DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 08 Januari 2019, 14:05 WIB

Kolom

Berburu "Undecided Voters" Lewat Debat Pilpres 2019

Ali Rif'an - detikNews
Berburu Undecided Voters Lewat Debat Pilpres 2019 Ilustrasi: Edi Wahyono
Jakarta -

Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menyusun jadwal debat calon presiden dan wakil presiden pada Pilpres 2019. Adu gagasan tersebut akan digelar lima ronde. Debat pertama digelar pada 17 Januari 2019 dengan peserta debat pasangan calon presiden-wakil presiden. Tema yang diangkat adalah persoalan hukum, HAM, korupsi, dan terorisme.

Debat kedua akan berlangsung 17 Februari 2019 dengan peserta antarcalon presiden dan mengusung tema energi, pangan, SDA, lingkungan hidup, dan infrastruktur. Debat ketiga diselenggarakan 17 Maret 2019 dengan tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial dan kebudayaan, dengan peserta debat adalah antarcalon wakil presiden.

Sedangkan, debat keempat akan dihelat 30 Maret 2019 dengan tema ideologi, pemerintahan, pertahanan, dan keamanan, dan hubungan internasional. Peserta debat adalah antarcalon presiden. Adapun debat kelima akan digelar pada 10 atau 13 April 2019 (waktu masih tentatif) dengan tema ekonomi, kesejahteraan sosial, keuangan, investasi perdagangan dan industri. Peserta debat kelima adalah antar-pasangan calon presiden-wakil presiden.

Debat Pilpres 2019 kali ini menarik karena empat alasan. Pertama, debat digelar sebanyak lima kali. Hal ini sangat istimewa bagi ruang publik demokrasi Indonesia mengingat di negara kampiun demokrasi sekelas Amerika Serikat saja debat pilpres hanya digelar tiga kali. Dengan diselenggarakan lima kali, debat berarti memiliki makna dan nilai penting dalam kompetisi elektoral di Indonesia.

Kedua, debat hanya diikuti dua pasangan calon, yaitu Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin (Nomor 01), dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (Nomor 02). Dan, dua kandidat capres-yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto-merupakan rival lama di Pilpres 2014. Dengan kondisi demikian, ring debat akan lebih semarak karena adu gagasan kali ini merupakan perpaduan antara narasi lama (2014) dan narasi baru (2019).

Ketiga, debat pilpres kali ini bertepatan dengan momentum digelarnya Pemilu Serentak 2019 pertama kali di Indonesia. Lantaran pemilu presiden dan pemilu legislatif digelar berbarengan, maka gemuruh debat akan bergema hingga ke daerah-daerah. Hal ini mengingat debat pilpres juga menjadi pertaruhan partai-partai politik dan para calon anggota legislatif di seluruh Indonesia.

Keempat, debat pilpres digelar pada saat undecided voters masih tinggi. Undecided voters adalah mereka para pemilih yang belum menentukan pilihan. Menurut data berbagai lembaga survei, undecided voters hingga Desember 2018 masih di angka sekitar 16%.

Tentu di tengah situasi kompetisi antardua pasangan calon yang masih relatif kompetitif, debat pilpres dapat menjadi momentum pertaruhan. Pasalnya, dalam sejumlah survei, meskipun pasangan Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin selalu unggul, namun jika dirata-rata interval elektabilitasnya dengan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sekitar 20 persen. Bahkan ada data yang menyebut interval keduanya sudah di angka 12 persen.

Itu artinya, dengan jumlah interval tersebut, maka kandidat yang mampu merebut pemilih undecided voters punya potensi memenangi kompetisi elektoral 2019. Sebaliknya, gagal merebut undecided voters, maka peluang kekalahan sangat terbuka lebar.

Efek Debat

Karena itu, debat pilpres bisa menjadi ajang untuk berburu undecided voters. Mitchell S. McKinney dan Diana B. Carlin dalam Political Campaign Debates mengatakan bahwa ada sejumlah efek debat bagi publik, di antaranya adalah efek kognitif (cognitive effects). Efek kognitif ini berkaitan dengan pesan-pesan (argumentasi, visi-misi dan program kerja) yang berkaitan dengan isu-isu yang diangkat untuk mempengaruhi pemilih.

Debat Obama versus McCain pada Pilpres Amerika Serikat 2008 lalu misalnya bisa menjadi contoh betapa efek kognitif mampu merubah peta suara pilpres. Obama yang saat itu sempat mengalami penurunan suara dalam berbagai survei dan jajak pendapat ternyata mengalami kenaikan suara usai debat digelar. Melalui debat, Obama mampu menyajikan gagasan-gagasan genuine untuk menarik suara pemilih Amerika, khususnya para undecided voters.

Tentu hal sama dapat berlaku dalam Pilpres 2019. Debat pilpres dapat digunakan untuk merebut undecided voters. Apalagi, jika ditelusuri undecided voters sejatinya terjadi karena beberapa faktor. Pertama, karena pemilih punya pandangan bahwa pemilu tidak akan merubah nasibnya. Para pemimpin hasil pemilu dinilai tak mampu memberikan perubahan bagi sebagian besar kehidupan mereka.

Kedua, pemilih belum mampu menyerap visi-misi dan program yang ditawarkan masing-masing kandidat capres-cawapres. Kondisi itu terjadi mengingat narasi politik yang dibangun dalam masa kampanye belakangan adalah narasi sensasional berbau kebencian dan hoaks, bukan narasi-narasi substansial berbasis visi-misi dan program kerja. Akibatnya, ruang publik lebih banyak disesaki percekcokan dan saling hujat ketimbang adu visi-misi dan gagasan.

Pada titik inilah, debat pilpres (apalagi digelar hingga lima kali) dapat menjadi momentum bagi pasangan kandidat untuk meyakinkan publik bahwa pemilu sesungguhnya membawa perubahan bagi kehidupan masyarakat. Begitu pula bagi publik yang belum mampu menyerap visi-misi dan program kerja capres-cawapres, melalui ajang adu gagasan tersebut, masyarakat akan dapat melihat dan mencerna secara mendalam tentang platform gagasan yang ditawarkan kedua pasangan kandidat.

Karena itu, menurut hemat saya, debat pilpres bisa menjadi peluang di satu sisi namun juga dapat menjadi ancaman di sisi lain. Menjadi peluang jika debat pilpres mampu mendatangkan efek kognitif sehingga mampu mempengaruhi pemilih, khususnya undecided voters. Namun, menjadi ancaman jika adu gagasan tersebut tidak mampu mendatangkan efek kognitif. Alih-alih mampu menarik suara undecided voters, peluang kekalahan dalam kompetisi elektoral 2019 justru makin terbuka lebar.

Ali Rif'an Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed