DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 11 Februari 2019, 10:08 WIB

Kolom Kang Hasan

Menolak Perayaan Hari Valentine

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Menolak Perayaan Hari Valentine Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Setiap tiba bulan Februari tibalah saatnya bagi sekelompok orang untuk mengingatkan orang lain tentang haramnya perayaan Hari Valentine. Merayakan Hari Valentine itu haram, kata mereka, karena itu adalah perayaan umat Kristen. Ikut pada perayaan umat lain adalah meniru, yang membuat kita jadi sama dengan umat lain itu.

Tidak hanya itu, melalui perayaan tersebut umat Islam didangkalkan akidahnya, kemudian digiring kepada iman Kristen. Lebih parah lagi, pada perayaan itu para remaja melakukan hubungan seks. Banyak anak gadis yang merelakan keperawanannya pada hari itu. Begitulah klaim-klaim yang seram tentang Hari Valentine.

Lucunya, sebagian umat Kristen juga melarang perayaan Hari Valentine. Alasannya karena perayaan ini adalah perayaan kaum pagan untuk menghormati Dewa Juno dalam tradisi Romawi sebelum lahirnya agama Kristen. Mirip dengan orang-orang Islam yang menganggap perayaan itu sebagai perayaan agama lain. Meski demikian, ada pula dari kalangan Kristen yang menganggap perayaan itu terkait dengan St. Valentine, tokoh suci gereja pada masa lalu.

Tapi, apa kaitannya dengan kristenisasi? Tidak ada. Hanya saja bagi sekelompok orang, apapun bisa dikaitkan dengan kristenisasi. Sekadar ornamen di jalan pun dituduh sebagai atribut kristenisasi. Lama-lama nanti orang Kristen batuk pun dikaitkan dengan kristenisasi.

Lalu bagaimana dengan seks bebas? Bukankah sekarang banyak anak-anak remaja yang sudah berhubungan seks secara bebas? Iya dan tidak, tergantung di mana kita mengambil contohnya. Ada anak-anak remaja yang sudah berhubungan seks, juga minum minuman keras, dan memakai narkotika. Tapi, coba pikirkan sekali lagi. Bagaimana ceritanya perayaan Hari Valentine menjadi sebab semua itu? Tidak ada hubungannya.

Bayangkan sepasang anak remaja berhubungan seks. Di mana mereka melakukannya? Di rumah sendiri? Di hotel? Atau, di rumah temannya? Di mana pun mereka melakukannya, itu terjadi karena satu hal, yaitu lemahnya kontrol orangtua. Itu sebab yang paling utama. Anak yang tidak dalam kontrol orangtua bisa saja berhubungan seks pada perayaan Hari Valentine. Mereka pun bisa berhubungan seks kapan saja.

Konyolnya, banyak orang yang ribut soal Hari Valentine, tapi lalai mengevaluasi hubungan mereka dengan anak-anak. Orang menyalahkan perayaan setahun sekali, padahal mereka berinteraksi dengan anak-anak sebanyak 365 kali dalam setahun. Mungkinkah anak lepas kendali dalam satu hari itu kalau sepanjang tahun mereka terhubung dengan orangtua mereka? Sadarilah bahwa kalau terjadi sesuatu yang tidak baik, kalau anak berperilaku tidak baik, sebabnya bukan perayaan Hari Valentine, tapi karena buruknya pola asuh dan hubungan orangtua-anak.

Dalam keseharian saya melihat banyak hal-hal yang jauh lebih berbahaya daripada perayaan Hari Valentine, yang dibiarkan oleh para orangtua. Contohnya, anak-anak dibiarkan naik sepeda motor. Kesalahan pertama dalam hal ini adalah anak diajarkan atau dibiarkan untuk melanggar tata tertib. Naik sepeda motor tanpa SIM, kepadanya diajarkan bahwa pelanggaran semacam itu boleh dilakukan.

Soal lainnya adalah membiarkan anak-anak membahayakan dirinya dan orang lain. Sudah ada begitu banyak kecelakaan yang melibatkan anak-anak remaja yang naik sepeda motor sebelum waktunya. Mereka berkendara sebelum layak secara fisik maupun psikis. Banyak yang jadi korban, cacat, bahkan meninggal. Tapi, kenyataan itu tidak kunjung membuat para orangtua sadar.

Selanjutnya adalah akibat tambahan yang lebih parah, yaitu anak menjadi bebas tanpa kontrol. Dengan sepeda motor ia bisa pergi jauh di luar jangkauan orangtuanya. Ke mana mereka pergi, dengan siapa, melakukan apa, orangtuanya tidak tahu. Mereka bisa bergerombol, kebut-kebutan, berkelahi, bahkan melakukan tindak kejahatan. Pada kelompok-kelompok seperti inilah perilaku menyimpang seperti hubungan seks bebas tadi banyak terjadi.

Pada keluarga yang lebih berada bukan hanya sepeda motor yang diberikan, tapi mobil. Kita sudah banyak menyaksikan kecelakaan yang ditimbulkan oleh remaja yang mengendarai mobil sebelum cukup usia. Ada yang membunuh diri mereka sendiri, ada juga yang menyebabkan kematian orang lain. Hal-hal semacam ini justru diabaikan oleh banyak orang.

Intinya, banyak orang yang terbiasa menyalah-nyalahkan pihak luar atas kejadian buruk, padahal menyebab utamanya adalah diri mereka sendiri. Buruk muka cermin dibelah.

Jadi, bagaimana bersikap terhadap perayaan Hari Valentine? Yang saya ingat, ketika merayakan Hari Valentine saya hanya mengirimkan kartu ucapan selamat kepada gadis yang saya suka. Itu pun hanya terjadi satu-dua kali sepanjang hidup saya. Anak-anak kita pun mungkin cuma begitu. Tapi, tak sedikit orang berfantasi seolah anak-anak sudah melakukan kejahatan besar dengan perayaan Hari Valentine.

Pandanglah kegiatan anak-anak remaja itu secara proporsional. Pandai-pandailah menjaga komunikasi dengan anak-anak, mendeteksi perilaku buruk dan menyimpang sejak dini.

Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed