detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 29 Januari 2019, 15:18 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Rumpun Bambu, Burung Emprit, dan Pendidikan Lingkungan

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Rumpun Bambu, Burung Emprit, dan Pendidikan Lingkungan Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Minggu lalu, warga kampung saya menggelar kerja bakti. Lokasinya di kuburan, untuk membangun pagar pembatas antara kompleks makam dan pekarangan warga. Selain mendirikan pagar, ada lagi satu agenda, yakni bersih-bersih.

Bersih-bersih yang dimaksud bukan cuma urusan pembersihan sampah, atau pemangkasan semak-semak yang mengganggu kerapian barisan nisan-nisan kuburan. Ada lagi definisi "bersih" dan "rapi" dalam alam pikiran warga kampung, yaitu jika kompleks makam yang tidak terlalu gelap.

Sialnya, yang ditunjuk sebagai penyebab kegelapan itu bukan awan mendung, atau bayang-bayang kekuatan gaib Mbah Demang (cikal bakal kampung kami). Pohon-pohonlah yang dituding.

Maka, dalam rangka menyempurnakan hasil kerja bakti kami itu, warga menebangi beberapa pohon, bahkan membabat habis rumpun bambu yang sudah puluhan tahun menghuni area utara makam.

Mau tak mau, saya pun ikut terlibat dalam pengganyangan rumpun bambu itu. Satu demi satu batang-batang bambu dipotongi, hingga semuanya tumpas, dan sisa tonggak-tonggak di pangkalnya dibakar sampai cuma tinggal arang hitam.

"Wis, saiki wis padhang. Sudah, sekarang sudah terang," begitu gumam bapak-bapak warga setelah rumpun itu lenyap dari hadapan mata.

Bagi warga kampung, konsep padhang alias terang itu seiring dan sejalan dengan kerapian, dan barangkali juga dengan kesehatan. Hasilnya, tradisi menebangi pohon-pohon dianggap menjadi solusi yang wajar dan lazim-lazim saja. Tidak ada masalah dengan menebangi pepohonan, tak ada problem dengan membabat habis rumpun-rumpun bambu.

Hingga pada masanya nanti, bisa terbayang bahwa pohon-pohon akan habis, tak ada lagi rumpun bambu yang tersisa di kampung kami, pekarangan-pekarangan sudah tertutup semen atau paving block, dan semuanya itu akan dipandang sebagai prestasi kerapian.

***

Pengetahuan memang menciptakan kegelisahan. Kalau mau hidup tenang, gampang: nggak usah tahu apa-apa. Maka, pengetahuan bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi terus-menerus tanpa henti adalah lorong menuju kehancuran peradaban kita, menciptakan satu sikap parno pada diri saya.

Saya bukan orang yang serius mempelajari isu-isu lingkungan. Tapi membaca Collapse, bukunya Jared Diamond (yang tempo hari oleh Dahnil Anzar disebut dengan Jarot Diamond itu hehe), mendatangkan kecemasan-kecemasan itu. Dalam ulasannya, Pak Jared mengatakan ada lima faktor musabab runtuhnya peradaban, dua di antaranya adalah kerusakan lingkungan secara tidak sengaja dan sikap masyarakat atas kerusakan tersebut.

Sudah cukup banyak orang yang membahas kerusakan-kerusakan lingkungan kita dalam skala besar. Mulai pabrik semen yang mengacaukan kebersihan air bagi wilayah sekitar, pertambangan yang mengubah bentang alam dan menyebarkan racun (mercuri, misalnya), deforestasi gila-gilaan, dan lain-lain.

Anehnya, dalam skala-skala kecil seperti lingkungan sekitar, genjotan isu demikian masih terasa slow-slow saja. Kalaulah ada, paling-paling terkait pembersihan sungai dan pengelolaan sampah kolektif. Lalu bagaimana dengan penebangan pohon di kiri dan kanan rumah kita?

Soal penebangan pepohonan ini tentu efeknya jangan dibandingkan dengan deforestasi. Tapi coba ambillah contoh pembabatan rerumpun bambu di kampung kami itu. Bambu adalah jenis vegetasi yang sangat hebat dalam menyerap air. Jika rumpun-rumpun bambu dipertahankan, kualitas air akan terus terjaga. Bagaimana kalau "fasilitas" unggulan itu pada dibiarkan lenyap, hanya dengan alasan "ben padhang" alias biar terang?

Ini mungkin jadi agak norak, karena saya ingin membandingkannya dengan negara-negara lain. Di Jepang, misalnya, kita bisa menjumpai hutan kota di mana-mana. Di Australia, tempat saya pernah mampir selama empat tahun, memotong pohon sembarangan sangat dilarang. Beberapa kali saya membaca koran lokal di sana yang memberitakan perdebatan keras antara warga dan pemerintah daerah. Pemda ingin menebang sebatang pohon di area publik, warga menolaknya beramai-ramai.

Kampanye pelestarian lingkungan pun masuk ke kurikulum pendidikan. Di sekolah-sekolah dan di kebun-kebun reservasi, jamak kita jumpai seruan berbunyi: "Jangan bunuh hewan, ular sekali pun. Semua binatang adalah bagian dari ekosistem, dan saling memberikan manfaat satu sama lain." Kira-kira begitu, saya lupa persisnya.

Maka, perilaku membunuh hewan-hewan sembarangan pun sangat bisa dikontrol.

Nah, coba bayangkan, dalam situasi batin yang sudah terbiasa menghadapi seruan semacam itu, saya harus pulang mudik, dan menghadapi pemandangan pemangkasan pohon beringin di sebelah rumah saya. Bukan beringinnya yang ingin saya tekankan, melainkan penghuninya.

Jadi, saat pohon beringin itu dipotongi karena dahan-dahannya kian memberat, seekor ular gadung berwarna hijau muda menampakkan diri. Ia jatuh dari salah satu cabang beringin. Saya tahu, ular ini bukan jenis mematikan. Namun geliatnya yang bergerak cepat tetap saja menyeramkan. Situasi itu memicu keputusan tangkas dari bapak-bapak warga kampung yang, dalam rangka kerja bakti pemotongan pohon beringin, memang sedari awal memegang peranti-peranti kekerasan.

Blak! Bluk! Blak! Bluk! Tumpaslah makhluk hijau itu di ujung sebatang kayu. (Saya masih sempat melihat tatapan mata hitam kecil itu mengharap ampunan, sedetik sebelum kepalanya dihancurkan. Tapi saya bisa apa?)

Selain merasa kasihan, langsung juga terbayang betapa ular-ular adalah predator yang menjalankan fungsinya sendiri dalam keseimbangan kehidupan. Ular-ular dihabisi, dan saya tak boleh komplain banyak ketika tikus-tikus menyerbu masuk rumah, atau menggerogoti pokok-pokok tanaman padi.

Pernahkah kita melihat penekanan mekanisme alam demikian dalam buku-buku pelajaran sekolah? Tentu pernah, tapi cuma dalam pelajaran IPA khususnya biologi. Dalam pelajaran tersebut, orientasinya terasa sangat kognitif, sekadar berhenti sebagai pelajaran, tapi sangat jarang diaplikasikan di lingkungan.

***

Saya mungkin terlalu sentimentil. Setelah saya renung-renungkan, kondisi kita memang lumayan kompleks. Ambil contoh rumpun-rumpun bambu itu. Jika dibiarkan saja, dedaunannya yang banyak sekali itu akan rontok tiap hari, menumpuk menggunung, dan menjadi sarang ular atau nyamuk. Negara belum menyediakan fasilitas pengelolaan sampah daun sebagaimana di negara-negara maju.

Tak ketinggalan, dalam kasus ular. Bukan satu-dua kali ular muncul di dalam rumah warga, dan tahu-tahu sudah melingkar manis di atas kasur. Itu beneran terjadi. Jika ular-ular itu muncul dan dibiarkan saja, bagaimana kalau tiba-tiba ia menyerang warga dengan gigitan beracunnya? Sejauh apa negara akan membantu si warga?

Bahkan, kerumitan persoalan pun saya lihat ketika mengobrol dengan penjala burung-burung emprit. Kadang, ada pemburu burung-burung emprit yang memasang jala di atas sawah. Yang tertangkap ratusan ekor, dan cuma akan berakhir sebagai masakan tongseng. Gila.

Saya memandang pilu kepada burung-burung itu. Sialnya, ternyata para petani sendiri menyukai kedatangan para pemburu. Kenapa?

"Sekali kawanan emprit mampir di petak sawah kita, padi yang lenyap bisa sampai seperempatnya." Begitu cerita pakde saya sendiri, yang memang menggantungkan hidupnya dari bertani.

Lantas, kita bisa apa? Atau kita minta para capres memikirkannya, dan menggodoknya di debat selanjutnya?

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed