DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 30 Januari 2019, 14:09 WIB

Kolom

#10YearsChallenge Potret Inflasi Nasional

Nelayesiana Bachtiar - detikNews
#10YearsChallenge Potret Inflasi Nasional Gambaran inflasi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2008-2018
Jakarta -
Tantangan kekinian mengenai kilas balik 10 tahunan ramai menjadi perbincangan. Jejaring sosial dipenuhi tanda pagar (tagar) atau hashtag "10YearsChallenge" yang menjadi trending topic pengguna media sosial. Tantangan ini bertujuan untuk membandingkan kondisi saat ini dengan 10 tahun yang lalu. Fenomena ini tidak luput juga untuk dapat membandingkan potret perekonomian Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Potret inflasi menjadi salah satu topik menarik untuk disandingkan dengan keadaan yang lalu, terkait dengan harga-harga berbagai kebutuhan hidup masyarakat.

Kebutuhan hidup yang beragam menjadi fenomena tersendiri dalam upaya memenuhi kebutuhan tersebut. Gaya hidup, karakter, pola konsumsi, selera, serta hal lainnya menjadi bagian yang tidak lepas dalam pemilihan kebutuhan hidup. Harga berbagai kebutuhan yang kian meroket tentu menjadi kendala atau hambatan bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan. Gambaran peningkatan harga atau yang biasa dikenal dengan inflasi ini tentunya senantiasa dikontrol oleh pemerintah agar dalam kondisi yang stabil.

Kestabilan inflasi merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan yang pada akhirnya memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pentingnya pengendalian inflasi didasarkan pada pertimbangan bahwa inflasi yang terlampau tinggi dan tidak stabil memberikan dampak negatif kepada kondisi sosial ekonomi masyarakat, membuat daya beli masyarakat turun, dan mengakibatkan roda perekonomian tidak berjalan. Selanjutnya akan menciptakan ketidakpastian bagi pelaku ekonomi dalam mengambil keputusan.

Sedangkan inflasi yang terlalu rendah akan menekan pertumbuhan ekonomi. Oleh karenanya menjaga angka inflasi perlu memperhatikan dua faktor sekaligus, yaitu level inflasi yang membuat denyut perekonomian bisa optimum dan sekaligus tidak membuat daya beli masyarakat turun.

Pengalaman empiris menunjukkan bahwa inflasi yang tidak stabil akan menyulitkan keputusan masyarakat dalam melakukan konsumsi, investasi, dan produksi, yang pada akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi. Dalam menjaga stabilitas ekonomi, pemerintah mempunyai target atau sasaran inflasi yang harus dicapai. Sasaran inflasi yang ditetapkan pemerintah pada 2018 sebesar 3,5 persen. Sasaran inflasi diharapkan dapat menjadi acuan bagi pelaku usaha dan masyarakat dalam melakukan kegiatan ekonomi ke depan sehingga tingkat inflasi dalam kondisi terkontrol dan stabil.

Laju inflasi nasional 2018 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 3,13 persen, masih berada dalam target dan sasaran prediksi pemerintah. Hal ini menunjukkan pemerintah berhasil mencapai sasaran atau target inflasi yang telah ditentukan. Potret kilas balik kondisi inflasi nasional pada 10 tahun yang lalu, yakni pada 2008 sebesar 11,06 persen, melebihi target yang ditetapkan pemerintah berkisar 5 persen. Inflasi 2008 yang cukup tinggi tentunya berada dalam kondisi inflasi tinggi yang tidak stabil. Penyumbang inflasi 2008 yakni meningkatnya harga minyak dunia yang akhirnya memaksa pemerintah untuk menaikkan harga BBM pada Mei 2008.

Selain itu, meningkatnya harga komoditas pangan dunia (kebutuhan bahan pangan impor seperti kedelai, jagung, dan terigu) sejak akhir 2007 yang otomatis meningkatkan biaya pokok produksi perusahaan juga memberikan kontribusi angka inflasi yang sangat besar. Hal-hal lain seperti kelangkaan sumber energi baik gas maupun minyak di berbagai daerah maupun kekurangan suplai listrik yang mengharuskan terjadinya pemadaman juga berperan meningkatkan inflasi karena mendorong pembengkakan biaya produksi.

Bila membandingkan dari seri data inflasi 10 tahunan (2009-2018), inflasi tahun 2009 sebesar 2,78 persen dikatakan inflasi terendah sepanjang sejarah Indonesia. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengapresiasi laju inflasi sepanjang 2009 yang jauh di bawah batas target . Sebelumnya, pemerintah menargetkan laju inflasi sepanjang 2009 mencapai 4,5 persen. Hal ini tentunya berdampak baik bagi kestabilan perekonomian Indonesia.

Untuk pertumbuhan ekonomi, BPS mencatat sebesar 5,17 persen pada kuartal III tahun 2018. Angka ini lebih rendah dari target yang dipatok dalam APBN 2018 sebesar 5,4 persen, namun masih sesuai dengan prediksi pemerintah dalam perkiraan 5,14 persen hingga 5,21 persen, sejalan dengan momentum perekonomian nasional. Adapun penopang pertumbuhan kuartal III berasal dari pertumbuhan semua lapangan usaha, di mana pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Jasa Lainnya sebesar 9,19 persen, serta dari Konsumsi Lembaga Nonprofit yang melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 8,54 persen, dan tidak luputnya faktor konsumsi rumah tangga.

Membandingkan dengan 10 tahun yang lalu, saat itu Indonesia dan negara-negara lainnya di dunia terkena imbas krisis global yang berawal di Amerika Serikat pada 2007. Secara relatif, posisi Indonesia secara umum bukanlah yang terburuk di antara negara-negara lain, terbukti dengan perekonomian masih dapat tumbuh sebesar 6,1% pada 2008.

Ibarat Takdir

Inflasi ibarat takdir, tak bisa dihindari dan tetap akan hadir. Pemerintah senantiasa berkomitmen dan konsisten untuk mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan dengan berbagai langkah strategis. Salah satunya memperkuat koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Bank Indonesia melalui penyelenggaraan Rakornas Pengendalian Inflasi serta memperkuat kualitas data untuk mendukung pengambilan kebijakan; dan koordinasi kebijakan meliputi konsistensi kebijakan moneter dan fiskal dalam menjaga stabilitas nasional.

Selanjutnya menjaga inflasi volatile food maksimal pada kisaran 4 hingga 5 persen dengan memastikan kecukupan pasokan pangan dalam hal mengatur besaran dan waktu kenaikan kebijakan harga serta mengendalikan dampak lanjutan yang berpotensi timbul pada kebijakan penyesuaian harga.

Eratnya kaitan inflasi dan pertumbuhan ekonomi, pemerintah juga dirasa perlu fokus ke konsumsi rumah tangga ketimbang terlalu fokus mengandalkan investasi yang bisa memperbanyak impor. Menjaga dan meningkatkan pendapatan masyarakat untuk mendorong level konsumsi perlu menjadi salah satu prioritas kebijakan nasional saat ini. Sejalan dengan itu, meningkatkan daya beli bagi masyarakat berpenghasilan rendah dengan dana bantuan sosial (bansos) dan transfer ke daerah. Ditengarai kelompok di bawah justru mendapatkan banyak program pemerintah, sehingga konsumsi relatif meningkat.

Pemerintah juga harus gencar memberikan perhatian lebih pada konsumsi masyarakat kelas menengah dan atas yang mudah dipengaruhi oleh ketidakpastian harga. Dengan pulihnya konsumsi masyarakat, yang mengontribusikan sekitar 54-56% pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB), maka akan menyerap output industri nasional, lalu level produksi akan meningkat dan pada akhirnya meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Efek berikutnya penciptaan lapangan kerja yang tentunya membuat dunia usaha dan kestabilan inflasi serta kondisi perekonomian akan menjadi lebih baik lagi.

Nelayesiana Bachtiar Fungsional Statistisi Pertama Badan Pusat Statistik Kota Pekanbaru


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed