Kolom

'DILDO' dan Massa yang Lelah

Reinard L Meo - detikNews
Senin, 14 Jan 2019 14:45 WIB
Foto: Dok. Instagram @nurhadi_aldo
Jakarta -

Satu dari sejumlah topik rangkap polemik yang sedang seru-serunya jadi perbincangan pada awal 2019 dalam hampir semua ruang diskusi, lebih-lebih dalam media sosial, ialah munculnya Paket 'DILDO'. Paket tandingan terhadap Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandi ini merupakan paket yang diusung dan selanjutnya dikampanyekan secara masif-efektif oleh tim suksesnya sendiri. Nurhadi benar-benar ada, bukan tokoh fiktif, tukang urut asal Kudus. Sedang Aldo, tokoh fiktif belaka.

Munculnya Paket 'DILDO' direspons dengan sangat gesit dan tak kalah kreatif oleh warganet. Adapun indikator kegesitan itu, belakangan ini, dapat dilihat dari dua hal. Pertama, jumlah follower baik di Facebook, Instagram, maupun Twitter yang melonjak cepat pada minggu kedua setelah akun-akun ini diluncurkan. Kedua, jumlah netizen yang men-share meme-meme dengan design konvensional sebagaimana design paslon atau pun caleg pada umumnya. Saya sendiri mengetahui kemunculan 'DILDO' lewat indikator kedua, yang semuanya itu juga mampir di linimasa saya.

Awalnya, timses 'DILDO' menyebarkan design-design unik dengan konten yang segar lagi kenyal. Makin ke sini, teman-teman Facebook saya mulai mengunggah dan mentahbiskan diri mereka sendiri sebagai relawan maupun caleg dari partai pengusung 'DILDO', Partai Untuk Kebutuhan Iman.

Kritik dan Kreativitas

Bagi saya, 'DILDO' tidak sekadar paket tandingan. 'DILDO' lebih substansial dari itu. 'DILDO' adalah kritik.

Pertama, dalam istilah kesehatan, dildo adalah sebuah benda yang terbuat dari plastik atau karet, berbentuk seperti penis, berfungsi sebagai pengganti alat untuk penetrasi. Disadari atau tidak, singkatan 'DILDO' dari Nurhadi-Aldo berikhtiar membawa kembali term-term atau istilah-istilah yang sudah sejak lama dikebiri oleh jargon-jargon moral yang dijamin agama-agama. 'DILDO' membawa kembali seksualitas dengan segenap perangkatnya ke ruang obrolan yang sudah sejak lama dipagari oleh formula-formula etis yang terlampau baku-kaku. 'DILDO' adalah sebuah kesadaran baru, kritik atas kemapanan.

Kedua, 'DILDO' adalah kreativitas. Kita tentu sepakat, timses 'DILDO' adalah sekumpulan orang yang sudah kreatif sejak dalam ide. Di tengah minimnya imajinasi dan kreativitas para politisi kita dengan sekumpulan timsesnya, kehadiran 'DILDO' merupakan catatan penting agar para politisi dan timsesnya mampu keluar dari pakem klasik-lumrah. Bila politik adalah seni, 'DILDO' tengah berada di jalur yang benar untuk mengembalikan hakikat itu. Design yang provokatif lengkap dengan konten yang nyeleneh dan bikin ngakak merupakan upaya timses 'DILDO' membawa politik pulang kembali ke nada dasarnya sebagai seni pertarungan imajinasi, gagasan, juga ide.

'DILDO' adalah Kita

'DILDO', kalau kita serius mendalaminya, merupakan jawaban atas sejumlah kealpaan. Selain kealpaan imajinasi dan kreativitas, juga kealpaan-kealpaan yang lebih mendasar yang ada dalam kubu Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandi, seperti kecenderungan kedua kubu yang lebih sibuk menyerang pribadi masing-masing, alih-alih menyampaikan gagasan tepat pada aspek-aspek krusial yang dibutuhkan bangsa ini. 'DILDO' hadir mengisi kealpaan itu lewat kemasan yang up to date dan disenangi generasi milenial.

'DILDO' adalah kita. Kita yang mulai lelah menghadapi segala macam pertunjukan dan permainan kedua kubu. 'DILDO' adalah kita yang lelah menanti pertanggungjawaban atas penyelesaian sejumlah kasus HAM sebagaimana dijanjikan Jokowi pada 2014 lalu. 'DILDO' adalah kita yang lelah menyaksikan watak keras Prabowo dengan sejumlah pernyataan kontroversialnya yang diskriminatif. 'DILDO' adalah kita yang lelah menghadapi betapa hoaks jauh lebih subur dibanding akal sehat. 'DILDO' adalah kita yang lelah membaca saling klaim hasil survei, adalah kita yang sama sekali tidak menemukan gagasan-gagasan baru dan kontekstual sesuai kebutuhan sosial bangsa ini.

Akhirnya, wajah ganda 'DILDO' adalah wajah kita, massa yang lelah ini. Wajah yang membutuhkan hiburan di tengah situasi politik yang gaduh, saling sikut yang memualkan, juga saling tuding yang bikin pening. Wajah yang terpaksa menciptakan hiburannya sendiri, karena politisi kita gagal mengembalikan politik sebagai sebuah seni, sebuah komitmen untuk lebih baik dari hari ke hari lewat kemasan yang selaras zaman.

Bila 'DILDO' berhasil mempengaruhi psikologi massa, kita yang lelah ini, sampai hari H nanti, maka saya akan mengucapkan, "Selamat datang golput terakbar sepanjang sejarah pemilu Indonesia!"

Reinard L. Meo freelancer dan relawan, tinggal di Bajawa, Flores, NTT



(mmu/mmu)