DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 15 Februari 2019, 11:50 WIB

Kolom

Ahmad Dhani, Musik, dan Kaum Langitan

Aris Setiawan - detikNews
Ahmad Dhani, Musik, dan Kaum Langitan Ahmad Dhani berpeci sufi saat sidang di pengadilan (Foto: Deny Prastyo Utomo)
Jakarta - Terlalu sulit untuk menjelaskan kerumitan bunyi (harmoni, pilihan akord, dan sejenisnya) dalam karya-karya Ahmad Dhani agar mudah dimengerti oleh pembaca. Bahasa musik seringkali menjadi bahasa "langitan" yang hanya mudah dimengerti oleh komunitas di dalamnya. Sementara di luar itu, publik tak begitu peduli dengan kerumitan bunyi dalam musik, yang terpenting adalah enak untuk didengar dan didendangkan.

Lagu Kangen (1992) misalnya, mudah untuk disenandungkan, tapi sulit dimainkan. Pilihan akordnya cukup kompleks, ribet pada zamannya, menjadi hal yang tak lazim, dan sekaligus menunjukkan tingkat kecerdasan penciptanya. Harus diakui, karya-karya Ahmad Dhani banyak terpengaruh oleh kelompok musik Queen, terutama sang vokalis Freddie Mercury, lewat karya berjudul Bohemian Rhapsody (1975).

Pada karya itu, untuk pertama kalinya, Queen menerobos kebekuan waktu. Bohemian Rhapsody berdurasi lebih dari enam menit, sementara kebanyakan karya di industri musik hanya berdurasi tiga sampai empat menit. Pun di karya tersebut, diawali semacam paduan suara, ballad, atau opera yang sangat tidak lazim. Coba bandingkan dengan karya-karya Ahmad Dhani yang hampir memiliki kesan sama. Komposisi Sembilan Hari & Liberti (1994) atau Air Mata (2002) berdurasi lebih dari tujuh menit.

Sementara pada karya berjudul Emotional Love Song (2007) diawali oleh lantunan vokal, bukan instrumental sebagaimana lazimnya. Dhani mampu meramu musik dengan indah, cenderung puitis tapi tidak kacangan. Dhani berada dalam dua dunia, industri musik yang pop dan karya musik berat yang berbobot. Ia memadukan di antara keduanya.

Karena itu karya-karya yang dimainkan oleh Dewa 19 adalah tolok ukur musik bermutu pada eranya. Dhani menjadi serupa kaum pencerah, yang mampu menerjemahkan bahasa (ide) musik yang kompleks menjadi deretan bunyi sederhana dan enak didengar. Tidak banyak musisi yang memiliki kemampuan demikian. Kebanyakan hanya mengejar pangsa pasar tanpa diimbangi dengan kualitas musik bermutu. Akibatnya musik terkesan remeh-temeh, dengan pola melodi sederhana yang diulang terus-menerus, teks lirik mendayu yang cenderung picisan.

Dhani hadir memberi penyegaran. Karya-karyanya mampu bertahan melintas zaman. Saat Ari Lasso sang vokalis terlibat masalah narkoba pada 1997 dan menyebabkannya keluar dari Dewa 19, banyak yang memprediksi bahwa band itu akan turut mati. Namun, justru sebaliknya, di tangan Dhani, Dewa 19 mampu kembali merajai industri musik Tanah Air bersama sang vokalis baru Once Mekel.

Tahun 2000, lewat album kelima berjudul Bintang Lima, karya Dhani berhasil merebut hati generasi muda kala itu. Bintang Lima menjadi album tersukses sepanjang sejarah karier Dhani lewat kelompok musiknya Dewa (19). Beberapa lagu yang familiar adalah Roman Picisan, Dua Sejoli, Risalah Hati, Separuh Nafas, Cemburu dan Lagu Cinta. Radio-radio Tanah Air kewalahan melayani permintaan untuk memutar lagu-lagu tersebut.

Karya Ahmad Dhani yang begitu romantis itu menjadi senjata ampuh bagi kaum jomblo yang hendak menyatakan cinta pada pasangannya. Generasi muda begitu gandrung, lagu-lagu Dhani dinyanyikan dari pengapnya kamar mandi hingga sepetak panggung tujuh belasan. Anak-anak muda menggurat asa menjadi musisi selayaknya Ahmad Dhani, dipuja dan dipuji tiada habis. Mimpi-mimpi itu diwujudkan dengan membentuk kelompok band di pelosok kampung, membuat album rekaman dan berjibaku ke ibu kota mencari produser rekaman.

Kaum Langitan

Sejatinya, musisi selayaknya Ahmad Dhani adalah orang-orang yang terberkati. Manusia-manusia pilihan. Bagaimana tidak, ia mampu meramu bunyi menjadi bahasa yang enak untuk didengar dan didendangkan. Bunyi itu adalah kegaiban, abstrak, serupa wahyu dari langit atau "pulung" dalam khasanah Jawa. Bunyi itu serupa pula dengan udara, bisa dirasakan tapi tak mampu dilihat, bisa didengarkan tapi terlalu sulit dijelaskan.

Dhani mengais-ngais kerumitan bunyi dalam imajinasinya untuk dirangkai dan disederhanakan sedemikian rupa agar publik mampu mendengar, menghayati dan menikmati. Sayangnya, kemampuan yang demikian itu seringkali harus kalah oleh kepentingan-kepentingan sesaat yang banal. Dhani seolah tak sadar bahwa kemampuannya dalam mengkonstruksi musik itu adalah sebuah anugerah yang sulit dijumpai pada manusia lain.

Sejatinya, tanpa harus menjadi politikus atau terlibat dalam kepentingan politik, ia dapat menyuarakan kegelisahan hatinya lewat musik. Bukankah musik adalah bahasa yang paling universal? Musik dapat menjadi katalisator yang mampu berbicara tentang apapun. Perjuangan-perjuangan dilangsungkan dengan musik. Bahkan musik menjadi penanda sebuah pergerakan. Dhani tampaknya lupa bahwa karya musiknya telah melampaui narasi-narasi politik remeh-temeh yang dilakukannya.

Sayup-sayup musiknya semakin menepi, kalah dengan bising dan gaduh kontroversi yang dibuatnya. Bila sebelumnya melihat Dhani adalah membaca gumpalan ide-ide musikal, maka di hari ini melihat Dhani seringkali berujung pada kebencian, caci maki, dan umpatan. Tanpa harus menjadi politisi, sejatinya ia adalah politikus di musiknya. Tanpa harus bersuara lantang lewat orasi dan pidato, ia dapat leluasa menyampaikannya lewat dentuman nada, lirik, dan bunyi-bunyi.

Dahulu kala, Dhani adalah musisi idola yang menginspirasi pemuda-pemuda di pelosok desa. Karya musiknya menjadi acuan, membangun imajinasi dan mimpi. Dunia musik kehilangan Dhani, bukan dalam konteks tubuh, tapi dalam konteks pemikiran tentang lahirnya karya-karya musik bermutu. Dhani pergi meninggalkan musik, namun musik itu akan abadi untuk didengar walau tanpanya. Kini ia divonis 1.5 tahun penjara, dianggap bersalah karena cuitan berbau sarkastis di media sosial.

Dengan demikian, ia pun tak hadir dalam reuni konser Dewa 19 yang beberapa waktu lalu diselenggarakan di Malaysia. Sebagaimana dalam salah satu lirik lagunya -- hadapi dengan senyuman/ semua yang terjadi biar terjadi-- semoga begitu juga dengan Dhani saat ini.

Aris Setiawan etnomusikolog, pengajar di ISI Surakarta


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed