DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 08 Februari 2019, 11:00 WIB

Kolom

Doa yang Ditukar dalam Puisi

Candra Malik - detikNews
Doa yang Ditukar dalam Puisi Candra Malik (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Saya lekas teringat pada Seno Gumiro Ajidarma (SGA) bahwa ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Bahwa jurnalisme terikat oleh seribu satu kendala, dari bisnis sampai politik, untuk menghadirkan dirinya, namun kendala sastra hanyalah kejujurannya sendiri. Bahwa buku sastra bisa dibreidel, tetapi kebenaran dan kesusastraan menyatu bersama udara, tak tergugat dan tak tertahankan. Terima kasih atas kejernihan SGA.

Saya kutip apa adanya SGA bahwa ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Karena bila jurnalisme bicara dengan fakta, sastra bicara dengan kebenaran. Fakta-fakta bisa diembargo, dimanipulasi, atau ditutup dengan tinta hitam, tapi kebenaran muncul dengan sendirinya, seperti kenyataan. Sepenuhnya saya setuju pada SGA. Terima kasih pula pada Fadli Zon yang mengingatkan saya pada SGA.

Namun, Fadli mengingatkan saya dari sudut pandang berbeda. Bukan dari sudut pandang bagaimana sastra harus bicara, namun dari sudut pandang bagaimana sastra seharusnya bicara. Sastra selayaknya terbebas, atau setidaknya berikhtiar sekeras-kerasnya untuk membebaskan diri, dari kendala bisnis, politik, dan dusta pada dirinya sendiri. Kejujuran adalah kekayaan hakiki sastra yang selayaknya dimiliki sastrawan.

Setiap penulis, terlebih dalam hal ini sastrawan, sesungguhnya menulis tentang dirinya sendiri. Walau menulis tentang orang lain, orang yang bukan dirinya, sesuatu yang berada di luar dirinya, tetap saja ia sesungguhnya menulis mengenai dirinya sendiri. Ia menuliskan penginderaannya; baik itu penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, maupun peraba, terhadap sesuatu hal. Oleh karena itulah, kejujuran mutlak dimilikinya.

Berbeda dengan penulisan dalam genre lain, yang bukan sastra, sastrawan kerapkali menggunakan keindahan tuturan dan cara tutur dalam bersyair. Jika di tangan seorang pemotret, satu foto dapat menghadirkan cerita melebihi seribu kata, niscaya di tangan seorang sastrawan bahkan satu kata bisa mempunyai seribu makna. Hanya Tuhan dan sastrawan yang tahu apa niat, maksud, makna, dan tujuan sejati dituliskannya suatu kata.

Keindahan tuturan dan cara tutur dalam bersyair tak harus selalu dimaknai bahwa sastra harus selalu bersajak-sajak, memainkan rima, bersayap-sayap sehingga semakin rumit suatu karya sastra bagi orang awam maka semakin baik karya sastra itu. Saya pribadi merasa perlu satu abad, lebih mungkin, untuk mengalahkan kedahsyatan puisi Wiji Thukul yang terus menggema dalam ingatan publik, yang berbunyi, "Hanya satu kata: lawan!"

Keindahan tutur dan cara tutur sastra terletak pada kejujurannya. Betapa jujur Sapardi Djoko Damono (SDD) berpuisi, "Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu." Para penikmat karya sastra SDD dibikin tertegun dengan kesederhanaan cinta yang tak sederhana itu. Apakah SDD sedang tidak jujur? Ia jujur karena membubuhkan kata "ingin" di situ.

Bahkan dalam situasi perang atau amuk massa yang menggetarkan kemanusiaan, tetap saja puisi SDD ini kontekstual. Sebab, puisi bertema cinta tidak akan lekang oleh waktu, bahkan dalam kondisi darurat sekalipun. Berbekal kejujuran, ia berusaha untuk membebaskan diri dari jeruji bisnis dan politik. Terlebih, dalam kedudukan moralnya, sastra selayaknya mengandung suatu pedoman hidup, bukan hanya permainan kata.

WS Rendra mengingatkan kita dalam puisi yang berjudul Sajak Sebatang Lisong. Si Burung Merak berseru, "Apakah artinya kesenian bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan." Kendati dikaruniai licencia poetica, sastrawan tak lantas seketika menjadi dewa dan seenaknya berkelit ketika puisinya dimaknai secara menyudutkan, atau bahkan keluar dari makna ketika dituliskan.

Setiap karya, termasuk karya sastra, bahkan termasuk manusia sebagai karya Tuhan, memiliki takdir, yang bisa saja sama sekali tidak terduga dan di luar penalaran sewajarnya. Puisi Fadli Zon, yang berjudul Doa Yang Ditukar, yang menurut penulisnya ditujukan pada penguasa dan makelar doa, bisa bertakdir baik, bisa pula buruk. Bisakah Fadli disebut menulis kontroversi yang disengaja? Yang jelas, puisi ini memicu ketersinggungan.

Sastra tidak bebas nilai. Di linimasa Twitter, Alissa Wahid bertanya pada Fadli, "Pak, yang Anda 'kau-kau'-kan di sini siapa? Kyai Maimoen Zubair?" Di sini, yang dimaksud Alissa, adalah di dalam puisi Fadli itu. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pun bertanya, "Pak @fadlizon Yth, agar mendapat kejelasan, saya mohon tabayyun (klarifikasi): apakah yang dimaksud dengan 'kau' pada puisi tsb adalah Simbah Kiai Maimoen Zubair?"

Meski tanpa disebutkan, layak diduga sumber inspirasi puisi Fadli tersebut adalah kejadian salah sebut nama ketika Kiai Maimoen berdoa dalam sebuah acara bersama calon Presiden Joko Widodo. Alih-alih menyebut nama petahana, kiai yang sangat disegani itu mengucapkan nama calon presiden Prabowo. Inisiatif Romahurmuziy menjernihkan keadaan justru kemudian berbuah perundungan. Puisi Fadli diduga ke arah itu pula.

Saya kutip utuh puisi Fadli Zon, sebagaimana di bawah ini:

Doa yang Ditukar

doa sakral
seenaknya kau begal
disulam tambal
tak punya moral
agama diobral

doa sakral
kenapa kau tukar
direvisi sang bandar
dibisiki kacung makelar
skenario berantakan bubar
pertunjukan dagelan vulgar

doa yang ditukar
bukan doa otentik
produk rezim otentik
produk rezim intrik
penuh cara-cara licik
kau Penguasa tengik

Ya Allah
dengarlah doa-doa kami
dari hati pasrah berserah
memohon pertolonganMu
kuatkanlah para pejuang istiqomah
di jalan amanah

Fadli Zon
Parung, Bogor, 3 Februari 2019

Sekali lagi, hanya Tuhan dan sastrawan yang tahu apa niat, maksud, makna, dan tujuan sejati dituliskannya suatu kata. Pun hanya Tuhan dan Fadli yang tahu tentang puisinya itu. Saya tidak sedang akan mempertanyakan apakah Fadli itu seorang sastrawan. Saya hanya ingin berkata, ada satu petunjuk tentang siapa yang dimaksud sebagai kau dalam puisi di atas. Petunjuk itu terdapat pada kalimat, "kau Penguasa tengik."

Tapi, lagi-lagi hanya Tuhan dan Fadli yang tahu siapa yang dimaksud sebagai Penguasa di sini. Jika dilihat dari penggunaan huruf kapital di awal kata penguasa, yaitu Penguasa, bisa jadi yang dimaksudkannya adalah Tuhan. Sebab, Dia dan Nama-Nya yang layak ditulis dengan awalan huruf besar. Saya bisa salah menafsir, dan saya mohon maaf jika salah menafsir. Wallahu a'lam bi 's-shawab.

Atau, bisa pula Penguasa yang dimaksud ialah penguasa momentum berdoa tersebut, yaitu KH Maimoen Zubair, yang memimpin doa bersama dan diamini oleh hadirin. Atau, bisa juga Penguasa mengarah pada Joko Widodo, yang merupakan petahana, presiden yang juga calon presiden. Atau, bisa saja yang dimaksud sebagai Penguasa adalah penguasa kegiatan Sarang Berdzikir untuk Indonesia Maju di Pesantren Al Anwar itu.

Saya berserah kepada Allah atas keterbatasan pengetahuan saya dalam mengidentifikasi sosok "kau" dalam puisi Doa Yang Ditukar karya Fadli Zon. Hanya Tuhan dan dia yang tahu --entah harus berapa kali saya mengatakan itu? Di Senayan pun, kita beberapa kali disuguhi doa-doa politik, atau doa-doa politis, dan rakyat geram namun tanpa menuliskannya ke dalam puisi. Tapi, tentu kita selayaknya menghormati kebebasan berekspresi.

Di dalam puisi Fadli itu, terdapat kata ganti orang kedua tunggal, yaitu kau. Selain itu, masih ada dua kata ganti orang ketiga tunggal, yaitu sang bandar dan kacung makelar, yang mengarah pada "dia", bukan "kau". Sebab, tokoh puisi "kau" yang membegal dan menukar doa, kemudian "direvisi sang bandar, dibisiki kacung makelar". Belum lagi, kacung makelar adalah kacungnya makelar, bukan makelar itu sendiri. Tapi, saya bisa salah.

Doa bisa diralat, tapi Tuhan tidak bisa diperalat. Diralat atau tidak diralat, Allah Maha Tahu mana yang paling tepat. Jika pun doa kita terkabul, itu bukan karena kita yang berdoa, tapi karena Allah yang mengabulkan. Di sepanjang hari sepanjang tahun, terutama di tahun politik yang semakin panas ini, yang masih saja isu agama digunakan sebagai amunisi, hendaklah kita berdoa, "Ya Allah, mohon tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus."

Candra Malik budayawan sufi, telah menerbitkan buku kumpulan puisi berjudul Asal Muasal Pelukan (2016) dan Surat Cinta dari Rindu (2018)


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed