Penjara dan Titik Balik Kehidupan

Kolom

Penjara dan Titik Balik Kehidupan

Xavier Quentin Pranata - detikNews
Kamis, 24 Jan 2019 15:16 WIB
Ilustrasi: Nadia Permatasari/detikcom
Ilustrasi: Nadia Permatasari/detikcom
Jakarta - "Meskipun tidak lagi menjabat sebagai Presiden Timor Leste, Xanana Gusmao masih dianggap tokoh paling penting di sini. Siapa pun yang ingin maju sebagai pemimpin nomor satu di negeri ini perlu dukungannya," ujar seorang sahabat yang menemani saya selama di Timor Timur.

Saat melewati rumahnya, halamannya penuh mobil. Artinya, banyak tamu yang mengunjungi tokoh yang pernah dipenjara di Indonesia ini. Selama dipenjara, mantan militan ini 'memperkaya' dirinya dengan belajar bahasa Indonesia, Inggris, dan ilmu hukum. Hasilnya langsung moncer. Dia berhasil duduk sebagai orang nomor satu di bekas provinsi Indonesia ini.

Demikian juga dengan Nelson Mandela. Begitu juga dengan Benazir Bhutto. Begitu pula Aung San Suu Kyi. Juga Sukarno. Termasuk Fidel Castro yang kontroversial itu. Bagaimana dengan Ahok?

Penjara Tempat Menghukum Orang Jahat?

Pertanyaan ini sering terlontar atau bahkan menjadi pemikiran serius, khususnya orang-orang yang bekerja sebagai penegak hukum. Mengapa bisa demikian? Karena kita tahu ada orang-orang yang tidak bersalah yang masuk penjara karena berbagai sebab: salah sasaran, ketidaksengajaan, dan tekanan massa.

Salah sasaran bisa diberikan contoh sederhana. Anda berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Misalnya, Anda mendapati seseorang terbaring berlumuran darah dengan pisau tertancap di dadanya di sebuah wilayah yang memang terkenal sebagai daerah kriminal. Tergerak oleh intuisi untuk menyelamatkannya, Anda mencabut pisau itu dan hendak menolongnya. Pada saat yang bersamaan mobil patroli polisi datang dan menangkap Anda. Bukan hanya tertangkap basah, sidik jari di pisau itu pun milik Anda. Jika tidak ada saksi mata, kamera CCTV, atau pembunuh aslinya tertangkap, bisa jadi Andalah yang jadi korban salah tangkap. Alibi Anda begitu lemah sehingga pembelaan Anda kalah dengan bukti 'nyata' yang tampak jelas di permukaan.

Ketidaksengajaan bisa menimpa siapa saja. Saat berkendara, tiba-tiba ada seorang bocah yang berlari ke jalan karena mengejar layang-layang putus. Anda tidak sempat mengerem dan tabrakan maut pun terjadi. Anda masuk penjara karena hal itu. Seorang bapak pernah bercerita bahwa dia seperti lolos dari lubang jarum ketika mobilnya menabrak seorang bocah yang lari ke jalan raya karena mengejar bola. Dia hampir saja menjadi korban amuk massa seandainya bapak anak itu tidak segera keluar rumah dan berkata lantang dan berwibawa, "Jangan pukuli bapak ini karena anak sayalah yang salah. Dia mengejar bola tanpa melihat kiri kanan!"

Anda bisa saja masuk penjara karena tekanan massa lebih besar ketimbang keberanian penegak hukum untuk membebaskan Anda. Bagaimanapun kuatnya pledoi Anda dan betapapun lemahnya dakwaan jaksa, jika tekanan massa menjadi panglima, Anda tetap saja kalah.

Penjara Tempat Hukuman Agar Orang Jera?

Pertanyaan ini pun sering berkelindan di otak sekaligus benak kita. Jika demikian halnya, mengapa ada istilah residivis? Apakah penjara betul-betul membuat kita bertobat atau justru bertambah jahat dan seringkali kumat? Ketika mengunjungi penjara secara teratur untuk memberikan kekuatan dan siraman rohani, saya melihat ada satu pintu dengan tulisan besar dan mencolok: "Pintu Taubat". Di bawahnya ada tulisan lain yang mengatakan bahwa seringkali kita masuk penjara bukan karena jahat melainkan sesat. George W Bush pernah berkata, "America is the land of the second chance-and when the gates of the prison open, the path ahead should lead to a better life." Nelson Mandela membuktikannya seperti ucapannya, "In my country we go to prison first and then become President."

Untuk mewujudkan harapan dua tokoh dunia itu, penjara butuh orang-orang yang bisa mengkalibrasi GPS internal setiap orang yang rusak sehingga petunjuk arahnya pun error. Butuh dokter atau ahli mata yang bisa mengoperasi atau melaser mata orang-orang yang matanya mengalami gangguan penglihatan. Butuh ahli pembuat kacamata sehingga penglihatan yang buram terhadap kehidupan bisa jelas kembali sehingga tidak salah sarah dan membentur siapa saja yang tidak searah.

Fakta di lapangan berbeda, bahkan bertolak belakang, dengan utopia idealis di atas. Penjara, menurut pengalaman dan tuduhan banyak orang, justru menjadi tempat orang yang lebih jahat mengajari orang yang kurang jahat sehingga maling kecil bisa berubah menjadi perampok kelas kakap begitu keluar dari penjara. Itu jugalah yang merupakan tesis Petr Kropotkin di dalam tulisan gurihnya Prison: Universities of Crime yang merupakan up date dari bukunya yang legendaris In Russian and French Prisons. Mengapa? Karena para kriminal itu dididik oleh orang yang ahli.

Bisa juga karena penjara yang seharusnya membuat orang kapok justru ruang bergembok yang membuat penghuninya aman dan nyaman melakukan tindak kejahatan di dalamnya, misalnya justru menjadi bandar narkoba. Kebebasan yang didapat dengan cara membayar upeti kepada para penegak hukum, termasuk kalapas membuat mereka bebas. Kasus narapidana yang bisa menyaksikan pertandingan olahraga di luar pulau merupakan bukti adanya kasus main mata ini. Liputan eksklusif Najwa Shihab dari penjara semakin membuktikan bahwa praktik ini nyata dan ada.

Kenyamanan hidup disertai pengamanan maksimal justru membuat penghuni betah di dalam. Sudah menjadi rahasia umum bahwa ada penjara tertentu-jika tidak boleh mengatakan semuanya-yang bisa membeli kamar beserta fasilitasnya. Semakin besar dan mewah perlengkapan di dalamnya, semakin dalam juga narapidana itu merogoh koceknya.

Penjara Tempat Tetirah dan Kawah Candradimuka

Mungkin inilah yang cocok bagi seorang Ahok. Di dalam penjara, seperti cerita para sahabat dan Ahokers yang banyak diunggah di media sosial, di dalam penjara Ahok justru lebih rajin membaca kitab suci. Bukan hanya rohaninya yang mendapatkan siraman, Ahok pun menempa jasmaninya. "Pak Ahok kelihatan lebih sehat dan kekar," ujar seorang sahabatnya dari balik jeruji Mako Brimob.

Selain sebagai tempat tetirah, penjara juga merupakan Kawah Candradimuka yang mengikis sisi negatif Ahok. Di penjara dia belajar untuk bersikap dan bertutur kata lebih santun. Selama ini dia dikenal sebagai pemimpin yang gampang sekali mengeluarkan kata-kata "kasar" yang tidak enak didengar, khususnya bagi orang yang biasa hidup di lingkungan yang berunggah-ungguh. Entah dari mana Ahok belajar kata-kata keras itu, namun dia menyadari bahwa agar bisa memimpin dengan baik, dia pun perlu menghargai respons orang-orang yang dipimpinnya. Ahokers die hard membelanya dengan berkata, "Jika tidak ditegasi, perilaku menyimpang tidak bakal bisa ditumpas."

Dengan pengalaman hidup di dalam penjara hampir dua tahun, apakah nama dan karier Ahok hancur atau semakin meluncur, bercahaya atau meredup? Untuk nama, saya rasa nama Ahok justru semakin populer. Setiap tulisan di media sosial yang mencantumkan namanya sebagai judul mendapatkan viewer dan like serta komentar yang cukup banyak. Tulisan saya di detikcom Masihkah Anda Mengidolakan Ahok setahun lalu mendapat komentar sebanyak dua ratus.

Bagaimana dengan karier? Meskipun sudah di-sounding oleh banyak media, bahwa Ahok akan melakukan ini dan itu, karier Ahok masih belum menentu. Pilihannya setelah keluar dari penjara sedikit banyak berpengaruh di sini. Apakah dia mau menjadi usahawan seperti semula, pembicara publik atau bahkan Youtuber atau vlogger, kembali ke darah dagingnya sebagai politisi, atau --ini yang paling heboh-- menikah dengan Puput, kita tunggu saja pernyataannya sendiri.

Jika visi misinya --seperti yang diamanatkan almarhum ayahnya-- mengangkat derajat Indonesia agar sejajar bahkan melampaui negara maju, masih menjadi api yang tak kunjung padam, saya percaya Tjahaja Purnama Basuki akan semakin bersinar, sehingga pernyataannya, "Panggil saya BTP" justru menjadi titik balik kehidupannya. Selamat menghirup udara bebas, BTP!

Xavier Quentin Pranata pelukis kehidupan di kanvas jiwa

(mmu/mmu)