Sepuluh Tahun Merayakan Diri Sendiri

Kolom Kalis

Sepuluh Tahun Merayakan Diri Sendiri

Kalis Mardiasih - detikNews
Jumat, 18 Jan 2019 15:48 WIB
Kalis Mardiasih (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Kalis Mardiasih (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Beberapa kenyataan seringkali sinematik sekaligus ganjil. Seorang perempuan bercadar yang mengaku berasal dari Makassar datang ke Jakarta. Lewat jalur darat lalu disambung naik kapal, total perjalanan kurang lebih empat hari. Ia datang ke kampus PTIQ Jakarta bermodal selembar kertas bertulis nama Dr. Nur Rofiah. Staf PTIQ kemudian membawa perempuan itu ke rumah Dr. Nur, guru sekaligus mentor saya dalam belajar isu-isu keadilan gender.

Lewat ponsel Dr. Nur, saya melihat mata perempuan itu. Suaranya riang. Sepuluh hari lagi ia harus operasi kanker leher, katanya. Dan oleh sebab itu, sebelum ia takut suaranya benar-benar terbatas, ia ingin mengucapkan terima kasih sebab tulisan-tulisan saya sempat mampir menjadi letupan yang memperpanjang semangat hidupnya. Sepuluh tahunan lalu, ia masuk Islam setelah bertemu gagasan keislaman Gus Dur.

Kedua bola matanya kecil. Konon, seorang preman melempar kaca ke arah matanya pada Kerusuhan 98. Kakaknya yang hamil meninggal. Nenek dan ibunya hidup dalam depresi setelah menjadi korban kekerasan. Cadar di wajahnya adalah sesuatu yang bersifat ideologis sekaligus pragmatis. Para pelacur di kampungnya kini banyak pula yang memakai kerudung, sehingga ia merasa perlu mengikat kain penutup pada wajah supaya berbeda.

Sore hari, ketika saya masih berpikir keras tentang bagaimana potongan kisah dari jarak dan dimensi kemanusiaan yang jauh saling terikat dengan nasib yang lain, sebuah nama di linimasa menulis sebuah permohonan yang tampak serius. Teman dari masa kecil saya itu dulu seorang model sekaligus mayoret. Ia telah menikah dan kini berpakaian tertutup, lengkap dengan kain cadar pada wajah.

Ketika orang-orang meramaikan #10yearschallenge dengan memajang potret diri sepuluh tahun lalu disandingkan dengan potret hari ini, ia begitu ketakutan. Ia memohon kesanggupan siapa saja untuk tidak menyebarluaskan potret dirinya di masa lalu.

"Saya mohon dengan sangat. Saya tidak tenang," katanya.

Menarik melihat problem keterusikan perkara aurat lebih dikenal sebagai beban perempuan dibanding laki-laki. Laki-laki jarang memiliki rasa ketidaktenangan untuk urusan ketubuhan dengan konsekuensi yang bersifat teologis ini. Pada perempuan, pakaian berkembang menjadi alat ukur moralitas. Semakin tertutup, semakin sopan. Sebaliknya, semakin terbuka, semakin sundal. Sebagian ustaz belakangan menjatuhkan fatwa pada perempuan yang berfoto. Setiap foto yang diunggah ke media sosial dan menjadi konsumsi lawan jenis diancam dengan dosa jariyah yang dapat berlipat sesuai jumlah keimanan lawan jenis yang runtuh dikali berapa ribu hari ia beredar.

Menarik, mengingat bahwa istilah dosa jariyah justru tidak pernah muncul sebelumnya untuk menghukumi perilaku kekerasan dalam rumah tangga atau perilaku korup, misalnya. Tetapi, teman saya itu betul-betul menangis demi mengingat dan menghitungi dosa jariyah yang meliputi foto-foto masa lalunya. Logika saya kesulitan menerima logika ketakutan itu. Jika ada laki-laki sakit jiwa yang terpaksa ereksi karena foto masa lalu, tentu harusnya laki-laki itu yang lebih repot agar kelaminnya tidak tegang mendadak terus menerus. Tuhan, dalam keyakinan subjektif saya, tidak mungkin memiliki waktu untuk melipatgandakan dosa seseorang berdasarkan jumlah likes serta rentang waktu unggahan hanya karena seorang hamba pernah berfoto.

Orang-orang punya pemaknaan masing-masing soal waktu yang juga menjadi faktor elementer perayaan tantangan 10 tahun itu. Waktu membuat manusia menjadi sosok yang benar-benar berbeda, entah itu dalam hal berat badan, berpasangan dan berketurunan, kepemilikan bendawi, hingga keyakinan spiritual. Waktu membuat manusia tidak ke mana-mana. Usia bertambah, tetapi hidup tetap begitu-begitu saja. Di linimasa, ada kedua tipe tersebut: mempresentasikan perbedaan dan mempresentasikan kondisi yang ia rasa statis. Orang-orang juga mengutuki perayaan itu sebab waktu yang dibangun selama bertahun-tahun untuk melupakan kejahatan hingga kesedihan sebab kematian seseorang terpaksa dibongkar dengan terjangan kampanye unggahan massa yang amat banal.

Manusia memiliki waktu yang sama-sama 24 jam. Perempuan dari Makassar dengan kanker pada leher itu memakai waktu 24 jam untuk menemani ibu yang depresi sambil membuat pernak-pernik apa saja yang dapat ia jual. Dosa baginya adalah ketika tidak bisa membawa sang ibu pergi berobat. Sedangkan si teman mayoret itu, kebetulan punya suami yang punya pekerjaan mapan. Dalam 24 jam, ia membagi waktu antara memasak di dapur, mengasuh tiga anak lelakinya, dan memastikan aktivitas suaminya berjalan lancar. Di sela-sela pekerjaan rumah, ia mendengarkan ceramah tokoh agama yang membuat sedikit waktunya harus ditransmisikan untuk memastikan bahwa aurat yang melingkupi seluruh tubuhnya tidak menjadi dosa jariyah yang akan mengirimnya ke neraka.

Seorang pekerja kantoran di ibu kota memproduksi dosa ketika mesti me-mark up anggaran agar ia dapat menyisihkan sebagian keuntungan untuk menebus tanggungan utangnya. Para pejuang lingkungan di Rembang, Papua Barat, dan Banyuwangi merasa 24 jam terlalu sesak untuk menagih komitmen pemerintah terhadap alam dan keberlangsungan hajat anak cucu di masa mendatang.

Seorang teroris memberi kesaksian bahwa kepercayaannya pada ekstremisme sama sekali bukan perkara transeden. Ketika beranjak remaja, rumah masa kecilnya dihancurkan oleh aparat demi pembangunan sebuah apartemen bersamaan dengan hancurnya seluruh cerita dan kenangan tentang orang-orang yang ia sayang. Ia merasa berdosa jika tidak sanggup menuntut balas pada dendam itu. Toh, media nasional dan internasional telanjur mendehumanisasi semua teroris menjadi sosok yang lepas dari ciri-ciri kemanusiaan.

Perayaan kepada waktu sesungguhnya tak lebih dari perayaan karikaturis. Manusia tertawa sebab ia masih mampu bertahan menjalankan 24 jam per hari yang ia miliki dikalikan masa sepuluh tahun yang panjang. Ia lalu terheran-heran, zat apa saja yang masuk ke perutnya sehingga memberikan perubahan yang ekstrem untuk lingkar pinggangnya. Ia sekuat tenaga mengapresiasi diri sendiri sebagai seorang laki-laki yang kini bertanggung jawab kepada satu istri dan empat anak usia SD. Ia terkadang malu-malu menampakkan semuanya, sebab baginya tak ada hal yang perlu dirayakan selain kutukan-kutukannya kepada Tuhan yang baginya tak lebih dari sosok pemberi kesialan demi kesialan.

Manusia, kata Pangeran Cilik rekaan Antoine De Saint-Exupery, adalah makhluk yang menjejalkan diri ke dalam kereta api kilat, tetapi lupa apa yang mereka cari. Mereka itu pontang-panting dan hilir mudik....

Kalis Mardiasih menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa lewat @mardiasih
(mmu/mmu)