Memaknai Lampion di Solo

Kolom

Memaknai Lampion di Solo

Heri Priyatmoko - detikNews
Jumat, 01 Feb 2019 13:20 WIB
Lampiron di Pasar Gedhe Solo (Foto: (Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Lampiron di Pasar Gedhe Solo (Foto: (Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Jakarta - Membentangkan atlas sejarah lokal, tercatat di kampung halaman Presiden Joko Widodo di masa silam pecah gesekan sosial berulang kali. Ikatan persaudaraan lintas etnis di Surakarta pernah terkoyak gara-gara meletus konflik rasial (1743, 1911, 1965, 1980, dan 1998). Wong Solo mulai belajar dari pengalaman sejarah getir itu. Digelarlah Grebeg Sudiro sebagai siasat kebudayaan guna membentengi masyarakat dari percikan konflik sekaligus membasmi benih kebencian.

Kawasan Kalurahan Sudiroprajan dipilih menjadi arena Grebeg Sudiro karena sarat akulturasi Tionghoa-Jawa. Terlihat pula jalanan sekitar Pasar Gedhe disulap ayu laksana putri China yang tengah kasmaran. Hiasan lampion berwarna merah bergelantungan bagaikan oncor yang menyediakan terang di malam yang gulita. Bukan hanya menawarkan paras cantik, pemandangan apik ini mestinya dimaknai sebagai ruang berbagi kebahagiaan dan merawat toleransi lintas etnis. Maka, tidak masuk akal jika lampion tersebut dituding oleh sekelompok orang sebagai upaya "cinaisasi" Kota Bengawan. Bagaimanapun, sahabat Tionghoa bukan liyan yang kudu dicurigai dan dimusuhi.

Lampion merupakan unsur pokok dalam tradisi Imlek yang dihelat setahun sekali itu. Jauh sebelum pemerintah Orde Baru memasang muka sangar serta melarangnya, ritual ini sebetulnya telah mengada di Kota Bengawan pada pengujung abad XIX. Dalam kerja heuristik, saya menemukan serpihan fakta yang terkandung dalam Bromartani edisi 1 Maret 1883. Koran pribumi tertua di Jawa itu mewartakan perilaku orang-orang bangsa China yang menjalankan kebiasaannya pada tanggal 15 Ciyak Guwik yang terkenal dengan Cap Gome di malam hari. Kaum Tionghoa dari segala lapisan sosial, umur, dan gender berjalan bersama semalam suntuk tidak tidur. Saat Cap Gome, semua warga Tionghoa di Surakarta mencari hiburan di daerah Manahan, Jebres, Bacem dan Jurug.

Keriangan dan rasa bungah terpancar pada diri komunitas Vremdeoorstelingen (Timur Asing) tersebut. Beda dengan Presiden Soeharto yang menghapus perhelatan Imlek, pucuk pimpinan kolonial Belanda yang bercokol di kantor residen kala itu malah menyediakan panggung untuk berekspresi kaum Tionghoa. Kebebasan berekspresi adalah sebuah kemewahan bagi kelompok minoritas yang bermukim di kawasan Ketandan, Balong, Coyudan, dan Tambak Segaran. Mereka berada pada posisi tengah dalam struktur sosial itu diperbolehkan tampil di ruang publik dengan segenap unsur budayanya.

Imlek dan lampion sebagai fenomena budaya bertahan lama berkat masyarakat pendukungnya diberi arena sosial beraktualisasi diri, bukan digencet. Pasar Gedhe, tempat lampion pating grandhul tersebut, sedari dulu merupakan pusat pemukiman Tionghoa berbasis perdagangan. Di lingkungan ini hidup engkoh-engkoh dan tacik-tacik yang fasih berbahasa Jawa ngoko. Sebelum ibu kota Kerajaan Kasunanan pindah dari Kartasura ke Surakarta, Pasar Gedhe telah menjadi urat nadi perekonomian lintas etnis yang ramai dengan dukungan Bengawan Solo dan Kali Pepe.

Terkait aspek niaga, saya sodorkan bukti sejarah yang termuat dalam Bromartani edisi 11 Maret 1880. Dilukiskan dinamika perdagangan orang Tionghoa di Pasar Gedhe yang mengikuti musim: "Ing mangsa punika kathah para babah ingkang remen sade gereh tongkol. Manawi mangsanipun dhatengma grobag-grobag anglur urut margi pacinan. Lah kok kados kirang panggaotan dene teka gereh dipun dagang. Punapa boten sumer-sumer padharanipun bilih pinuju gula wenthah angingsep gonda kecing makaten."

Menyimak informasi di atas, kita tak perlu terheran dengan orang Tionghoa yang mengais rezeki di Pasar Gedhe. Selain menyuratkan ikan gereh tongkol sudah mewarnai bahan kuliner di Solo jelang penghabisan abad XIX, berita ini sebenarnya mengguratkan tingginya etos kerja dan cerdiknya mereka meringkus peluang. Berani berlama-lama menahan aroma yang tak sedap menusuk hidung demi mereguk untung.

Kendati sibuk mengadu nasib di negeri orang berbekal ketekunan serta hidup hemat (gemi setiti), komunitas China tak melupakan kebudayaan dari tanah asal. Tetap dipeluklah lampion dan Imlek. Supaya ora kepedotan oyot, demikian kata orang Jawa. Dalam konteks sejarah kultural, lampion dan Imlek berfungsi pula sebagai penjaga memori kolektif. Sedangkan dalam dimensi spiritual, lampion tetap diyakini sebagai simbol kebahagiaan hati. Lantas, nyala merah lampion yang berpendar itu dimaknai sebagai simbol pengharapan. Asa terpacak, di tahun yang akan datang diwarnai dengan keberuntungan, rezeki, dan kegembiraan.

Tatkala perayaan Imlek dan Grebeg Sudiro berlangsung, hiasan lampion di Pasar Gedhe bukan hanya menjadi besi sembrani bagi publik untuk mampir beberapa jenak dan swafoto. Lampion menambah hidup suasana kota, dan masyarakat kian puas dengan pertunjukan Barongsay. Ingat, Barongsay merupakan potret percampuran budaya di Indonesia. Semisal, istilah "barong" yang dalam pemahaman budaya Nusantara semacam topeng, sedangkan "say" (si) itu singa. Maka, jadilah topeng singa. Inilah sikap adaptif peranakan Tionghoa di Nusantara yang membuktikan kelenturan sahabat Tionghoa dalam kehidupan sehari-hari. Merecoki Imlek serta melarang lampion sama saja merenggut kebebasan berekspresi warga dan melemahkan fondasi harmoni sosial yang sudah dibangun dengan susah payah.

Heri Priyatmoko dosen Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, founder Solo Societeit

(mmu/mmu)