kerjakan di sekolah, tidak menyuruh anak-anak untuk membuat persiapan di rumah," katanya.

Itu adalah ilustrasi soal para orangtua yang sepertinya lupa soal apa tujuan menyekolahkan anak. Mereka mengira tujuannya adalah agar anak-anak mendapat nilai bagus. Untuk mencapai itu anak-anak harus dibantu dengan berbagai cara, termasuk mengerjakan tugas-tugas mereka. Itu salah. Anak-anak kita sekolahkan untuk belajar. Karena itu mereka harus kita biarkan berproses. Ada masanya anak-anak tidak bisa, dan hasil yang mereka peroleh jelek. Itu pun bagian dari proses belajar tadi. Mereka akan belajar bagaimana berjuang untuk memperbaikinya.

Para orangtua banyak yang tidak menyadari itu. Bagi mereka, mengirim anak sekolah, hasilnya harus baik. Kalau tidak, biaya mahal yang sudah mereka keluarkan akan sia-sia. Karena itu mereka akan mati-matian untuk ikut campur, mengarahkan supaya hasil yang didapat baik, menurut ukuran-ukuran mereka.

Sekolah teman saya tadi masih sangat bagus menurut saya, karena pihak sekolah sadar soal prinsip bahwa anak harus belajar secara mandiri. Saya punya contoh yang lebih buruk lagi, yaitu sekolah yang justru ikut tidak sadar.

Tahun lalu anak saya ikut dalam regu Pramuka yang dikirim sekolahnya untuk ikut jambore antarsekolah. Ini adalah kegiatan rutin tahunan. Kami para orangtua diajak berunding oleh sekolah untuk mempersiapkan anak-anak mengikuti acara itu. Dalam perundingan salah satu topik yang dibahas adalah persiapan membuat gapura di depan tenda yang akan diperlombakan. Wakil Kepala Sekolah dengan bangga menceritakan bahwa regu sekolah ini setiap tahun selalu menang dalam penilaian gapura.

"Tahun ini, seperti tahun-tahun lalu, kami sudah siapkan desain yang bagus, dan dikerjakan oleh tukang yang berpengalaman. Kami yakin tahun ini pun kita akan menang," katanya. Para orangtua tampak senang dan tidak keberatan dengan sejumlah uang yang akan dibayarkan pihak sekolah untuk membayar tukang yang membuat gapura itu.

Pada kesempatan tanya jawab saya langsung mengangkat tangan, minta kesempatan untuk bertanya. "Maaf, itu tadi soal gapura yang diperlombakan, apa tidak salah? Kita membuatkan gapura untuk anak-anak, lalu diperlombakan, dan juara. Kira-kira nilai pendidikan apa yang mau kita ajarkan kepada anak-anak melalui proses itu?"

Pihak sekolah terkejut dengan pertanyaan saya itu. Jawaban yang diberikan berputar-putar tanpa menyentuh substansi pertanyaan saya. Akhirnya saya ulangi pertanyaan saya. "Maaf, Pak jawaban Anda tidak menjawab pertanyaan saya. Ringkas saja, apakah ada unsur pendidikan dalam hal ini?"

Akhirnya ada guru yang mencoba menjelaskan, mengatakan bahwa para siswa dilibatkan juga dalam pemasangan gapura. Saya tahu jawaban itu sekadar memadamkan pertanyaan kritis saya.

Dalam kasus kedua tadi, bahkan pihak sekolah ikut melupakan soal pentingnya proses yang harus dijalani oleh anak-anak. Mereka lebih mementingkan hasil, dan mengupayakan tercapainya hasil itu melalui cara-cara yang justru bertentangan dengan prinsip-prinsip pendidikan.

Sekolah sering kali larut untuk menuruti kehendak para orangtua. Langkah-langkah yang diambil oleh pihak sekolah harus sesuai tuntutan para orangtua, tak peduli bahwa tuntutan itu bertentangan dengan prinsip pendidikan. Tindakan koreksi pihak sekolah terhadap anak bisa dianulir kalau orangtua keberatan.

Para orangtua terlibat dalam urusan pendidikan anak-anaknya dengan cara yang salah. Kita harus terlibat membantu anak dalam belajar. Tapi, bantuan itu prinsipnya adalah sejauh tidak ikut mengerjakan hal-hal yang merupakan tugas anak-anak. Kita membantu agar mereka berproses belajar, bukan membantu mengerjakannya untuk mereka.

Hal yang lebih sederhana, apa yang biasa dilakukan oleh orangtua kalau anaknya ada PR? Kalau mereka membantu menjawabkan, itu salah. Mereka harus membimbing anak untuk menemukan jawaban. Bagaimana kalau karena berbagai sebab anak tidak sanggup menyelesaikan tugas mereka? Lagi-lagi orangtua ikut mengerjakan. Itu pun salah. Tidak masalah kalau anak kita rendah nilai PR-nya, atau dapat sanksi dari guru. Itu pun bagian dari proses belajar yang harus mereka lalui.

Saat menerima hasil ulangan anak, ke mana mata orangtua tertuju? Ke angka nilai. Kalau nilai bagus, mereka senang; kalau jelek, mereka kecewa. Padahal sangat penting untuk melihat di bagian mana anak kita benar mengerjakan ulangan dan di bagian mana mereka salah. Tidak cukup hanya itu, kita harus bisa menganalisis, bagian mana, cara berpikir mana yang anak kita belum bisa. Kita harus memahami kesulitan mereka, lalu membimbing mereka untuk paham. Jadi bukan sekadar membantu mereka untuk mendapat nilai.

Sadarilah bahwa kalau terlibat dalam pendidikan anak dengan cara yang salah, kita tidak membantu, tapi merecoki.

Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed
>