DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 13 Februari 2019, 15:20 WIB

Kolom

Dukungan Kritis: Alternatif Pemilih untuk Pemilu 2019

Rolip Saptamaji - detikNews
Dukungan Kritis: Alternatif Pemilih untuk Pemilu 2019 Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah/detikcom
Jakarta -

Apakah grup chat Anda sudah dipenuhi tim sukses kampanye caleg dan kampanye presiden? Pertanyaan ini saya lontarkan berdasarkan pengalaman saya sendiri, yang mungkin juga dialami oleh Anda. Pada tahun politik ini, mau tidak mau, suka tidak suka kita akan terseret ke dalam pusaran wacana politik kampanye legislatif dan eksekutif. Wajar saja karena Pemilu 2019 merupakan pemilu serentak pertama yang diselenggarakan di Indonesia.

Kampanye saat ini tidak hanya terjadi pada ruang-ruang publik seperti rapat umum, pertemuan warga, iklan televisi dan radio atau berbagai alat peraga kampanye yang sering kita lihat di pinggir jalan. Sejak 2014, dengan bantuan internet kampanye sudah merasuk ke dalam ruang-ruang privat. Mulai dari media sosial, platform video online, hingga aplikasi chat yang sering kita gunakan.

Sayangnya, media dan kecanggihan teknologi internet yang mampu menjangkau ruang-ruang personal ini tidak dimanfaatkan dengan baik oleh sebagian politisi. Alih-alih melakukan edukasi politik dan mendekatkan diri pada calon pemilih, berita politik dan kampanye malah bercampur dengan makian dan hoax yang menyebabkan masyarakat terbelah secara horisontal menjadi pemilih A, pemilih B, dan mereka yang jenuh dan enggan memilih. Jelang pemilu, para politisi pun semakin resah dengan membesarnya jumlah kelompok ketiga ini, sehingga isu golput pun bermunculan.

Saya dan salah satu dari Anda mungkin termasuk dalam kelompok ketiga ini. Kita terombang-ambing dalam wacana politik dan bimbang menentukan pilihan, sebagian dari kita mungkin sudah enggan memilih. Namun, diakui ataupun tidak sikap abstain atau golput memang tidak akan membawa solusi bahkan berpeluang menghasilkan terpilihnya kandidat politik yang tidak kita inginkan, seperti mantan koruptor atau mereka yang tidak kompeten. Lantas, apa yang akan kita lakukan sebagai calon pemilih yang memiliki hak suara? Menurut hemat saya, kita perlu mempertimbangkan posisi dukungan kritis sebagai panduan bagi kita untuk memilih.

Konsepsi Dukungan Kritis

Perbedaan mendasar dukungan kritis dengan dukungan biasa terletak pada sikap kritis dari calon pemilih memandang program politik dan kapabilitas yang dimiliki oleh kandidat politik. Dukungan kritis sebenarnya adalah sikap politik yang lazim dalam logika politik. Dukungan kritis menunjukkan posisi tawar yang kuat dan kesadaran politik yang tinggi dari pemilih. Dukungan kritis juga menjadi mekanisme kontrol bagi kandidat politik yang terpilih melalui kritik yang membangun. Melalui dukungan kritis kita dapat terhindar dari fanatisme buta terhadap calon politik, menangkal pork barrel politics atau biasa dikenal sebagai politik uang, dan terutama menghindari apatisme.

Berbeda dengan golput yang memilih pasif atau tidak menggunakan hak suara, dukungan kritis berpartisipasi aktif dan menggunakan hak suara. Namun, hak suara tidak diberikan begitu saja melainkan disertai dengan tuntutan bagi kandidat politik untuk memenuhi janji politik yang ia sebarkan melalui kampanye politiknya. Dukungan kritis yang menandakan kesadaran politik yang tinggi tentunya memahami tanggung jawab politiknya sebagai pemilih, yaitu mengawasi kinerja kandidat politik yang dipilih selama masa jabatannya berlaku. Dengan begitu, baik pemilih maupun yang dipilih memiliki ikatan yang kuat secara politik.

Bagaimana Melaksanakannya

Memilih atau tidak memilih caranya mudah, tinggal datang atau tidak datang ke TPS, mencoblos atau tidak mencoblos setelahnya. Kemudahan ini tidak dimiliki jika kita memilih untuk memberikan dukungan kritis; kita perlu mengenal lebih dekat para kandidat dan mengenal lebih dalam program politiknya sebelum menentukan pilihan. Sikap kritis ini sangat dimungkinkan, mengingat masifnya kampanye politik melalui media massa dan internet.

Tahap paling dasar adalah mengenal kapabilitas kandidat politik. Tahapan ini dapat dilakukan dengan melakukan pencarian informasi mengenai kandidat. Variabel penentu kapabilitas seperti prestasi, karya, pekerjaan, pendidikan, dan pengalaman organisasi dapat dijadikan acuan untuk mengenal kandidat politik.

Tahap berikutnya adalah memahami program politik kandidat. Tahapan ini dapat dilakukan dengan mempelajari slogan dan program juga janji politik yang ditawarkan oleh kandidat. Setelahnya, kita dapat menghubungi akun-akun media sosial kandidat untuk mempertanyakan bagaimana cara yang akan mereka tempuh untuk memenuhi program politiknya. Cara ini juga dapat dilakukan ketika kandidat mengadakan pertemuan langsung ataupun kampanye terbuka --jangan ragu untuk bertanya pada kandidat.

Tahap terakhir adalah mengawasi konsistensi politik kandidat. Tahapan ini dilakukan ketika kita sudah memiliki beberapa calon pilihan kandidat politik. Setelah kita mengenal kapabilitas dan memahami programnya kita perlu mengawasi apakah keduanya konsisten selama masa kampanye dengan mengawasi pendapat-pendapat yang mereka lontarkan melalui media atau dalam pertemuan dengan calon pemilih. Oleh karena itu tahap ini adalah tahap terakhir, namun paling utama dalam memberikan dukungan kritis terhadap kandidat politisi.

Dukungan Kritis sebagai Partisipasi Aktif

Dalam kondisi politik seperti saat ini, ketika masyarakat mulai terbelah berdasarkan preferensi politiknya masing-masing, penting bagi kita yang masih belum menentukan pilihan untuk mengkritisi kedua belah pihak, baik mereka yang fanatik maupun mereka yang apatis. Melalui dukungan kritis, kita dapat memberikan alternatif bagi diri kita sendiri sebagai calon pemilih sekaligus membangun kesadaran politik yang lebih maju di tengah kontestasi politik Pemilu 2019. Siapapun kandidat yang kita pilih, apapun partai pendukungnya, dan bagaimanapun citra yang dibangun dapat kita verifikasi melalui sikap kritis yang memiliki acuan jelas.

Perlu kita sadari bersama bahwa sikap pasif terhadap politik bukanlah solusi dan tidak akan mempengaruhi proses politik selain berpotensi menyerahkan kekuasaan pada mereka yang tidak kompeten. Namun, melalui partisipasi aktif, kita dapat dan berhak melaksanakan mekanisme kontrol terhadap mereka yang terpilih jika pada masa depan mereka tidak melaksanakan janji politiknya. Perlu diingat juga bahwa dengan bantuan internet kita dapat mengakses para kandidat ataupun para politisi dan menempatkan mereka pada posisi yang sejajar dengan kita.

Rolip Saptamaji dosen di STDI Bandung


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed