DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 13 Februari 2019, 14:03 WIB

Kolom

Mudarat Deklarasi Alumni

Khairurrizqo - detikNews
Mudarat Deklarasi Alumni Sebuah acara deklarasi alumni dukung capres di Jakarta (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Sebuah pesan Whatsapp masuk, isinya foto foto deklarasi dukungan alumni ke pasangan Capres-cawapres 01 Jokowi-Ma'ruf. Ini bukan kampus, tapi deklarasi dukungan dari alumni SMA tempat sekolah dulu.

Pagi foto menyebar, siang masuk berita. Maka, dimulailah riuh rendah grup Whatsapp alumni SMA. Kebanyakan bingung, kok ya nama kita sebagai alumni dicatut untuk politik?

Soal deklarasi-deklarasian ini, sebelumnya juga ada segelintir orang mengklaim kampus alumni tempat kuliah dulu mengklaim Pasangan 02 Prabowo-Sandi. Dari foto fotonya, kelihatan mereka alumni yang sudah lama sekali meninggalkan kampus

Ketika foto-foto menyebar di grup Whatsapp bukan simpatik yang didapat, tapi justru kecaman dan silang pendapat. Mulai dari protes membawa nama kampus sampai protes karena tak merasa ikut mendukung

Kenapa alumni harus sibuk deklarasikan dukungan pada capres dan cawapres? Apa faedahnya untuk publik?

Masyarakat yang Terbelah

Sebenarnya sah-sah saja sebuah komunitas atau lembaga mendeklarasikan dukungan. Ini soal sikap politik yang harus dihargai. Tapi, di tengah situasi politik kita yang menuju terbelah (divided) ini, situasinya jadi tak sesederhana itu

Pakar dari Universitas Duke Daniel Morowitz menyebut politik identitas adalah garis tegas untuk menentukan siapa yang akan dianggap jadi bagian kelompok dan siapa yang ditolak

Dalam berbagai kajian studi ilmu politik, identitas politik memang berbeda dengan politik identitas. Yang pertama seringkali bersifat given, yang kedua adalah proses politik pengorganisasian identitas sebagai sumber dan sarana politik

Kita belum sembuh benar dari dampak pertarungan Pilkada Jakarta. Luka yang masih basah dan dendam yang masih tersisa, baik pada yang kalah maupun yang menang. Bukan hanya Jakarta, tapi di seluruh Indonesia.

Ditambah lagi semakin mudahnya masyarakat mengakses media sosial. Seringkali terjadi kebenaran informasi datang terlambat dari penyebaran isunya yang telanjur meluas.

Ketika dukungan politik menjadi identitas, di titik itulah berlaku logika hitam-putih: if you are not with us, then you are against us. Kalo lo nggak dukung calon gue, berarti lo bukan temen gue.

Maka, secara sosiologis juga politik, keakraban berwarga negara jadi hilang. Pertemanan dan persahabatan diukur hanya dari soal siapa mendukung siapa. Ya, sesederhana itu. Pilihan politik menjadi garis yang membatasi interaksi warga negara

Lihatlah, setelah deklarasi alumni akan ada grup Whatsapp baru: Alumni Kampus X Dukung 01 atau 02. Bukankah ini awal dari pembelahan antarkita? Bukankah itu awal dari saling curiga antarwarga negara

Anehnya, para politisi menikmati aksi dukung-mendukung alumni ini. Mereka tentu paham secara kuantitas jumlah deklarator mungkin tak banyak. Tapi, ketika deklarasi ini jadi perbincangan publik, maka secara kualitas jadi bermakna.

Mudarat dan Manfaat

Ketimbang berpotensi menjadi mudarat bagi kehangatan sesama warga negara, jauh lebih baik alumni institusi pendidikan menginisiasi gerakan yang lebih bermanfaat untuk publik

Hari-hari ini, ketika pencitraan menjadi cara menaikkan elektoral, sesungguhnya publik membutuhkan ruang untuk mengenal kandidat dengan ide dan narasinya yang asli dan genuine.

Karena itu, kandidat calon presiden dan wakil presiden seharusnya diuji di ruang publik. Bukan hanya dalam debat formal ala KPU, tapi dalam ruang-ruang akademis seperti institusi pendidikan dan alumninya

Ujian ide dan gagasan ini penting agar publik bisa memahami kandidat sedekat-dekatnya. Lihatlah format debat Pilpres Amerika ketika Hillary dan Trump waktu itu menjawab pertanyaan warga biasa yang diajukan langsung di forum town hall itu.

Ide dan gagasan calon juga harus diuji secara akademis agar terukur dan tidak mengawang. Kalau hari ini kita tak punya gambaran jelas tentang visi-misi Jokowi-Ma'ruf maupun Prabowo-Sandi karena, itu karena memang belum pernah ada institusi pendidikan yang benar-benar mengujinya.

Inilah ruang kosong yang seharusnya diisi oleh alumni institusi pendidikan. Mereka seharusnya hadir mencerdaskan publik, bukan malah sibuk ikut segendang sepermainan menjadi partisan.

Mereka seharusnya bisa memilih yang manfaat dan meninggalkan yang mudarat.

Beranikah para alumni itu? Ah, jangan-jangan masih sibuk menyiapkan deklarasi dukungan lagi!

Khairurrizqo alumni Ilmu Politik Unsoed, alumni Pascasarjana Politik UI, dan Peneliti Bidang Politik-Demokrasi IndoReform


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed