DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 04 Februari 2019, 14:30 WIB

Kolom

72 Tahun HMI: Meneguhkan Arah Juang

Abdul Gaffar - detikNews
72 Tahun HMI: Meneguhkan Arah Juang Ilustrasi: Zaki Alfarabi/detikcom
Jakarta -
Bangsa Indonesia patut bersyukur karena beruntung memiliki Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang menjadi salah satu bagian penting dari gerakan driving force bagi penguatan wacana dan gerakan atas kader bangsa terutama isu-isu keindonesiaan dan keislaman.

Didirikan oleh Lafran Pane di Yogyakarta pada 5 Februari 1947, secara psikologis HMI telah melewati usia transisi menuju kematangan berpikir akademis. Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridai Tuhan.

Kader HMI memiliki peranan penting secara berkelanjutan dalam perjalanan sejarah kehidupan berbangsa, serta memiliki peran dan posisi strategis dalam konfigurasi kehidupan kebangsaan sebagai agent of change --sebagai aset sosial-- yang mampu mengubah paradigma bangsa menuju arah kesempurnaan.

Kita lihat dalam perkembangan HMI dari masa ke masa selalu menjadi napas zaman dan dianggap sebagai kelompok yang kaya akan kritik, imajinasi, serta berperan dalam setiap peristiwa di tengah perubahan masyarakat.

Dimulai dari fase awal, HMI langsung berbenturan dengan dinamika pergolakan dalam mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari tekanan neo kolonialisme Belanda melalui agresi militer satu dan agresi militer kedua.

Pada fase selanjutnya, yakni abad 1970-1980, HMI menjadi cikal bakal pengusung intelektualisme pembaharuan pemikiran keislaman di Indonesia. Ketika kita membincangkan aktivis 70-an tidak lepas dari aktivis HMI, pengusung ide pluralisme dan sekularisme bernama Ahmad Wahib dan Nurcholish Madjid.

Sebagai basis gerakan kaum intelektual, kader HMI harus belajar banyak dari genealogi perjuangan pemikiran tokoh HMI dalam melangsungkan hidup. Para kader HMI memiliki kepentingan untuk dapat membaca gejala-gejala masa depan dan dapat menemukan apa yang akan diperbuat hari ini untuk kepentingan masa depan.

Belakangan ini, kader HMI seringkali terjebak pada persoalan-persoalan yang remeh-temeh. Tak ayal seringkali dijadikan alat empuk oleh kaum elite politisi, tak ubahnya sebagai alat oposan yang dengan mudahnya mampu mengubah pola pikir kader HMI sehingga lupa akan eksistensi sendiri sebagai gerakan nalar berpikir kritis.

Persoalan tersebut tidak lepas dari gesekan-gesekan kepentingan baik di ranah internal maupun eksternal. Pertama, gesekan internal. Kader selalu sibuk dengan sifat nasionalisme yang terpendam dalam keegoan masing-masing akibat gesekan kepentingan tertentu.

Isu yang sedang mengemuka pergantian ketua umum dengan menunjukkan akrobat berupa saling tuding dan saling tidak percaya antara sesama Pengurus Besar terutama kepada Ketua Umum Respiratori Saddam Al Jihad yang dituduh menyalahi aturan dalam AD/ART HMI akibat isu reshuffle kepengurusan.

Kedua, gesekan eksternal juga tidak kalah sengitnya. Bukti adanya pergeseran perjuangan paradigma kader HMI ke arah politik sebagai basis dan orientasi utama. Sangat tepat jika ada orang mengatakan, posisi HMI tidak ubahnya sebagai batu loncatan untuk meraih kekuasaan semata "to organize of power".

Problem di atas menyebabkan HMI mengalami proses stagnasi berpikir kritis progresif yang menyebabkan kekuatan moral force berupa "independensi" semakin terabaikan begitu saja berubah menjadi political force.

Sepinya berpikir kritis di tingkat aktivis HMI menjadi bukti bahwa telah berubah haluan menjadi pemalas untuk membaca dengan mengutamakan keuntungan prakmatis sehingga tumpul dalam menganalisis apalagi menulis perkembangan kehidupan bangsa baik sosial yang seharusnya menjadi dialektik kebangsaan di negeri ini.

Aktivis HMI di era milenial ini, tidak lagi mampu melahirkan ide-ide berupa gagasan dan analisis dalam bentuk gagasan kritis. Aktivis HMI memikul tanggung jawab agen perubahan menuju masyarakat tercerahkan karena aktivis HMI sangat akrab dengan buku-buku bacaan kritis.

Kita masih mempunyai keyakinan kuat bahwa HMI masih punya potensi besar untuk menjadi gerakan masif yang dapat mengubah kondisi bangsa ini ke arah lebih baik dengan semangat teologi yang membebaskan. Aktivis HMI adalah sekumpulan mahasiswa yang mampu mentransformasikan dirinya ke dalam masyarakat, kampus, dan organisasi melalui pengarusutamaan ilmu pengetahuan sebagai basis gerakan.

Di usia 72 tahun pada 2019 ini, kader HMI harus semakin berani melakukan gerakan baru (new movement) sebagai langkah strategis untuk mengatasi berbagai problematika yang sedang menggerogoti dalam tubuhnya sendiri dengan tetap menjadikan pengarusutamaan ilmu pengetahuan sebagai basis gerakan agar dapat mengharumkan nama baik bangsa dengan mempertahankan negara dari "penjajahan" pada era milenial.

Idealnya, HMI sebagai lokomotif gerakan mahasiswa intelektual tercerahkan mampu tampil dalam memberi sebuah keyakinan kepada bersama dalam mengubah kehidupan yang dinamis dan membantu untuk mencapai kesadaran diri serta mampu merumuskan cita-cita bangsa.

Sebagai kaum intelektual, HMI mempunyai tugas untuk merevolusi, memberi sumbangsih pemikiran intelektual disertai gerakan sosial profetik berdasarkan atas landasan-landasan terdalam dari keyakinan masing-masing dan dilengkapi dengan sumber-sumber yang paling kaya untuk dijadikan sebuah pencerahan dan cita-cita bangsa.

HMI memiliki tanggung jawab besar di negeri ini. Yakni, sebagai upaya menentukan sebab-sebab (perantara) kemajuan masyarakat di bawah paradigma keber-Tuhan-an Yang Maha Esa. Kader HMI wajib mampu hidup bersama dengan masyarakat kecil dan mencoba mencari solusi kesulitan-kesulitannya, baik ekonomi, pendidikan, agama, dan mengenai persoalan yang berkaitan dengan perubahan sosial ke yang lebih baik.

Abdul Gaffar mahasiswa Program Doktor Psikologi Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
hmi
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed