DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 14 Januari 2019, 10:06 WIB

Kolom Kang Hasan

Teknologi, Ekonomi Baru, dan Tenaga Kerja

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Teknologi, Ekonomi Baru, dan Tenaga Kerja Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Kita sedang menjalani perubahan yang sangat cepat dalam berbagai sisi kehidupan. Sains dan teknologi membuat perubahan cepat dalam kehidupan manusia. Pada saat yang sama, sains dan teknologi juga memberikan efek percepatan pada dirinya sendiri. Akibatnya perkembangan sains dan teknologi terus mengalami percepatan. Percepatannya sendiri tumbuh secara eksponensial.

Konsekuensi dari perubahan cepat itu adalah perubahan cepat pula pada berbagai pola kehidupan. Pada zaman ketika saya kuliah di Jepang 20 tahun yang lalu, saya masih berkirim surat untuk memberi kabar pada keluarga di Indonesia. Tapi, saat itu pun saya mulai merasakan bahwa surat itu mulai sia-sia. Surat yang saya tulis itu perlu waktu dua minggu untuk sampai ke tujuan. Sebelum ia tiba saya kadang sudah menelepon, mengabarkan hal yang sama dengan isi surat. Isi surat jadi basi ketika sampai. Itu membuat saya malas menulis surat.

Meski bisa menelepon, biaya sambungan telepon masih sangat mahal. Karena itu saya tidak bisa sering-sering menelepon. Sekarang keadaan benar-benar berbeda. Orang-orang Indonesia yang tinggal di mana pun di muka bumi dapat bertukar kabar dengan keluarganya di Tanah Air secara instan. Tidak hanya dengan teks dan suara, tapi sekaligus dengan gambar. Seorang ibu bisa mengajari anaknya yang tinggal di luar negeri memasak, seakan mereka berdua sedang berdekatan.

Banyak hal yang berubah, termasuk mata pencarian manusia. Sepuluh tahun yang lalu kita mesti ke biro perjalanan untuk membeli tiket pesawat. Sekarang tidak lagi. Kita bisa membeli tiket melalui HP. Demikian pula dengan pemesanan hotel, dan sewa kendaraan. Apa akibatnya? Perlahan biro-biro perjalanan akan tutup. Profesi petugas penerbit tiket akan hilang. Semua itu akan dikerjakan oleh komputer.

Kita dulu belanja ke pasar, supermarket, dan department store. Sekarang sudah beralih sebagian menjadi belanja online. Akibatnya, toko-toko banyak yang tutup. Pasar kerja untuk pramuniaga menjadi makin kecil. Suatu saat nanti kendaraan tidak perlu lagi disetir oleh manusia. Maka pada saat itu profesi sopir akan sirna. Dengan makin berkembangnya uang elektronik, pekerjaan mengelola uang dalam wujud fisik akan makin berkurang. Nanti jasa pengamanan transportasi uang akan meredup.

Tidak hanya profesi yang mengandalkan tenaga kasar yang akan berkurang atau sirna. Profesi yang mengandalkan intelektualitas pun akan terpengaruh. Profesi yang melibatkan perhitungan misalnya, akan terpengaruh. Sekarang diperlukan banyak akuntan untuk melakukan pencatatan, perhitungan, dan audit. Kenapa mereka diperlukan? Karena selama ini data diproduksi di atas kertas. Perlahan data itu direkam dengan komputer. Untuk mengolahnya, masih diperlukan manusia. Demikian pula untuk memeriksa kebenarannya, serta memastikan ada tidaknya kecurangan.

Dalam waktu dekat, semua itu akan dikerjakan oleh komputer. Komputer akan menggantikan banyak pekerjaan akuntansi. Suatu saat nanti audit tidak perlu lagi dilakukan oleh auditor. Ia akan dilakukan oleh komputer secara real time.

Dalam menghadapi perubahan itu orang sering khawatir akan terjadi pengangguran secara luas. Faktanya memang begitu. Ketika toko tutup, karyawannya berubah jadi penganggur. Ketika tenaga manusia di pabrik diganti dengan mesin, karyawannya akan menganggur. Jadi, apakah akan lebih banyak menganggur di masa depan?

Jawabannya tidak. Teknologi tidak hanya menciptakan cara kerja baru, tapi juga ekonomi baru. Dulu diperlukan banyak kuli pikul untuk mengangkut barang. Sekarang di pelabuhan modern tidak lagi perlu ada kuli pikul. Barang-barang diangkut dengan forklift. Namun, itu tidak berarti manusia jadi menganggur karena adanya forklift. Forklift membuat industri logistik berkembang jadi lebih besar, menjadi raksasa. Volume barang yang dikelola menjadi sangat besar. Diperlukan lebih banyak manusia untuk mengelolanya, jauh lebih banyak dari masa ketika forklif belum digunakan.

Sama seperti di dunia konstruksi. Dulu diperlukan banyak tukang aduk semen. Sekarang tenaga itu nyaris tidak diperlukan. Tapi, skala konstruksi menjadi raksasa. Volume pekerjaan konstruksi tumbuh menjadi ribuan kali lipat. Akibatnya dibutuhkan lebih banyak manusia untuk bekerja.

Teknologi selalu menciptakan ekonomi baru dalam skala lebih besar. Aplikasi pemesanan wisata memang membuat profesi penerbit tiket di kantor biro perjalanan berkurang, bahkan suatu saat nanti akan sirna. Tapi, coba kita perhatikan betapa luasnya industri wisata sekarang. Sekarang orang dengan mudah bisa punya penginapan untuk dipasarkan. Bermodal sebuah rumah bahkan satu kamar, orang bisa punya usaha penginapan. Urusan pemasaran, penanganan pemesanan, bisa dilakukan oleh komputer.

Bersamaan dengan berkembangnya teknologi, kita menyaksikan tumbuhnya berbagai bentuk ekonomi baru. Itu akan memunculkan berbagai profesi baru. Pekerjaan yang lama akan hilang, tapi akan diganti dengan pekerjaan baru. Jadi tidak perlu khawatir soal akan meningkatnya pengangguran akibat perkembangan teknologi. Itu tidak akan terjadi.

Tentu saja akan ada orang menganggur. Ini adalah orang-orang yang tidak bisa beradaptasi. Tukang pikul harus beradaptasi, berubah jadi operator forklif. Untuk itu ia harus menambah keterampilan baru. Itu poin pentingnya. Teknologi menuntut manusia untuk terus belajar. Zaman dulu tukang ojek tidak butuh telepon. Jadi tidak masalah kalau dia tidak bisa menelepon. Sekarang untuk jadi tukang ojek saja seseorang mesti mahir menggunakan telepon genggam.

Para orangtua tidak boleh lagi memaksakan mimpi mereka pada anak-anaknya. Seorang yang berprofesi akuntan tidak bisa lagi memaksakan agar anaknya kelak jadi akuntan pula. Boleh jadi saat itu kelak profesi itu sudah tidak ada lagi. Profesi yang dijalani anak-anak kita kelak boleh jadi adalah profesi yang belum ada sekarang, bahkan belum bisa kita bayangkan sekarang.

Dunia sedang berubah dengan cepat. Yang bisa bertahan adalah yang bisa berubah sesuai perkembangan itu. Yang tidak bisa akan tersingkir. Karena itu di masa depan keterampilan yang paling penting adalah keterampilan belajar. Makin cepat seseorang mampu belajar sesuatu yang baru, makin unggul dia. Karena itu pendidikan seharusnya membangun kemampuan anak-anak untuk belajar, melakukan eksplorasi, menemukan sendiri, bahkan menciptakan pengetahuan baru. Bukan menghafal informasi lama.

Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed