DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 04 Februari 2019, 13:50 WIB

Kolom

Skema Baru SBMPTN

Riduan Situmorang - detikNews
Skema Baru SBMPTN Ilustrasi: Andhika Akbaryansyah/detikcom
Jakarta -

Pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2019 dibuka mulai hari ini hingga 10 hari ke depan. Sebelumnya, LTMPT telah meluncurkan skema Seleksi Bersama Masuk PTN (SBMPTN) 2019. Ada yang benar-benar baru pada SBMPTN tahun ini. Pertama, siswa hanya bisa mendaftar sekali saja. Formulir pendaftaran ibarat akun media sosial. Bahasa milenialnya: all in one. Data ini sudah terintegrasi otomatis.

Seperti kita ketahui, sejauh ini ada tiga pintu masuk PTN. Pintu pertama adalah Seleksi Nasional Masuk PTN (SNMPTN) atau sering disebut jalur undangan. Pintu kedua adalah jalur ujian tertulis yang lebih dikenal sebagai SBMPTN. Ketiga, jalur mandiri. Jalur ini tidak disubsidi pemerintah. Bahasa populernya: jalur ini untuk orang kaya saja.

Tahun ini, jalur SNMPTN dan SBMPTN sudah dibuat terintegrasi. Ketika sudah lulus pada jalur SNMPTN, maka siswa sudah tak bisa lagi mendaftarkan dirinya melalui jalur SBMPTN. Akunnya otomatis dibekukan oleh panitia. Ini menjadi salah satu terobosan baru agar mahasiswa yang terpilih benar-benar sesuai dengan minat dan bakatnya. Sebab, faktanya ada sekitar 90 persen calon mahasiswa yang bingung dalam memilih jurusan kuliah. Mereka bingung karena pada umumnya masuk PTN adalah semata asal lulus saja.

Belum lagi, konon, masuk jalur undangan hanya "simpanan" belaka. Ini masuk akal karena jalur SNMPTN sangat misterius. Ukuran penentu kelulusannya sangat tak bisa ditebak. Sudah beredar isu bahwa masuk undangan adalah jalur peruntungan. Kamu beruntung, maka kamu lulus. Artinya, kualitas mahasiswa dari jalur undangan kurang memuaskan. Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri sendiri mengakui hal itu. Kurangnya kualitas mahasiswa jalur undangan ini terjadi karena banyak hal. Antara lain, karena PTN, melalui jalur undangan, menilai siswa cukup dari "atap" sekolah (akreditasi).

Terobosan Baru

Ketika akreditasi sekolah semakin baik, peluang siswa lulus PTN semakin besar. Dari sinilah bermula adegan cuci rapor. Supaya PTN terpikat, tak sedikit siswa mencuci rapornya. Gayung bersambut, karena kini tren popularitas sekolah adalah banyaknya siswa masuk PTN, maka sekolah pun berlomba-lomba membuat trik. Semua siswa yang ikut jalur undangan dikumpulkan. Jika, misalnya, seorang siswa mengambil jurusan X di universitas Y, maka guru tak akan mempersilakan siswa lainnya di jurusan dan fakultas yang sama pula.

Tujuannya sederhana: agar banyak siswa lulus PTN. Masalah kelak jurusan itu diambil atau tidak, tidak menjadi masalah karena bagi sekolah yang penting adalah siswa lulus PTN. Inilah kelemahan skema lama yang coba ditutupi dengan skema baru pada 2019. Dengan skema baru itu, di mana ketika siswa sudah lulus maka tak bisa mendaftar lagi, kelulusan melalui jalur undangan bukan lagi dibuat sebagai simpanan belaka, tentu saja. Karena itu, sejak dini siswa sudah dibuat untuk benar-benar matang dalam memilih jurusan.

Harus kita akui, langkah ini merupakan terobosan baru agar tidak banyak kursi yang ditinggalkan. Sayangnya, skema ini belum sempurna untuk mengatasi siswa salah jurusan. Pasalnya, sekolah kini tengah terasuki sindrom masuk PTN. Agar siswanya banyak lulus PTN, maka sekolah sering memaksa agar siswa memilih jurusan tertentu. Sekolah mencukupkan dirinya sebagai agen pemasuk siswa ke PTN. Sekolah tidak sampai pada pemikiran untuk mencerahkan agar siswa memilih jurusannya sesuai dengan minat dan bakatnya. Saya pikir, ke depan terobosan mengatasi sindrom masuk PTN yang diidap sekolah ini harus dicari obatnya.

Kedua, hal lain yang benar-benar baru dari SBMPTN kali ini adalah materi uji. Paling tidak, untuk tahun ini, hingga detik ini, materi uji untuk bahasa Inggris sudah tidak ada lagi. Sempat juga terkabar bahwa bahasa Indonesia pun tidak akan diujikan. Andai pada akhirnya materi uji bahasa Indonesia dihilangkan, ini menjadi salah satu bentuk pengingkaran kita pada semangat bangsa ini untuk meningkatkan literasi. Ini lebih-lebih merupakan penghinaan nyata terhadap bahasa Indonesia. Padahal, bahasa Indonesia adalah bahasa resmi negara. Kita bahkan bermimpi bahwa pada tahun 2045, bahasa Indonesia akan menjadi bahasa internasional.

Selain penghilangan materi bahasa Inggris, terjadi juga perubahan kelompok materi uji. Jika sebelumnya materi kelompok materi uji adalah TKPA-SAINTEK (IPA) dan TKPA-SOSHUM (IPS), kali ini sudah menjadi TPS (tes potensi skolastik) dan TKA (tes kemampuan akademis). Menurut LTMPT (Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi), TPS berguna untuk mengukur kemampuan kognitif (penalaran dan pemahaman umum yang dianggap penting untuk keberhasilan sekolah formal). Kita belum tahu pasti muatan materi ini. Namun, jika berkaca pada pemahaman-pemahaman sebelumnya, tes ini hanyalah nama lain dari teks verbal, vigural, numerikal, juga analisis wacana atau masalah.

Yang menarik adalah materi uji untuk TKA. Menurut LTMPT, pada tes ini soal-soal akan ditekankan pada soal dengan sistem HOTS (high order thinking skills). Ini menarik karena ketika soal seperti ini diujikan melalui UN dengan porsi yang sangat minim (5-10 persen), siswa-siswa kita sudah meraung-raung. Ini semakin menarik karena sejauh pengamatan saya, para pengajar (baik guru di sekolah maupun tutor di bimbel) bahkan masih gagap dengan soal HOTS. Ini terjadi karena di sekolah soal HOTS tak pernah disosialisasikan oleh pemerintah. Sebagai hasilnya, guru dan tutor menyamapersiskan bahwa HOTS itu sama dengan taksonomi bloom.

Benar-Benar Kompeten

Begitupun, kita sangat mendukung langkah baru dari LTMPT. Dari misinya, kita menangkap bahwa LTMPT benar-benar ingin merekrut mahasiswa yang unggul. Hanya saja, saya pikir, ada yang benar-benar keliru dalam materi uji SBMPTN 2019. Paling tidak, kekeliruan itu adalah hilangnya materi bahasa Inggris. Dihilangkannya bahas Inggris akan membuat semangat siswa belajar bahasa Inggris semakin rendah, tentu saja. Padahal, kini buku-buku teks pelajaran seperti jurnal banyak yang berbahasa Inggris. Bagaimana siswa akan memahami isi buku teks itu jika mereka tak belajar bahasa Inggris?

Ketiga, ujian sudah benar-benar tak mengandalkan kertas lagi. Ujian sudah mengandalkan komputer. Langkah ini termasuk salah satu jalur paling ramah agar siswa yang terseleksi benar-benar karena bakat dan kemampuan alaminya, bukan karena bakat atau kemampuan yang dilatih. Selama ini, banyak siswa yang lulus PTN adalah karena terbiasa mengerjakan soal-soal. Kebiasaan itu dibentuk di bimbel-bimbel. Kepada mereka sabanhari disajikan soal-soal masuk PTN dari tahun ke tahun, lalu dicari soal setipe sehingga siswa semakin terbiasa dengan soal yang sama. Kebiasaan itu tentu tak alami.

Sebaliknya, dengan ujian berbasis komputer, bimbel tentu akan kesulitan mendapatkan soal-soal terbaru. Dengan demikian, kemampuan bimbel untuk membiasakan siswa tidak akan secanggih yang dulu-dulu lagi. Hanya saja, yang menjadi masalah adalah keamanan soal. Kita sudah sama-sama tahu, mulai dari puluhan juta hingga ratusan juta rupiah, peserta mau saja membaya joki agar lulus PTN meski belum menjamin apakah siswa lulus atau tidak. Saya pikir, hal yang sama juga bisa terjadi pada keamanan soal. Paling tidak, ratusan peretas akan mencoba meretas soal-soal.

Pada dunia digital saat ini, tak ada yang benar-benar aman. Media-media online besar pun selalu kecolongan oleh hacker. Media sosial sebesar Facebook juga sempat kewalahan. Bahkan, seorang hacker dari Medan pernah belanja miliaran rupiah di Singapura dengan menggunakan ATM orang lain. Artinya, sebesar bank saja bisa diretas. Karena itu, sistem pengamanan soal-soal SBMPTN harus diperketat. Ingat saja keberadaan joki. Dibayarnya joki hingga ratusan juta rupiah menjadi salah satu bukti kuat bahwa soal SBMPTN juga akan selalu dicoba untuk diretas. Pada akhirnya, semoga dengan model seperti ini kita menemukan mahasiswa yang benar-benar kompeten sesuai dengan bakat alaminya.

Riduan Situmorang pengajar di Prosus Inten, lulus ASN sebagai Guru Bahasa Indonesia di SMA N 1 Dolok Sanggul Medan




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed