DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 11 Januari 2019, 12:57 WIB

Kolom

Sihir Pohon Silsilah

Heri Priyatmoko - detikNews
Sihir Pohon Silsilah Silsilah Presiden Jokowi yang kerap dipertanyakan (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - Di Indonesia, aspek asal-usul atau genealogi acap menjadi pemicu perdebatan sengit, sekaligus modal ampuh dalam jagad politik. Dari rahim siapa ia mbrojol ("bibit"), bagaimana kualitas keluarganya ("bebet"), dan seberapa besar kekuatan finansial keluarganya ("bobot"). Memperkarakan asal-usul di ranah politik seringkali mandeg dalam ruang pertikaian. Justru tidak menginspirasi publik untuk peduli pada penelusuran sejarah keluarga kita sendiri.

"Pelajari sejarah keluargamu dulu, sebelum menenggelamkan diri dalam belantara pengetahuan lainnya. Sebab, tanpa kehadiran kakek-nenek dan orangtua, kita tak bakal terlahir di muka bumi!" Begitulah kalimat ringkas yang acap keluar dari mulut sesepuh saat dilempari pertanyaan mengapa harus mengumpulkan keluarga besar saban hari Lebaran atau liburan Natal.

Di sesela acara sungkeman dan halal bi halal maupun reriungan keluarga besar saat perayaan Natal, kesadaran kita mengenai pohon silsilah keluarga serempak digugah agar tidak lupa sanak saudara alias "kepaten obor".

Sepenggal pertanyaan yang belum terjawab tuntas hingga kini, sejak kapan trah dipandang penting dalam tradisi masyarakat, khususnya di Jawa? Upaya mengkonstruksi dan melacak genealogi sejarah keluarga sebetulnya telah di-wiwiti oleh pembesar Mataram Islam beberapa abad silam. Seorang raja butuh sarana legitimasi karena ingin disegani dan diakui kekuasaannya oleh para kawula. Segelintir cara yang ditempuh ialah lewat penelusuran hubungan genealogi.

Terbitnya ungkapan trahing kusuma, rembesing madu, wijining tapa, tedaking andana warih (keturunan bunga, titisan madu, benih pertapa, turunan madu) memperlihatkan raja berasal dari keturunan leluhur yang suci dan agung.

Petinggi istana Mataram tanpa sungkan mengaitkan asal-usulnya dengan barisan tokoh dalam agama Hindu dan Islam. Pencarian mata rantai genealogi dari kedua agama ini merupakan bukti nyata adanya hasrat penguasa Jawa untuk merengkuh seluruh rakyat yang memeluk kepercayaan Hindu maupun Islam. Penggabungan dua sumber silsilah tersebut membuahkan istilah sejarah panengen (kanan) dan pangiwa (kiri).

Sejarah panengen berisi daftar penguasa Mataram dengan mencomot garis keturunan hingga Nabi Muhammad yang disebut Kanjeng Nabi. Sedangkan, sejarah pangiwa memasang benang yang lebih panjang dimulai dari Nabi Adam dan Nabi Sis. Lantas, disusul sekelompok dewa Hindu dan Pandawa. Tokoh Watu Gunung sebagai cerminan nama asli Jawa ikut dicatut. Kemudian, disambung beberapa nama yang hidup pada masa kerajaan Hindu-Jawa seperti Jenggala, Kediri, Kahuripan, Galuh, Singasari, dan Majapahit.

Demi mencari keabsahan dinastinya, rambu-rambu anakronisme sejarah diterabas raja bersama pujangga. Penyusunan tokoh terkemuka era kerajaan Hindu campur aduk lantaran pembuatnya tak menggubris dimensi waktu yang mestinya ditaati laiknya kerja ilmiah sejarawan.

Melalui Prabu Brawijaya V yang merupakan keturunan raja Majapahit terakhir, lahirlah nama kondang Ki Ageng Tarub yang meminang bidadari Nawangwulan. Dari pernikahan mereka, hadir nama Ki Ageng Sela, Ki Ageng Henis, dan Ki Ageng Pamanahan. Kita ketahui, Ki Ageng Pemanahan ialah bapak dari Panembahan Senapati yang dikenal sebagai pendiri dinasti Mataram Baru. Demikianlah potret pembesar Mataram Islam bersusah payah "merekayasa" silsilah dari tokoh ternama dan penghuni kahyangan yang suci.

Waktu melintas cepat diikuti beragam peristiwa jatuh-bangunnya kekuasaan. Kendati raja yang bersangkutan telah lengser keprabon atau tutup usia, silsilah keluarga tetap dipertahankan dan memperoleh tempat di sanubari anak-cucunya. Tujuan pokoknya ialah mengikat paseduluran sekaligus menunjukkan bahwa mereka merupakan keturunan aristokrat kerajaan. Dalam bahasa Jawa, empat macam derajat bangsawan secara berturut-turut disebut: putra, wayah, buyut, dan canggah ndalem.

Ternyata, genealogi sejarahnya tidak mandeg sampai canggah. Pada masa Paku Buwana X (1893-1939) muncul istilah wareng, udeg-udeg, gantung siwur, dan goprak senthe untuk memperpanjang alur sejarah keluarga para ndara itu.

Sihir pohon silsilah memang ampuh. Sanak keluarga yang berada dalam satu garis keturunan, tapi terpisah akibat faktor geografis dan kesibukan kerja bisa dieratkan kembali melalui payung trah. Di Soloraya dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang kental dengan tradisi feodal misalnya, lumrah kalau memori tentang keluarga terawat dalam batok kepala lantaran acap dituturulangkan. Di daerah bekas kerajaan Jawa ini, paguyuban trah sangat kuat dan banyak jumlahnya.

Sampai sekarang, pertemuan trah untuk menyegarkan ingatan sejarah keluarga dan merekatkan tali hubungan saudara ajeg digelar di lingkungan bangsawan dan priayi. Walau mereka sudah memasuki alam demokrasi dan paham feodalisme ditabrak nasionalisme, semangat melestarikan genealogi kebangsawanan masih terasa betul. Dari anak, cucu, buyut, canggah, hingga wareng meramaikan paguyuban yang masih satu garis keturunan pangeran atau raja.

Tak semuanya warisan dunia feodal itu buruk. Kendati kita bukan termasuk keturunan "darah biru", alangkah eloknya kita peduli terhadap riwayat silsilah keluarga. Percayalah, spirit gotong-royong, tolong-menolong, kerukunan, tepa slira atau peduli terhadap sesama, serta benih rasa kemanusiaan dapat disuburkan lewat organisasi trah. Ayo, telisik dan tulis sejarah keluarga kita sebagai bentuk darma bakti terhadap leluhur!

Heri Priyatmoko dosen Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, founder Solo Societeit


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed