DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 08 Februari 2019, 15:46 WIB

Kolom

Tasawuf Modern di Gedung Tinggi dan "Islam Cinta" di Mal

Kalis Mardiasih - detikNews
Tasawuf Modern di Gedung Tinggi dan Islam Cinta di Mal Kalis Mardiasih (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Di sebuah toko buku di dalam mal paling mentereng di Jakarta, saya terdiam menimang-nimang buku karya Roem Topatimasang dan Mansour Fakih. Mereka berdua dikenal oleh banyak orang sebagai senior gerakan sosial. Buku tentang pendidikan politik rakyat itu terletak di sebuah rak kayu mengilap, jadi satu bersama buku-buku lain dalam kelompok "Sosial dan Politik" dan ada di baris paling bawah. Masih beruntung sebab AC yang lumayan bikin beku kulit membuat buku-buku itu mulus tak berdebu.

Tapi, apakah itu berarti nasib buku itu cukup baik? Mal itu bahkan tidak menjual barang murah. Orang-orang datang ke mal dengan Rolex sambil menenteng Prada, sangat tidak meyakinkan untuk bicara masalah krisis pangan yang berpihak kepada petani.

Saya membayangkan rasa kesepian yang menyergap buku itu. Di dalamnya adalah narasi tentang petani, tentang kaum buruh, tentang perempuan, tentang rakyat yang kalah oleh kebijakan publik dan arus pembangunan yang dianggap keniscayaan oleh dunia modern. Betapa ganjil membayangkan kalimat-kalimat perlawanan tergeletak di baris paling bawah sebuah rak toko buku di dalam pusat perbelanjaan mega-mewah, sementara tetangga kanan dan kiri dari toko buku itu adalah gerai fashion, aksesoris, dan teknologi merk internasional. Gemerlap kemewahan milik segelintir pemodal yang bertolak belakang dengan definisi "kerakyatan".

Di Jakarta, saya pernah menjumpai sebuah perkumpulan yang cukup unik. Dalam gedung yang tinggi menjulang yang pada siang hari adalah kompleks perkantoran, sekitar sepuluh orang mendiskusikan buku Tasawuf Modern karya Hamka. Sepuluh orang itu adalah para pekerja layaknya sebagian besar manusia Jakarta lainnya yang bekerja untuk lembaga pemerintah, industri swasta, dan perusahaan dalam dan luar negeri.

Tasawuf Modern adalah sebuah buku yang bicara tentang kebahagiaan. "Sungguh, kebahagiaan itu dari dalam. Tiadalah dapat luaran memberi kebahagiaan, melainkan yang di dalam meridai yang luaran," begitu sabda Hamka setelah menjelaskan definisi dan keterkaitan kebahagiaan dengan agama, ilmu pengetahuan, dan harta benda.

Jakarta selepas jam kerja adalah jalur neraka yang silang-sengkarut. Jalanan yang macet. Wajah-wajah kusut dan umpatan dari fisik yang lelah. Udara mampat. Serapah tukang bajaj dan tukang ojek menyatu dengan musik jalanan berupa derit kendaraan yang pengendaranya melaju bagai bernyawa belasan. Tapi, ada sepuluh orang yang menunda kepulangan bukan untuk pergi ke kafe fancy atau sekadar karaoke bersama teman di mal, melainkan menuju sebuah ruang presentasi kecil pada sebuah gedung untuk memahami kembali makna kebahagiaan menurut tasawuf.

Sepanjang hari itu mungkin mereka bertengkar dalam sebuah meeting dengan atasan, atau gagal memenangkan sebuah penawaran untuk klien. Pada malam hari, mereka belajar etimologi kata-kata kunci dalam problem kebahagiaan, seperti kalb, ikhlas, dan ruh menurut Al Qur'an.

Beberapa waktu lalu, untuk pertama kalinya saya mendapat kesempatan bicara di ground floor sebuah mal di Jakarta. Ya, pusat perbelanjaan gemerlap yang lebih sering saya kutuki, tepatnya karena uang di kantong saya mungkin hanya mampu menjangkau tas pembungkus barang-barang mahal itu. Sebuah perasaan yang seolah agak canggung dan kagok, bicara agama di ground floor sebuah mal. Agama mestinya tidak mendapat tempat yang serius di antara ruko-ruko berdinding kaca gemerlap itu.

Saya ingat sekali saat suatu ketika membatin kesal saat salat di musala yang pengap dan sempit di basement sebuah mal megah. Kondisi semacam itulah yang sering jadi justifikasi orang-orang yang memilih jalan agama dengan radikal dan ekstrem, sebagai perlawanan dari realitas ekonomi yang timpang dan dunia modern yang dianggap sangat jauh dari obrolan Ketuhanan.

Sepanjang acara, saya mengamat-amati orang-orang yang mau-maunya duduk menyimak acara dengan serius sampai selesai. Sepasang suami-istri yang duduk di baris paling depan tampak membolak-balik halaman buku saya. Malam itu, buku pertama saya yang berjudul Berislam Seperti Kanak-Kanak baru saja diluncurkan bersama dengan band Simponi yang meluncurkan lagu Islam Cinta.

Saya juga mengamati orang-orang yang menyimak dari kejauhan, menyimak dari lantai atas, maupun orang-orang yang malu-malu mengambil buku gratis, kemudian sekadar lalu. Dalam hati, saya bersyukur karena orang-orang cukup antusias, tampak dari banyaknya yang mengajukan pertanyaan menarik dan serius.

Pembicara selain saya adalah Kang Irfan Amalee yang berpenampilan gaul dengan jaket kasual dan topi di kepala, menjelaskan periodisasi sejarah Islam. Dan, Zulfan Taufik, doktor muda yang kini mengajar di IAIN Bukittinggi yang mengaktivasi banyak program literasi bersama mahasiswa di kampusnya. Acara itu dimoderatori oleh Eddy Najmudin Aqdhiwijaya yang sepanjang 2018 mengawal program Literasi Islam Cinta, sebuah usaha untuk memproduksi buku-buku Islam moderat bagi anak muda, lalu menyebarkan produk literasi itu lewat serangkaian diskusi di berbagai kota.

Manggung untuk mengampanyekan Islam cinta di mal benar-benar menggelitik kesadaran saya. Barangkali, masjid dan mimbar-mimbar pengajian tak cukup lagi sebagai tempat untuk bicara agama. Atau, barangkali agama sangat ingin hadir dalam wajahnya yang lebih santai dan tenang sebab di masjid dan pengajian, agama tak ubahnya rangkuman teks dalam wajah formal, syariat yang menyoal hukum-hukum saja.

Saya terlalu sering menulis Islam sebagai sesuatu yang terlampau "tradisi" dan "kampung" sambil memandang kota sebagai situasi yang asing buat keberagamaan. Padahal, agama juga hidup dan bertumbuh di kota dengan nasib dan tradisinya sendiri. Terkadang tanpa sadar saya juga menciptakan stereotipe-stereotip untuk manusia dan keberagamaan. Manggung di mal adalah pelajaran penting untuk menegasikan persepsi-persepsi itu.

Kalis Mardiasih menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa lewat @mardiasih


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed