detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 23 Januari 2019, 14:00 WIB

Kolom

Sisa dan Sisi Lain Tsunami Selat Sunda

Muhamad Jalil - detikNews
Sisa dan Sisi Lain Tsunami Selat Sunda Waymuli pasca-tsunami (Foto: Dok. Plt Kadis Kominfo Lampung Selatan Sefri Masdian)
Jakarta -

Waymuli adalah salah satu desa yang terkena dampak tsunami Banten dan Lampung Selatan pada 22 Desember 2018 lalu. Waymuli bersama desa lain seperti Banding, Canti, Kalianda, Kenali, Kunjir, Maja, Pangkul, Rajabasa, dan Waymuli Timur adalah desa-desa yang berada di pesisir Lampung Selatan yang tak luput dari terjangan tsunami Selat Sunda yang diperkirakan setinggi 7-10 meter.

Desa Waymuli diperkirakan memiliki jumlah penduduk sebanyak 1300 orang. Yang terdiri dari 502 laki-laki, 428 perempuan, 165 anak laki-laki, dan 205 anak perempuan.

Hasil penelusuran langsung di pusat informasi yaitu Masjid Jami Miftahul Falah Waymuli didapat informasi sebanyak 23 orang meninggal dunia lantaran bencana tersebut. Dengan rincian 5 laki-laki dewasa, 13 perempuan dewasa, 2 anak laki-laki, dan 3 anak perempuan. Adapun yang belum ditemukan sebanyak 1 orang. Warga yang luka berat sebanyak 27 orang dan luka ringan ada 60 orang.

Tsunami tak hanya merenggut nyawa yang membuat masyarakat berduka, tetapi juga merusak bangunan rumah, sekolah, dan fasilitas umum lainnya. Tercatat terdapat 69 rumah rusak berat dan rumah 35 dikatagorikan rusak ringan. Mereka yang kehilangan rumahnya sementara dibuatkan tenda-tenda yang lebih aman.

Akibat tsunami aktivitas nelayan kecil di Waymuli lumpuh total. Pasalnya sebanyak 66 perahu dinyatakan rusak berat, sehingga mereka belum bisa melaut. Kekhawatiran akan terjadi tsunami susulan masih menghantui masyarakat Waymuli, sebab isu tentang erupsi Gunung Anak Krakatau terus berembus di pelbagai media sosial.

Badai tsunami juga menghempaskan toko kecil dan bengkel di sekitar desa. Data dari lurah setempat melaporkan ada 21 toko dan bengkel yang jadi amukan tsunami pada malam hari kejadian. Dengan kejadian ini, mobilitas masyarakat dalam bidang ekonomi jadi tersendat.

Untuk sementara masyarakat sebagian hidup di pengungsian sementara yang dibangun warga bersama TNI. Ada 349 penduduk yang menyebar di berbagai tempat. Tiga minggu pasca-tsunami, masyarakat masih menggantungkan uluran tangan dari donatur dari berbagai instansi. Para relawan juga masih banyak ditemui di pesisir Lampung.

Mobil-mobil truk pemuat bantuan masih lalu-lalang memenuhi jalan Kalianda-Waymuli. Dapur umum dan posko bencana sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan fisiologis dan kesehatan sehari-hari bagi warga yang terkena dampak langsung tsunami.

Hantaman air tsunami membuat masyarakat dihinggapi rasa traumatik yang mendalam. Bagaimana tidak, mereka harus mengungsi setiap malam pasca-tsunami ke tempat yang lebih tinggi. Sangat wajar, sebab mereka takut kejadian gelombang tsunami terulang kembali. Tsunami jelang tahun baru itu sangat menghantam sisi psikologi Waymuli secara khusus dan masyarakat Selat Sunda pada umumnya. Mereka telah kehilangan sanak keluarga dan orang-orang yang dicintai akibat hanyut atau tertimpa reruntuhan puing-puing bangunan rumah.

Menurut penuturan warga, tsunami ini agak terlihat berbeda dengan tsunami Palu dan Aceh. Tsunami yang sudah-sudah diawali dengan gempa tektonik, sehingga warga bisa langsung bergegas menyelamatkankan diri ke tempat yang lebih aman. Tetapi, tsunami Selat Sunda tidak ada tanda-tanda alam yang dapat dijadikan petunjuk warga untuk mengidentifikasi --terjadinya tiba-tiba dan seketika itu. Hanya 2-3 kali gelombang tinggi mampu menggulung rumah-rumah di tepi pantai dalam hitungan menit. Dan disertai mati lampu karena PLN padam.

Warga hanya "diuntungkan" dengan waktu kejadian yang terhitung masih sore yaitu jam 21.30 WIB. Masyarakat tak dapat membayangkan jika tsunami terjadi pada tengah malam pada saat orang terlelap tidur --akan memakan jumlah korban yang lebih banyak. Apalagi rumah-rumah para nelayan di Lampung Selatan rata-rata berdekatan dengan garis pantai. Hal ini juga menjadi kekhawatiran warga apabila tsunami benar-benar kembali terulang.

Tsunami yang menelan banyak korban sudah seharusnya menjadi introspeksi bersama. Hal yang patut menjadi perhatian pemerintah pusat dan daerah setidaknya ada dua hal yang perlu diprioritaskan. Pertama, penertiban hunian di sekitar pantai atau Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang terstandar. Di Surabaya, misalnya, bangunan tidak boleh dibangun berjarak kurang 1000 meter dari garis pantai. Rata-rata korban tsunami di Selat Sunda adalah mereka yang langsung berbatasan dengan bibir pantai.

Di sepanjang jalan pesisir pantai Lampung Selatan sudah susah ditemui hutan-hutan bakau. Bukit-bukit bibir pantai yang harusnya dapat melindungi dari gelombang tsunami justru banyak diratakan untuk kepentingan pribadi. Eksploitasi ekologi pantai berlebihan. Banyak berdiri dan berjejer resort, pabrik, dan rumah-rumah penduduk menunjukkan wawasan ekologis masyarakat masih rendah.

Pemerintah daerah harus tegas dalam menangani persoalan yang pelik ini. Dimulai dari merelokasi seluruh rumah yang dikatagorikan rusak berat ke tempat yang lebih aman. Bentang alam di Lampung Selatan tak hanya pantai, tetapi juga berupa pegunungan. Warga bisa dipindah di daerah yang lebih aman dari jangkauan tsunami yang lebih besar.

Kedua, BMKG sudah seharusnya menyediaan alat pendeteksi dini tsunami agar kejadian serupa tidak terulang. Masyarakat harus dipahamkan bahwa Indonesia masuk dalam negara cincin api. Dipertemukan dua lempeng yang sewaktu-waktu dapat bergeser akibat aktivitas tektonik dan vulkanik. Cincin api juga menyebabkan ditemukan banyak gunung berapi yang aktif mengeluarkan magma pijar. Termasuk anak Krakatau yang sewaktu-waktu dapat erupsi lagi.

Dengan edukasi sains yang baik, maka jumlah korban tsunami dapat ditekan angkanya. Masyarakat harus diberikan sosialisasi bagaimana menghadapi pra dan pasca-tsunami. Karena tidak sedikit korban berguguran justru bukan akibat gelombang tsunami, melainkan karena kepanikan.

Dua hal itulah yang setidaknya akan dapat menghindari korban berjatuhan akibat tsunami. Belum lagi dampak kerugian material maupun non-material yang disebabkan gelombang tsunami sungguh dahsyat. Rumah rubuh, puskesmas hancur, masjid rusak, dan perahu nelayan terdampar.

Kita tidak mau menjadi negara yang selalu jatuh pada lubang yang sama. Kita tidak cukup hanya prihatin, tetapi harus benar-benar belajar dari tsunami Selat Sunda, khususnya di Waymuli. Karena ternyata tsunami datang tidak selalu membawa kabar alam terlebih dahulu. Dia dapat dapat datang kapan saja dan di mana saja.

Muhamad Jalil dosen IAIN Kudus dan mahasiswa Program Doktor Biologi UGM


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed