detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 28 Januari 2019, 08:40 WIB

Kolom Kang Hasan

Guru Menulis Buku

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Guru Menulis Buku Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Sesekali saya perhatikan profil penulis buku-buku pelajaran anak-anak saya. Secara keseluruhan saya melihat buku-buku pelajaran yang dipakai anak-anak saya rendah mutunya. Yang terasa dari buku-buku itu adalah rendahnya tingkat pemahaman penulis buku soal substansi materi yang diajarkan. Juga sangat terasa bahwa penulisnya tidak cukup memahami level berpikir para siswa pembaca bukunya.

Banyak materi pelajaran yang terasa melompat, ada proses berpikir yang dilewatkan, sehingga anak-anak sulit memahaminya. Itu masih ditambah lagi dengan tata cara penulisan yang juga masih rendah mutunya, sehingga banyak saya temukan kesalahan tata bahasa maupun pemakaian kosa kata serta ejaan.

Salah satu buku yang saya periksa profil penulisnya adalah buku pelajaran matematika untuk siswa kelas 4. Penulisnya masih sangat muda. Ia lulus dari jurusan pendidikan sains, pernah bekerja sebagai staf administrasi dan sedikit pengalaman menjadi guru bimbingan belajar. Hanya itu pengalamannya. Ia tidak punya banyak pengalaman sebagai guru.

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Guru yang berpengalaman tentu merupakan guru yang terbaik dalam pengertian sebenarnya. Pengalaman mengajar sepuluh atau lima belas tahun memberi guru cukup informasi soal kesulitan yang dialami siswa dalam memahami bahan ajar, dan dari situ para guru bisa merumuskan pendekatan yang terbaik. Pendekatan itulah yang seharusnya tercermin dalam pola penulisan buku. Sayangnya sering hal itu tidak saya temukan.

Bagaimana seseorang yang tidak pernah jadi guru bisa menulis buku teks pelajaran? Entahlah. Waktu masih bekerja sebagai dosen saya pernah menulis diktat panduan praktikum fisika dasar. Sebenarnya sebagian besar dari materi diktat itu adalah terjemahan dari panduan praktikum yang dibuat oleh produsen alat-alat laboratorium. Jadi saya tidak menyusun substansinya. Untuk menyusun diktat itu saya harus melakukan sendiri praktikum, berulang-ulang, sambil memikirkan bagaimana saya mendeskripsikan langkah-langkah kerja yang akan dilakukan mahasiswa.

Dengan cara itu pun saya masih harus melakukan banyak revisi setelah diktat tadi dipakai oleh para mahasiswa, karena ternyata ada banyak hal yang sulit mereka pahami. Penulis yang tidak berpengalaman mengajar saya kira akan lebih sulit lagi memahami apa yang sulit dipahami para siswa.

Pada kesempatan lain saya temukan buku pelajaran fisika milik anak saya yang sekolah di SMA. Saya perhatikan isinya, kemudian saya periksa buku referensi yang dipakai. Kuat dugaan saya, buku itu berisi bahan dari buku-buku pelajaran di luar negeri yang telah mengalami ubah sesuai oleh penulisnya.

Menulis buku pelajaran sangat berbeda dengan menulis buku jenis lain. Idealnya buku-buku pelajaran itu ditulis oleh pakar pendidikan. Di negara-negara maju, buku pelajaran sekolah ditulis oleh profesor dalam ilmu yang diajarkan, atau dalam ilmu pendidikan. Misalnya, buku pelajaran fisika ditulis oleh profesor dalam bidang fisika atau pendidikan fisika. Dengan standar itu, buku pelajaran yang ditulis oleh orang tanpa pengalaman mengajar terasa seperti terhempas di dasar jurang.

Dua tahun yang lalu saya pernah diminta melakukan survei kecil soal pengadaan buku pelajaran. Fakta yang saya temukan, buku-buku pelajaran kita tidak standar. Pemerintah hanya menetapkan standar untuk kisi-kisi materi, sedangkan isi buku diserahkan pada penerbit dan penulis buku untuk meramunya. Saya tadinya berharap bahwa pemerintah punya tim yang bertugas menulis buku pelajaran yang distandarkan. Dengan begitu buku pelajaran bisa dikendalikan mutunya. Sepertinya hal itu tidak ada. Atau, kalau pun ada, bukunya tidak menjadi buku wajib. Sekolah-sekolah boleh memakai buku lain.

Kenapa seseorang yang tidak punya pengalaman mengajar bisa menulis buku pelajaran? Maksudnya, kenapa bukan guru yang berpengalaman yang menulis? Di antara berbagai sebab-sebab yang rumit, sebab utamanya adalah karena guru-guru kita sudah terlampau sibuk. Beban mereka terlampau berat. Waktu mereka habis untuk berpindah dari satu kelas ke kelas lain, kemudian mengisi berbagai formulir administrasi pendidikan.

Sebab lain, secara keseluruhan penguasaan terhadap materi pelajaran juga masih rendah. Boro-boro mencari jalan yang mudah bagi siswa untuk memahami materi, mereka sendiri masih kesulitan untuk memahami. Itu masih ditambah lagi dengan fakta lain, bahwa sangat sedikit dari para guru itu yang punya kemampuan menulis. Dalam hal ini saya masih sering mengoreksi kesalahan tata bahasa atau ejaan pada soal-soal PR yang dibuat para guru untuk anak-anak saya.

Melihat buku-buku pelajaran sekarang saya rasa sangat sulit berharap ada peningkatan mutu pendidikan kita. Segala macam persoalan substansial pendidikan kita tercermin pada buku itu. Saya berharap pemerintah memberi perhatian yang sangat serius soal ini. Buku-buku pelajaran kita sebaiknya diserahkan kepada para guru besar, serta guru-guru senior untuk menulisnya.

Sandungan utamanya adalah soal kemampuan dan tradisi menulis. Bahkan para guru besar di universitas pun jarang menulis. Banyak dari mereka yang tidak punya kemampuan menulis. Kemampuan menulis tidak dikembangkan, mereka tidak menjadikan menulis sebagai bagian dari kebiasaan akademis. Hal yang sama terjadi pada guru-guru.

Kita mungkin bisa menemukan guru-guru yang piawai dalam mengajar, meski jumlahnya tak banyak. Tapi, kalau diminta menulis, belum tentu mereka bisa. Mencari guru yang piawai mengajar sekaligus pandai menulis sungguh sulit.

Lalu, bagaimana solusinya? Porsi terbesar dari solusi masalah ini harus tergantung pada pemerintah. Kalau pemerintah memang punya kepedulian, seharusnya ada upaya untuk memperbaikinya. Sementara itu, kita hanya bisa memberi dorongan kepada guru-guru untuk membekali diri dengan kemampuan menulis. Pada prinsipnya guru adalah orang yang harus terus belajar meningkatkan kemampuan. Meningkatkan kemampuan menulis adalah bagian yang tidak terpisahkan dari tugas besar seorang guru.

Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com