DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 17 Februari 2019, 12:30 WIB

Jeda

Pulau Para Penyendiri

Mumu Aloha - detikNews
Pulau Para Penyendiri Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Aku tiba di pulau itu pada waktu yang sesuai dengan perhitungan. Tak ada yang lebih menyenangkan dibandingkan dengan sebuah perjalan yang segala sesuatunya sesuai dengan yang telah kau rencanakan. Pesawat yang kutumpangi tiba di bandara ibu kota provinsi tepat waktu. Tanpa bekal informasi detail mengenai cara untuk mencapai pulau yang akan kutuju, segalanya berjalan lancar. Naik bus Damri, diturunkan sebelum tujuan akhir, tapi dicarikan mobil pengganti untuk melanjutkan perjalanan. Penumpang tinggal aku dan sepasang suami-istri yang sepertinya tengah menikmati bulan madu.

Kami patungan untuk ongkos mobil yang akan melanjutkan perjalanan ke dermaga penyeberangan menuju ke pulau. Semua berjalan begitu saja tanpa hambatan. Maka, tibalah aku di salah satu pulau dengan pemandangan pantai paling indah di wilayah Indonesia Timur bagian selatan ini. Beberapa waktu lalu, pulau tersebut dihantam gempa dan tsunami. Aku tak tahu keadaannya sekarang, setelah bencana itu. Tapi, ketika aku mengunjunginya waktu itu, aku benar-benar mendapatkan semua yang bisa kubayangkan. Rasanya ingin menetap di sana selamanya, dan tak usah kembali. Tapi, tentu saja itu hanya perasaan sentimentil sesaat yang lazim dialami seorang pelancong yang berbahagia.

Faktanya, kebahagiaan itu tak mungkin abadi. Kau harus kembali, menjalani rutinitasmu, kehidupanmu sebelumnya. Justru di situlah seninya bepergian, merasakan bahwa setiap pengalaman dalam hidup ini tidak ada yang abadi. Satu saat kau di sana, saat yang lain kau di tempat yang lain lagi, dan suatu hari nanti, entah akan ke mana lagi. Seperti hujan yang datang sebentar, membasahi bumi yang kering, dan meneduhkan hari yang panas. Seperti mimpi yang mampir dalam tidurmu. Seperti lagu yang sesaat membuai jiwa, untuk kemudian menjadi kenangan, mungkin untuk selamanya....

***

Dan, seperti yang sudah kuduga, aku menyukai kehidupan di pulau itu, tempat orang-orang menikmati setiap detik yang mereka miliki, melewatkan hari yang cerah dengan duduk-duduk di bar kolam renang depan hotel pinggir pantai sambil memandangi lalu-lalang pengendara sepeda yang mengayuh pedal pelan-pelan, seperti hendak menghentikan waktu.

Aku keluar dari kamar hotel pada sore hari setelah bangun dari tidur siang -sebuah kemewahan sesaat yang bisa kudapatkan di pulau itu. Kutuntun sepeda sewaanku melintasi teras resepsionis yang selalu ramai. Kamarku ada di belakang, dan hotel tempatku menginap terletak di pusat keramaian, menghadap langsung ke pantai. Sore adalah saat yang paling disukai untuk menikmati hari, melihat langit yang menghampar biru di atas gunung, dan riak air laut yang berkilau oleh pantulan sinar matahari. Jika kau menatap ke cakrawala, matamu masih terbakar oleh panas yang kian pudar.

Aku mengayuh sepedaku menuju arah matahari yang perlahan tergelincir di garis perbukitan. Aku menyukai keriuhan di sepanjang jalan, kesibukan para pegawai restauran yang menata bangku-bangku di atas pasir pantai, atau menyiapkan bara api untuk memanggang kerang, udang, dan lobster untuk jamuan makan malam para tamu. Melewati pasar, kesibukan itu makin terasa. Lelaki-lelaki memasang tenda, menyiapkan warung mereka, tempat para turis berburu eksotisme negeri dunia ketiga, menyantap aneka ikan dan masakan tropis. Inilah surga bagi para pelarian, pencari bahagia, pasangan-pasangan muda maupun perempuan-perempuan dan lelaki-lelaki tua yang sendirian, datang dari negeri-negeri yang jauh.

Setelah pasar, kepadatan restauran dan bar makin berkurang, digantikan dengan tanah-tanah kosong bersemak, atau warung kecil milik penduduk setempat, bangunan serupa gubuk dari kayu di bawah pepohonan rendah. Atau, di bagian sini sesekali kau akan melintasi hotel-hotel mewah yang menyita areal yang luas dengan penanda-penanda yang khas, dan barangkali sudah akrab sebagai lokasi-lokasi ikonik foto-foto di Instagram. Tapi, aku lebih penasaran dengan hal-hal yang belum pernah kulihat di internet.

Kemarin aku sudah blusukan ke kampung atau pun menjelajahi bagian-bagian pantai yang paling sepi. Aku melihat seorang pria setengah baya dengan topi lebar duduk di pinggir pantai, menunggui kawannya, yang lebih muda, menebar jala mencari ikan. Ini bukan pulau nelayan dan pemandangan itu mengherankanku. Ternyata, dia memang bukan nelayan; mencari ikan hanya untuk mengisi waktu. Dia pendatang dari Jawa Timur, bekerja sebagai buruh bangunan di proyek sebuah hotel yang sedang didirikan. Pagi itu hujan, dan dia libur, lalu menjala ikan. Bagaimana rasanya menjadi perantauan di sebuah pulau tempat orang-orang menikmati liburan?

Di sini, kau tak ingin bekerja. Satu-satunya yang ingin kau lakukan hanyalah berguling di atas pasir, berenang sampai ke tengah perairan yang tenang tanpa gelombang di antara dua pulau, seperti kolam renang di belakang rumahmu sendiri, atau duduk-duduk minum bir. Itulah hakikat kehidupan di pulau ini, dan itulah sebabnya aku ke sini.

Saat blusukan kemarin, aku juga menemukan sebuah kedai yang pelayanannya sangat santai. Sampai-sampai, sepasang bule marah-marah karena pesanan nasi goreng mereka datang terlalu lama. Tapi, bule lain, seorang perempuan separo baya berbadan subur yang duduk sendirian, tampak seolah tak terganggu dengan layanan yang lama itu. Ia duduk menikmati detik demi detik sambil membaca, kuintip sampul bukunya, novel Goddess of Vengeance karya Jackie Collins.

Seorang perempuan tua lainnya kulihat pada suatu malam, ketika hujan deras mendadak turun, dan menahan orang-orang yang selesai menikmati makan malam di sebuah warung tradisional. Hari-hari berikutnya, aku kembali melihatnya hampir di mana-mana. Kubayangkan, dia pensiunan dosen filsafat di sebuah universitas di negeri Eropa Timur, seorang penganut Marxisme fanatik yang tergila-gila dengan ide feminisme. Kini, ia menikmati hari tuanya, dengan jalan-jalan di pulau di negeri tropis yang jauh.

Betapa! Aku ingin menikmati hidup seperti cara dia melakukannya; sendirian, asik, tak terganggu dengan apapun yang ada di sekitarnya, tapi selalu ada di mana-mana, ingin tahu, ingin terlibat, namun tetap terasa menjaga jarak. Diam menghadapi apapun, tak terusik oleh sapaan atau godaan untuk bicara dengan orang lain.

Ketika ia akhirnya bangkit dan membuka payungnya saat hujan mulai agak reda, dan siap melangkah pergi, kubilang padanya dengan nada basa-basi keramahan timurku, "Hati-hati!" dan dia hanya mengangkat bahu, tanpa menoleh ke arahnya, tapi kelihatan bahwa ia mendengarku.

***

Aku selalu tertarik untuk bergabung dengan rutinitas setempat saat bepergian. Suatu sore, aku ingin melihat warga memandikan kuda. Aku sedang mengayuh sepedaku ketika suara gemuruh menyergap dari belakang. Ternyata derap kaki-kaki kuda yang dipacu kencang-kencang. Dua ekor kuda tinggi besar melaju dengan seorang penunggang di atasnya masing-masing seorang pria muda bertelanjang dada dan satunya bocah yang masih sangat belia. Aku terhenyak untuk sesaat, menghentikan sepedaku di pinggir pembatas antara jalan dan pasir pantai. Lalu, menyadari, ini dia, orang-orang yang akan memandikan kuda. Kupacu sepedaku kencang untuk menemukan di sisi pantai mana dua penunggang kuda itu berhenti.

Ternyata, di bagian pantai paling sepi yang kemarin kujelajahi dan berjumpa dengan "nelayan" dari Jawa itu. Kemarin aku sempat bertanya padanya perihal orang-orang yang memandikan kuda, tapi dia tak bisa memberikan jawaban dengan jelas. Ternyata di situ! Kusandarkan sepedaku di pokok pohon perdu. Dua penunggang kuda yang tadi menyalipku sudah di sana, dan di dalam air sudah ada beberapa kuda lain yang sedang dimandikan. Seorang pria dengan kamera bertripod mengabadikan adegan itu. Dari jarak yang agak jauh, sejumlah turis juga sudah berderet, langsung sibuk jeprat-jepret. Kuda-kuda dan pria-pria terekam sebagai siluet dengan latar belakang sunset.

Aku menyukai semua itu. Matahari yang tenggelam, orang-orang yang memotret, dan sore yang beringsut meninggalkan hari. Lalu, aku bergabung dengan lelaki-lelaki bar yang menyiapkan api unggun di atas pasir. Bar itu ada di seberang jalan, dan mereka hilir-mudik mengusung serpihan ban untuk memperbesar api. Dari arah bar mereka, terdengar Karma Police dalam irama reggea yang sendu, seperti ingin memperpanjang sore dan menunda malam. Tanpa sadar aku bersenandung menirukan lagu itu. Bukit di sebelah sana semakin tampak suram di mata. Kesunyian mengepungku.

Seorang perempuan yang duduk di balok kayu di pinggir pantai perlahan berubah jadi bayangan hitam serupa lukisan muram di atas kanvas kelabu. Gelas-gelas kosong bekas jus buah, dan botol-botol minuman bergelimpangan di sisinya juga mulai tertelan tirai hitam malam yang turun perlahan, menjadi lukisan lain tentang benda-benda dan alam yang membisu. Semua orang yang ada di situ menjadi bayang-bayang, sementara api unggun makin menjilati udara, membuat percik-percik di pucuk bara dari kayu dan ban yang hangus, seperti kembang api di tangan anak-anak yang berlarian.

Kuda-kuda yang telah selesai dimandikan mungkin sudah kembali ke kandang. Seorang turis Jepang, perempuan muda berambut ikal yang fasih berbahasa Indonesia, memandangi binatang-binatang gagah itu, sebelum menjauh dan benar-benar hilang di tikungan jalan, seperti menyaksikan sebuah perpisahan yang sedih. Sebentar lagi malam akan sempurna oleh aroma seafood atau jagung yang dibakar dan busa bir yang melimpah dari gelas, mengirimkan bau harum sampai ke pinggir-pinggir karang.

***

Hari berikutnya, aku melihat perempuan tua itu lagi, sang feminis-marxist dalam fantasiku. Seperti kemarin-kemarin, ia tampak segar, cerah, sehat, dan memancarkan keyakinan bahwa hanya dirinya di dunia ini yang bisa begitu kidmat menikmati kesendiriannya, dan begitu mencintai hidup ini. Fantasiku di kepalaku kembali bermain. Dia punya kehidupan yang tertinggal di masa lalu. Mungkin suaminya pergi, atau mati di sebuah konflik politik. Mungkin ia ditinggalkan oleh anak-anaknya yang kecewa oleh sikap dan pilihannya. Semua bisa terjadi.

Mungkin dia seorang perempuan mandiri yang memilih hidup lajang sejak awal dengan penuh kesadaran, dan menatap hidup ini sebagai medan pertarungan yang bisa dia hadapi sendiri. Orang lain adalah sebuah kesia-siaan. Mungkin ia pernah berusaha membangun sebuah rumah tangga sebagaimana kebanyakan perempuna lain di atas planet bumi ini, dan gagal. Ia hidup dalam sebuah kebudayaan yang nyaris tak memungkinkan orang untuk menjadi dirinya sendiri, dengan pilihan-pilihannya. Ia memendam banyak kekecewaan dan luka kehidupan, yang terus coba dihalaunya.

Aku jadi berpikir tentang diriku sendiri. Mungkin untuk pertama kalinya aku berpikir bahwa, seperti perempuan itu, hidupku pun tidak abadi. Ada masa lalu yang tertinggal dan saat aku menyadari itu, di sinilah aku sekarang, di sebuah pulau persimpangan tempat orang-orang yang saling asing bertemu, tanpa usaha untuk saling mengenal, atau sekadar menyapa, tapi terasa bahwa ada perasaan senasib.

Untuk pertama kalinya pula aku menyadari betapa ternyata aku begitu menikmati dan mencintai hidupku. Aku mencintai hidup ini, bukan karena aku telah mencapai sebuah cita-cita yang tinggi --kalau aku memang pernah punya atau mencita-citakan sesuatu-- tapi semata karena aku di sini. Duduk di bangku yang ditata terbuka tanpa tenda, dengan atap langit bertabur bintang di atas pasir di pinggir pantai yang dingin, memakai celana pendek kembang-kembang, minum air kelapa dengan sedotan, dan berfoto dengan kuda-kuda yang dimandikan pada sore hari.

Kita bahagia bukan oleh pencapaian-pencapaian kita. Kita bahagia oleh momen yang kita alami, yang meminta keterlibatan kita. Kita bahagia karena kehadiran kita, di momen sekarang ini, di atas putaran waktu yang mengayun tubuh kita, di pulau dengan pasar penuh ikan bakar di malam hari dan orang-orang yang berjalan atau duduk seorang diri di atas batu dalam kegelapan, atau di rumah mencium bau harum bunga di depan teras dan pohon tomat dalam pot yang mulai berbuah, sambil menyaksikan anak kucing yang berguling-guling di atas tumpukan sepatu, menggaruk-nggaruk tubuhnya dengan kakinya sendiri, atau bermain-main dengan induknya. Kita bahagia karena menjadi bagian dari dunia, tak peduli di mana pun berada.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed