Kolom

"Golfud" dan Pilpres 2019

Rizal Mustary - detikNews
Senin, 07 Jan 2019 12:18 WIB
Mahfud MD memberi pembekalan pada bacaleg PSI (Foto: Zunita Amalia Putri)
Jakarta - Tahun 2018 yang baru saja berlalu mengenalkan sebuah istilah dalam kontestasi politik Tanah Air. Golfud, bukan Golput (Golongan Putih). Baik Golfud maupun Golput, sama-sama lahir dari respons kecewa sejumlah kalangan atas kondisi atau peristiwa politik menjelang pemilu, lebih tepatnya pilpres. Tapi, bila Golput mengajak orang untuk tidak memilih salah satu kandidat, Golfud sebaliknya. Golongan ini justru mendorong publik menggunakan hak pilihnya untuk mencoblos salah satu pada April nanti, Jokowi atau Prabowo.

Golfud adalah sebutan bagi mereka yang menyebut dirinya "Golongan Mahfud", merujuk pada nama mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD. Istilah itu sekonyong-konyong muncul setelah Jokowi memutuskan tidak memilih Menteri Pertahanan di era Presiden Gus Dur itu sebagai cawapresnya. Para pendukung Mahfud meyakini bahwa kehidupan di bidang hukum dan politik dalam lima tahun ke depan akan lebih berkualitas manakala Mahfud ikut dalam kontestasi dan bisa membantu pasangan capresnya memenangkan Pilpres 2019.

Golongan Mahfud seketika menghiasi perbincangan di media sosial. Dimulai oleh akun milik Akhmad Sahal dan Goenawan Mohamad, kemudian disambut oleh kelompok netizen yang lain. Nama Golfud sendiri dimunculkan pertama kali oleh Feri Amsari, pengamat Hukum Tata Negara dari Universitas Andalas. Gagasan utamanya adalah hadirnya sebuah kelompok di tengah hiruk-pikuk kampanye pilpres, yang terus menyuarakan urgensi penegakan hukum di negeri ini, keteguhan dalam memberantas korupsi, konsistensi dalam mengembangkan toleransi, dan keberanian menghadapi kelompok-kelompok radikal.

Itulah yang dalam pikiran para penggagas Golfud merupakan kekuatan yang dimiki oleh Mahfud MD, yang sulit dijumpai pada tokoh lain di negeri ini. Dalam keseharian, Golfud mengambil sikap tidak partisan apalagi menjadi pendukung fanatik salah satu calon. Mesti tersedia ruang bagi segolongan orang yang tidak ingin mengumbar pilihan politiknya, tidak ikut dalam perdebatan, atau terjebak pada dialog yang tidak sehat antardua kubu yang berkompetisi.

Itu sebabnya, lahir beragam tagar di media sosial seperti Pilpres Ceria, Pemilu Damai, Tetap Indonesia, dan Tetap Pancasila. Meskipun pada akhirnya mereka bersepakat bahwa masing-masing orang harus memilih salah satu pasangan capres-cawapres pada 17 April mendatang dengan beberapa pertimbangan.

Pertama, jika seseorang tidak menggunakan hak pilihnya dalam pilpres, maka yang bersangkutan tidak akan bisa menghindar dari kepemimpinan presiden terpilih nanti, siapapun orangnya. Pertimbangan pertama ini melahirkan alasan kedua, yaitu bila tidak ditemukan pasangan yang ideal karena masing-masing memiliki kekurangan, maka dipilih pasangan yang paling baik di antara yang tidak ideal itu. Pertimbangan ketiga, pilpres sejatinya bukan untuk memilih orang yang betul-betul baik menjadi pemimpin, tapi adalah untuk mencegah orang jahat menjadi penguasa.

Ketika saya mem-posting di Instagram sebuah foto sedang makan siang bersama Mahfud MD, seorang teman menuliskan komentar di akun saya, "Bro, salam hormat untuk beliau. Saya Golfud sekarang," tulis sahabat yang juga Pemimpin Redaksi sebuah media nasional itu. Foto itu saya posting tepat di hari peringatan Kemerdekaan RI 17 Agustus 2018 lalu, disertai caption: "Hari merdeka, bersama orang merdeka. Dirgahayu Indonesia..."

Bagi saya, Mahfud memang sungguh-sungguh merdeka. Di balik kekecewaan para pendukungnya, Mahfud sejatinya telah terbebas dari peluang untuk menjadi pengemban amanah yang amat berat bagi negeri ini, menjadi Calon Wakil Presiden RI. Sikap legowo yang ia tunjukkan di berbagai media menjelaskan dengan baik visi kenegarawanannya, meski tetap saja muncul pandangan bahwa ia korban "PHP" oleh salah seorang capres.

Seakan tidak peduli dengan pandangan-pandangan provokatif itu, Mahfud kian produkif melahirkan pernyataan yang mengajak masyarakat untuk menebar kebaikan, mendorong para pemimpin untuk bersikap adil, fair, dan demokratis dengan dilandasi nilai-nilai luhur Pancasila. Hasilnya, apresiasi publik padanya semakin deras mengalir. Golfud menyebar dengan cepat ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan hingga ke Melbourne dan Tokyo, lengkap dengan kaos bergambar wajah Mahfud.

Saya sendiri tidak memiliki dan tidak menginginkan kaos bergambar Mahfud itu agar saya terhindar dari niat mengkampanyekan sang tokoh menjelang plipres. KPU sudah menetapkan dua pasangan pada pilpres mendatang sehingga yang resmi kini adalah golongan Jokowi-Ma'ruf dan golongan Prabowo-Sandi. Karena itu, Golfud yang sejatinya bertujuan mengkampanyekan demokrasi dan pentingnya menggunakan hak pilih, sudah menjadi bagian integral dari salah satu golongan ini.

Menjadi pertanyaan sejumlah kalangan terutama pada bulan-bulan akhir masa kampanye seperti ini, ke mana gerangan Mahfud MD menambatkan pilihannya kelak? Mungkinkah ia pada akhirnya meng-endorse salah satu calon yang ia yakini akan mampu memajukan bangsa ini? Betapapun, pilihan politik Mahfud MD akan menjadi referensi penting bagi kalangan calon pemilih yang selama ini mengikuti pemikiran dan visinya yang jelas untuk kemajuan bangsa.

Ingatan saya melayang ke ajang pemilihan presiden 2008 di Amerika Serikat. Tokoh sekaliber Colin Powell pada akhirnya mendeklarasikan diri untuk mendukung salah satu calon presiden, John McCain atau Barack Obama, tepat pada masa para calon pemilih membutuhkan referensi kuat untuk menentukan pilihan. "I think he is a transformational figure, he is a new generation coming onto the world stage, onto the American stage, and for that reason I'll be voting for Senator Barack Obama," ujar mantan Menlu dan Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS itu di acara televisi Meet The Press pada Oktober 2008.

Powell adalah mantan pejabat dan politisi Partai Republik yang kredibel dan sangat disegani rakyat Amerika. Endorsement-nya menambah simpati dan dukungan signifikan bagi Barack Obama yang berseberangan partai dengannya, yang pada akhirnya terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat.

Di Tanah Air, sejumlah kalangan pada awal 2019 ini juga menantikan langkah dan keputusan politik Mahfud MD. Namun, sembari menunggu itu, Golfud telah memberi inspirasi dan panduan untuk menentukan pilihan pada pilpres mendatang. Sesuai pandangan Mahfud MD dalam berbagai diskusi bersama Golfud, pilihlah pemimpin yang terbukti paling banyak manfaatnya atau setidaknya paling sedikit mudaratnya.

Rizal Mustary praktisi komunikasi

(mmu/mmu)