DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 21 Januari 2019, 10:15 WIB

Kolom Kang Hasan

Revolusi Pengetahuan

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Revolusi Pengetahuan Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Kalau seseorang yang hidup pada abad X ditidurkan, kemudian dibangunkan kembali pada abad XV atau bahkan XVII, ia tidak akan terlalu bingung dengan perubahan kehidupan di sekelilingnya. Di abad X orang masih bepergian dengan kereta kuda melewati jalan tanah, naik perahu layar, belanja dengan sepotong emas, berperang dengan pedang dan panah. Pada abad XV, setelah berlalu 5 abad secara garis besar kehidupan masih seperti itu.

Akan berbeda halnya dengan seseorang yang hidup pada tahun 1919 yang ditidurkan, kemudian dibangunkan pada tahun 2019, ia akan bingung dengan begitu banyak perubahan yang ia saksikan. Pada 1919 ia mungkin hanya sekali dua pernah melihat mobil, atau bahkan belum pernah melihat sama sekali. Ia juga belum pernah melihat pesawat terbang, telepon, komputer, kartu kredit, dan sebagainya. Semua itu menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi orang yang hidup pada 2019.

Cerita andai-andai tadi adalah ilustrasi tentang perubahan yang ditimbulkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan. Pada setiap zaman manusia terus memperbaharui pengetahuannya. Setiap zaman diwakili oleh kemajuan yang dibuatnya. Tapi, kemajuan-kemajuan itu seperti tidak ada artinya dibanding kemajuan mutakhir. Kita sedang berada pada zaman ketika pengetahuan manusia sedang menanjak drastis.

Kalau kita amati sejarah komputer, perkembangannya betul-betul mencengangkan. Komputer generasi pertama, yang fungsinya hanya untuk melakukan perhitungan tambah-kurang-kali-bagi, memerlukan suatu ruangan besar untuk meletakkannya. Kini fungsi itu hanya sebuah bagian yang sangat kecil pada sebuah tablet yang kita genggam.

Saya yang mengenal komputer pada akhir dekade 80-an masih menyaksikan zaman ketika operating system komputer disimpan dalam sebuah disket berkapasitas 360 kilobyte. Kini disket bahkan tidak lagi wujud. Pada 1995 saya bahagia punya komputer dengan harddisk 500 MB, merasa itu sudah sangat besar. Kini kapasitas sebesar itu bahkan tidak lagi tersedia pada flash disk.

Kemajuan teknologi komputer menjadi katalis bagi perkembangan teknologi lain. Zaman dulu orang perlu bekerja bertahun-tahun melakukan percobaan reaksi kimia untuk memperoleh bahan kimia baru. Kini banyak hal bisa dipangkas. Desain molekul yang rumit bisa dilakukan dengan simulasi komputer. Setelah didapat, tinggal dilakukan proses reaksi di laboratorium.

Desain material, termasuk semikonduktor, magnet, dan superkonduktor juga banyak ditolong oleh perhitungan-perhitungan yang dibuat oleh komputer. Dari riset-riset itu ditemukan bahan-bahan canggih, yang membuat komputer makin cepat dan canggih kerjanya. Ini nanti akan membuat riset-riset menjadi lebih cepat lagi. Komputer adalah amplifier bagi perkembangan pengetahuan manusia.

Yang kita lihat hebat ketika kita menoleh ke belakang, akan tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan apa yang akan terjadi di masa depan. Berbagai lompatan besar akan terjadi, dan akan makin membesar. Laju perkembangan teknologi dalam setahun di masa depan mungkin akan mengalahkan perkembangan selama seabad di masa lalu.

Kunci penting dalam sejarah umat manusia, yang membuatnya berbeda dari hewan-hewan spesies lain adalah terjadinya cognitive revolution. Manusia mengalami revolusi dalam kemampuannya menyerap dan mengolah informasi, juga mengembangkan imajinasi, membuat spesies Homo sapiens mampu melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh hewan dari spesies lain, termasuk manusia dari spesies lain. Kuncinya adalah perubahan perilaku manusia tidak lagi didahului oleh perubahan struktur biologis-genetiknya. Kita telah tumbuh menjadi manusia yang jauh melampaui kemampuan biologis alami kita.

Perubahan struktur otak akibat evolusi diperkirakan membuat manusia mampu melakukan perubahan kognitif tadi. Tapi, itu kini tinggal menjadi sejarah. Kita sedang menjalankan sebuah revolusi yang jauh lebih besar dari revolusi kognitif yang terjadi 70 ribu tahun yang lalu. Revolusi ini tidak lagi tergantung pada perkembangan volume otak manusia.

Manusia kini sudah membangun otak tambahan di luar tubuhnya, yaitu komputer tadi. Keterbatasan memori otak ditutup oleh memori komputer. Demikian pula keterbatasan kemampuan melakukan perhitungan, kini ditutup oleh komputer. Komputer bisa terus bekerja saat manusia sedang tidur.

Komputer tidak lagi berpikir seperti mesin yang kita bayangkan pada tahun 90-an. Komputer sekarang sudah bisa belajar dan mengoreksi kesalahannya. Orang mengembangkan machine learning yang membuat komputer bisa mendeteksi dan mengoreksi kesalahannya sendiri. Tentu saja komputer tidak akan berpikir persis seperti manusia, karena tidak perlu. Komputer akan terus berkembang menjadi partner bagi manusia dalam berpikir.

Perkembangan terjadi sangat cepat di semua bidang. Di bidang biologi manusia sudah melakukan banyak rekayasa genetika, mengubah sifat makhluk-makhluk hidup dari yang dulu kita saksikan hidup di alam, menjadi makhluk yang sangat berbeda. Misalnya nyamuk sedang direkayasa, sehingga nantinya nyamuk yang hidup tak lagi bisa menularkan virus malaria.

Manusia sedang mengalami revolusi pengetahuan. Sayangnya tidak semua manusia. Hanya segelintir saja. Manusia kebanyakan adalah orang-orang yang tidak begitu sadar dengan perkembangan itu. Sebagian malah tingkat pengetahuannya masih seperti orang yang hidup pada abad X atau abad XV. Pada abad XXI ini masih banyak orang mempertahankan pengetahuan abad XV, misalnya dengan menganggap bumi ini datar.

Di belahan lain masih ada pula manusia yang hidup dengan pengetahuan dan cara hidup manusia zaman batu. Masih ada orang yang hidup seperti di zaman berburu dan meramu. Banyak orang beranggapan bahwa alam ini diatur oleh kekuatan gaib, dan mereka melakukan ritual-ritual pemujaan agar sang gaib itu berbaik hati, sehingga mengatur alam ini untuk tidak mencelakai manusia.

Revolusi pengetahuan akan membuat jurang yang makin lebar dalam hal perbedaan pengetahuan manusia. Di satu sisi manusia sedang berpikir tentang bagaimana merekayasa DNA makhluk hidup, di sisi lain masih ada manusia yang berpikir bahwa makhluk hidup itu terdiri dari ruh yang bisa berpindah ke dunia lain.

Suka atau tidak, orang-orang yang mengembangkan pengetahuan dan teknologi adalah yang memegang kendali. Mereka tidak hanya mengubah benda-benda dan hewan, tapi juga mengubah perilaku manusia. Termasuk manusia yang tidak mengubah pengetahuannya tadi. Ada banyak manusia yang dipaksa melompati banyak proses sejarah, akibat produk teknologi yang menyeruak masuk ke kehidupan mereka tanpa bisa mereka cegah.

Dulu perbedaan kemajuan menghasilkan imperialisme. Orang yang mampu membangun teknologi pelayaran dan militer menjajah bagian dunia yang belum maju. Kini itu tidak perlu dilakukan. Dengan memantau di layar komputer kini orang bisa mengubah banyak hal di tempat-tempat yang jaraknya ribuan kilometer dari tempat ia berada. Ia bisa mengendalikan politik, ekonomi, bahkan cara manusia beragama.

Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed