DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 03 Februari 2019, 11:15 WIB

Jeda

Orang Saleh dan Sandalnya

Mumu Aloha - detikNews
Orang Saleh dan Sandalnya Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Beberapa waktu lalu viral, atau setidaknya beredar, foto yang memperlihatkan sekelompok orang tengah memasang baliho raksasa dengan tulisan: Kehilangan sandal di masjid hanyalah musibah kecil. Musibah besar itu ketika sandal kita tak pernah kelihatan ada di masjid. Ada gambar sepasang sandal jepit putih bertali biru di antara larik-larik tulisan besar-besar dan mencolok itu.

Dengan spirit moral yang kurang lebih sama, sebuah meme tentang sandal jepit sebelumnya telah berbedar, berbunyi: sepatu mahal yang sering dipake jalan-jalan bakal kalah derajatnya sama swallow butek yang sering dipake ke masjid. Sesuai suratan pesannya, meme itu mengkontraskan dua gambar, sepasang kaki terbungkus sepatu mewah di bagian atas, dan sandal jepit yang sudah jebot di bagian bawah.

Pemakaian metafora sandal sebagai seruan yang berkaitan dengan urusan ibadah dan spiritualitas secara umum bukanlah hal baru. Sejak zaman para sufi, kisah mengenai orang-orang saleh dan sandalnya sudah banyak beredar, menjadi hikmah yang dituturkan dan berulang dikutip dari zaman ke zaman. Salah satu yang kemudian sampai ke zaman kita adalah kisah mengenai dua orang saleh yang datang berbarengan ke masjid, dan memperlakukan sandalnya masing-masing dengan cara yang berbeda.

Alkisah, orang yang pertama melepas sandalnya dan meletakkannya dengan rapi di luar pintu. Orang yang kedua juga melepas sandalnya, tapi kemudian menangkupkan kedua sisi bawahnya, lalu membawanya masuk masjid. Sekelompok orang saleh lain yang duduk di dekat pintu memperhatikan perilaku kedua orang itu, dan menjadikannya bahan perbincangan serius. Mereka saling berdebat, mana di antara kedua orang saleh itu yang benar.

Jika orang harus masuk masjid telanjang kaki, bukankah sebaiknya memang meninggalkan saja sandalnya di luar? Demikian pendapat sekelompok orang. Tapi, bukankah orang yang membawa sandalnya ke dalam masjid itu berarti orang yang selalu berhati-hati? Demikian sanggah sekelompok yang lain. Akhirnya, ketika dua orang saleh itu selesai salat, mereka ditanyai secara langsung satu per satu oleh kelompok yang tadi berbeda pendapat.

Orang pertama menjawab, "Aku meninggalkan sandalku di luar masjid atas alasan yang lazim saja. Jika seandainya ada orang yang ingin mencurinya, ia akan berusaha menahan dirinya agar tak tergoda untuk melakukan perbuatan haram itu. Dengan demikian, ia akan mendapatkan kebaikan dari tindakanku." Para pendengar mengangguk-angguk terkesan atas penjelasan itu. Mereka memuji, orang saleh tersebut menganggap harta miliknya tak begitu berharga sehingga diserahkan pada nasib yang mungkin menimpanya.

Orang kedua menjawab, "Aku membawa sandalku ke dalam masjid karena apabila kutinggalkan di luar, mungkin justru akan menimbulkan dorongan orang untuk mencurinya. Siapapun yang tak bisa menahan godaan itu tentu melibatkanku dalam dosanya karena tindakanku." Para pendengar mengangguk-angguk terkesan atas penjelasan yang bijaksana itu, dan memuji kedalaman pemikiran orang saleh tersebut.

Tiba-tiba ada orang lain di antara kerumunan itu yang mengagetkan dengan pendapatnya yang berbeda dengan dua orang saleh itu. "Sementara kalian berdua dan para pemujimu yang terkesan terbuai dalam perasaan kecilmu, saling bicara tentang hal-hal yang diandaikan, ada hal lain yang sungguh-sungguh nyata baru saja terjadi!" sergahnya. Orang-orang pun saling pandang dan bertanya-tanya. "Apa itu?"

"Tak ada seorang pun yang tergoda oleh sandal itu. Begitupun tak ada orang yang tak tergoda. Si pendosa, calon pencuri yang diandaikan itu tidak pernah lewat. Namun, ketahuilah, seseorang yang tak memiliki sandal, dan dengan demikian tak memikirkan akan meninggalkannya di luar atau membawanya ke dalam, telah memasuki masjid. Tak ada seorang pun yang memperhatikan perilakunya. Ia tak memikirkan akibat yang ditimbulkan dari perilakunya terhadap orang-orang yang melihatnya atau tak melihatnya. Namun karena ketulusannya yang dalam, doa-doanya di masjid hari ini secara langsung membantu meringankan orang-orang yang mungkin sungguh-sungguh akan mencuri atau tidak mencuri, dan membantu memperbaiki diri mereka karena godaan."

Orang-orang tercenung.

***

Dalam literatur tasawuf, kisah tersebut diyakini berasal dari ajaran Kaum Khilwati, didirikan oleh Khilwati yang meninggal pada tahun 1397. Kisah ini sangat populer di kalangan orang-orang sufi, dan sering dikutip. Idries Shah menghimpunnya kembali dalam buku Tales of Darwishes, diterbitkan edisi bahasa Indonesianya oleh Penerbit Pustaka Firdaus (1995 sudah cetakan keempat) dengan judul Kisah-Kisah Sufi. Tidak terlalu sulit untuk mengambil pelajaran dari kisah tentang dua orang saleh dan sandalnya tersebut.

Pokok pikiran dari kisah itu, yang tersebar luas di kalangan para darwis, adalah keyakinan bahwa mereka yang telah mengembangkan nilai-nilai batiniah memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap masyarakat daripada mereka yang berusaha bertindak berdasarkan alasan moral saja. Kita bisa menariknya dalam situasi sekarang. Orang-orang yang memasang baliho raksasa dan meme "sepatu mewah vs sandal jepit" tadi hanyalah contoh kecil yang menggambarkan bagaimana moralitas begitu menjadi tuan bagi setiap tindakan orang-orang yang menganggap dirinya saleh. Moral menjadi alasan, motif, bahkan prasangka yang menggerakkan perilaku sekelompok orang yang merasa dirinya adalah "penyelamat" bagi orang lain yang mereka bayangkan.

Ruang publik kita hari ini, baik di dunia nyata maupun dunia maya, dipenuhi dengan petuah-petuah moral yang ceriwis dan banal, yang mengandaikan bahwa orang lain, orang kebanyakan, adalah golongan yang harus selalu diingatkan, calon-calon "pencuri sandal" yang diandaikan berkeliaran, dan akan terjatuh dalam godaan untuk berbuat dosa. Sekali lagi, atas nama "maaf, sekadar mengingatkan", manusia berperilaku sebagai penjaga moral bagi manusia lainnya, sambil pada saat yang sama berpretensi menjaga diri agar tidak "ikut andil" dalam dosa yang diandaikan dilakukan orang banyak.

Setiap terjadi bencana misalnya, orang ribut tentang azab, yang disebabkan oleh perilaku sekelompok orang yang dianggap bermaksiat dan menyimpang. Sehingga menyerukan agar kelompok yang dianggap menyimpang ini diperangi, dengan dalih, karena mereka --yang merasa bersih-lurus-suci-- tidak ingin ikut menanggung azab yang menimpa itu.

Dalam politik, sekelompok orang dengan penuh keyakinan mengkhawatirkan diamnya kelompok lain (baca: kaum progresif), dan menyebarkan ketakutan bahwa sikap itu akan membuat orang-orang jahat dan kelompoknya berkuasa. Namun, mereka menutup mata dengan apa yang sekarang sudah benar-benar terjadi, ketika razia buku dibiarkan, ketika tidak ada tindakan hukum yang tegas terhadap para pelaku intoleransi yang bahkan cenderung mengarah pada --atau bahkan sudah disertai-- kekerasan.

Calon presiden yang satu mengaku membela Islam, membela ulama, membela NKRI, demikian pula halnya dengan calon presiden yang satunya. Di satu sisi, tidak pernah benar-benar jelas bahwa Islam, ulama, dan NKRI akan mereka bela dari apa, sementara di sisi lain, faktanya Islam sendiri, juga ulama dan NKRI baik-baik saja, seperti apa adanya, tidak membutuhkan pembelaan dari siapapun.

Dalam lingkup yang lebih "kecil", namun tak kalah absurd dan menggelikan, ada orang yang dengan jumawa mengumumkan dirinya seorang sosiolog dan dengan klaim status keilmuannya itu dengan sangat heroik mencoba menyeret urusan orang lain yang sepenuhnya sangat pribadi menjadi sesuatu yang menurut dia "masuk ranah sosial" dan bahkan menyebutnya "membahayakan hubungan" antara kelompok pemeluk agama yang berbeda.

Baru-baru ini, dan dari hari ke hari, kegaduhan kita terus bertambah panjang. Misalnya, kelompok anti kekerasan seksual berjuang mendorong disahkannya rancangan undang-undang penghapusan kejahatan tersebut, dan berharap peraturan itu nantinya bisa menjadi payung hukum untuk menyelesaikan masalah yang lebih kompleks daripada kelihatannya itu. Sementara, ada kelompok lain yang mementahkan usaha itu dengan membuat petisi penolakan, karena memiliki keyakinan yang berbeda bahwa kekerasan seksual terjadi karena rontoknya nilai-nilai keluarga. Bahkan, saking ngototnya untuk menolak, belakangan dengan penuh kebencian ada kelompok yang menyebar screenshot yang seolah-olah itu bagian dari dokumen RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, padahal pasal-pasal tersebut tidak ada di naskah aslinya!

Orang saleh, ilmuwan, politikus, aktivis, ibu rumah tangga, seleb, tokoh sibuk dengan sandalnya masing-masing, dan berusaha meletakkan sandal itu di tempat yang diyakini paling benar, sambil memikirkan "calon pencuri" yang harus diantisipasi, dicegah, diselamatkan, dibela, dilindungi, diingatkan dari kemungkinan-kemungkinan dan godaan. Namun, betapapun berharganya usaha mereka, tanpa ketulusan yang lebih dalam dan hanya sekadar perilaku yang disadari, semua itu menjadi tidak berarti kecuali bagi kepuasan moral mereka sendiri. Sebab, pencuri yang diandaikan itu tak pernah lewat....

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed