DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 15 Januari 2019, 13:00 WIB

Kolom

Sporadisme Produk Non Jurnalisme

Pundra Rengga Andhita - detikNews
Sporadisme Produk Non Jurnalisme Foto: BBC World
Jakarta -
Sebagian konflik di wilayah publik adalah keributan yang diperkuat oleh internet dan media sosial. Internet mengumpulkan factoid (pernyataan palsu yang disajikan sebagai fakta atau berita yang sebenarnya) dan gagasan setengah matang, lalu menyebarkan semua informasi dan pikiran buruk itu ke seluruh dunia elektronik (Tom Nichols, 2018).

Kita tentu tidak lupa bagaimana Indonesia pernah masuk dalam masa kelam jurnalisme. Suatu masa ketika kontrol penguasa lebih dominan daripada tujuan jurnalisme. Akses informasi masyarakat begitu terbatas, alirannya tidak jauh dari kepentingan penguasa. Sedikit saja rasa peka dan kritis muncul di pemberitaan, maka ada konsekuensi tegas yang harus diterima oleh lembaga ataupun wartawannya.

Syukurlah masa itu akhirnya terlewati. Pada tahun 1999, ada angin segar yang makin mengimplementasikan kedaulatan informasi, yakni ditetapkannya UU No 40 Tahun 1999 tentang pers. UU ini memantapkan jaminan akan kemerdekaan berserikat, berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan. Adanya UU ini mendorong lahirnya produk jurnalisme yang makin variatif, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Non Jurnalisme

Seiring kehadiran internet, keterbukaan jurnalisme kita menghadapi "musuh" baru yakni sporadisme produk non jurnalisme. Produk ini menembus berbagai tingkatan masyarakat tanpa melihat kesiapan masyarakat dalam mencerna informasi yang diaksesnya. Informasi ini acap diterima sebagai pengetahuan baru bagi masyarakat. Jenis pengetahuan yang berbasis pada kebenaran fungsional. Kebenaran yang difungsikan sesuai kebutuhan produsennya. Ada garis pembatas yang luntur antara kepakaran dan warga masyarakat karena semuanya bisa menjadi produsen.

Pertemuan antara produk jurnalisme dan non jurnalisme semakin masif. Sayangnya, produk non jurnalisme cenderung digunakan untuk mengarahkan masyarakat agar menjadi skeptis terhadap produk jurnalisme. Eksesnya, produk jurnalisme yang disajikan media massa mainstream yang dulu menjadi acuan masyarakat sering di udutkan validitasnya. Bahkan kredibilitas lembaganya dikikis oleh pandangan masyarakat yang bersumber dari produk non jurnalisme.

Memisahkan antara produk jurnalisme dan non jurnalisme ini bisa mudah bagi pegiat literasi media. Hanya saja tidak semua masyarakat memahami hal tersebut. Masyarakat perlu memahami bahwa produk jurnalisme memiliki tata laku yang menjadi pakem. Kovach dan Rosenstiel (2001) menyebutnya dengan istilah sembilan elemen jurnalisme. Kesembilannya adalah kebenaran, loyalitas pada warga, disiplin verifikasi, independensi, pemantau kekuasaan, penyediaan forum publik, penekanan hal penting dan relevan, menjaga komprehensif dan profesional, serta para praktisinya diperbolehkan mengikuti nurani mereka.

Insan jurnalis yang menjalani profesinya dengan tulus sangat memperhatikan elemen tersebut. Adapun persebaran produk non jurnalisme seringnya melalui media sosial atau aplikasi perpesanan. Di saluran ini asumsi yang bersumber dari subjektivitas sangat mudah mengecoh masyarakat seolah-olah memuat unsur objektivitas. Subjektivitas dekat dengan prasangka. Nantinya informasi yang disajikan bukan lagi sebagai fakta positif atau negatif, melainkan bisa saja ketiadaan fakta.

Jangan berharap kita bisa menemukan editor di produk non jurnalisme. Konsep gatekeeper tidak lagi menjadi perhatian. Kecepatan lebih penting daripada akurasi dan validitasnya. Potongan informasi yang ada disambung dengan asumsi produsennya melalui kemasan alur yang runut, penyajian latar yang mendukung, dan pilihan kata yang menyentuh sanubari. Sering juga sumbernya adalah anonimitas. Perpaduan itu sudah cukup untuk mempengaruhi persepsi masyarakat agar menerimanya sebagai informasi tunggal. Padahal jika ditelusuri lebih jauh, kualitas data dan narasumber yang disajikannya belum pasti dapat dipertanggungjawabkan.

Cyberspace

Media sosial, aplikasi perpesanan, dan jenis daring lainnya telah melahirkan jenis ruang publik baru, yakni cyberspace. Ruang ini menyediakan aliran informasi yang tanpa batas dan menimbulkan ketergantungan masyarakat. Informasi yang didapatkan melalui ruang ini hampir selalu menjadi acuan masyarakat untuk kemudian dikembangkan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Demikian pula ketika ada keributan di ruang ini. Keributan bisa berpindah dengan mudah ke tengah-tengah masyarakat. Ketika bahasannya mengarah pada kontestasi, pro dan kontra, maka keributan itu bisa memunculkan potensi perpecahan masyarakat.

Kita perlu memahami bahwa selama ini masyarakat menggantungkan perolehan informasinya dari media. Masyarakat sangat mengandalkan media untuk menjadi tahu. Lantas, ketika ruang ini memberikan keleluasaan untuk munculnya produk non jurnalisme, maka bisa porak porandalah referensi yang diyakini masyarakat. Sungguh, ruang ini memerlukan kontrol yang sangat selektif.

Jakob Oetama (2001) mengungkapkan, dalam zaman cyberspace kebebasan media melekat pada media itu sendiri. Teknologinya menerobos ke mana-mana, borderless, tidak bisa diatasi oleh aturan dan perundangan. Karena itu, yang terbaik adalah mempersiapkan masyarakat untuk menghadapi kondisi baru itu.

Singkat kata, pers sebagai ujung tombak lahirnya produk jurnalisme jangan sampai dikerdilkan oleh masyarakat itu sendiri. Catatan sejarah mengenai kemitraan harmonis antara masyarakat dan pers senantiasa terjalin. Oleh karenanya ikatan ini perlu dijaga dengan baik, selaras dengan pembangunan masyarakat.

Pundra Rengga Andhita dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Ketua Mata Garuda LPDP Provinsi Jawa Tengah


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed