DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 04 Januari 2019, 15:06 WIB

Kolom

Tsunami, Mangrove, dan Burung Migran

Hadi S Alikodra - detikNews
Tsunami, Mangrove, dan Burung Migran Hutan mangrove Donggala (Foto: Situr Wijaya/detikTravel)
Jakarta -

Tsunami yang meluluhlantakkan pantai Banten dan Lampung, Sabtu (22/12/018) malam sungguh mengerikan. Tanpa aba-aba dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), tiba-tiba tsunami dahsyat menerjang pantai Banten dan Lampung. Korbannya sudah terdata, 500 orang lebih tewas dan ribuan orang lainnya luka-luka. Ribuan bangunan --hotel, cottage, rumah, dan lain-lain-- hancur. Tsunami Banten memberikan pelajaran baru kepada masyarakat: bahwa gelombang laut tinggi yang menghancurkan rumah bisa datang kapan saja, tanpa peringatan. Berikutnya, Gunung Krakatau yang sangat aktif sewaktu-waktu bisa meletus dan menimbulkan tsunami.

Sebelumnya, tiga bulan lalu, kita dikejutkan munculnya tsunami di Sulawesi Tengah. Pantai Kota Palu dan Donggala yang banyak bangunan perumahan, perkantoran, dan pasar swalayan nyaris rata dengan tanah. Korban tewas mencapai ribuan orang.

Gempa di Sulawesi Tengah (28/9) lalu menyadarkan kita bahwa Indonesia adalah negeri kepulauan yang riskan terjangan ombak besar (tsunami) dari laut atau samudera akibat gempa bumi dan letusan gunung berapi. Sebagai negeri kepulauan yang besar (di mana luas lautannya tiga kali lipat dari daratannya) dan terletak di jalur cincin api dunia, alam sebenarnya telah memberikan "clues" atau isyarat-isyarat, bagaimana seharusnya bangsa Indonesia "merawat diri" untuk menjaga keselamatannya.

Hutan Mangrove

Beberapa di antara "clues" alam itu, pertama, Indonesia adalah negeri yang pantai-pantainya ditumbuhi hutan mangrove yang amat luas. Tercatat, 75 persen hutan mangrove di dunia berada di Indonesia. Hutan mangrove itu tersebar mulai dari ujung timur Nusantara (Pulau Papua) sampai ujung barat Pulau Sumatera. Hutan mangrove yang luas --bahkan sampai puluhan kilometer dari pantai itu-- berfungsi sebagai "pemelihara dan penyelamat" manusia dari ancaman tsunami dan kelangkaan makanan (ikan, udang, kerang-kerangan, dan lain-lain). Kita tahu, hutan mangrove adalah tempat favorit ikan-ikan pantai, udang, dan kerang-kerangan untuk berkembang biak.

Struktur pohon mangrove yang unik dengan sistem perakaran yang kompleks berbelit-belit dan berongga kecil menjadikan hutan mangrove mampu menghadang ombak besar tsunami yang menabraknya. Hutan mangrove adalah penahan paling efektif energi raksasa tsunami yang menyeberang daratan.

Tsunami raksasa (akibat gempa bumi 9,1 Skala Richter) di Nangroe Aceh Darussalam, 26 Desember 2004 yang menewaskan lebih dari 250.000 manusia misalnya, ternyata tak "menyentuh" penduduk Desa Lhok Pawoh, Sawang, dan Desa Ladang Tuha, Pasie Raja yang letaknya hanya beberapa kilometer dari Banda Aceh. Kenapa? Karena, dua desa di pesisir pantai barat Kabupaten Aceh Selatan itu kondisi alamnya masih asri. Di pantainya masih ada padang lamun, terumbu karang, dan hutan mangrove yang tebal dan luas.

Hutan mangrove yang menjorok 300 meter ke darat dengan kerapatan 17000 pohon per hektar itu ternyata mampu meredam energi gelombang tsunami yang dahsyat. Masyarakat di kedua desa tersebut mengisahkan bagaimana kampungnya terlindung dari tsunami. Ini terjadi karena gelombang laut raksasa itu energinya terkikis padang lamun, terumbu karang, dan hutan mangrove. Sehingga gelombang tsunami yang sampai ke dua desa tersebut sudah lemah. Tidak lagi merusak.

Hal yang sama terjadi di pantai utara Pulau Nias. Geombang besar tsunami yang menerjang rumah penduduk pun sudah lemah energinya sehingga tidak menghancurkan bangunan. Penyebabnya, sebelum menembus perumahan, gelombang tsunami itu sudah kehilangan energinya akibat tertahan hutan mangrove.

Burung Migran

Apa kaitan antara burung migran dengan tsunami? Kisahnya panjang.

Hutang mangrove selain berfungsi sebagai tempat pemijahan ikan dan penahan gelombang tsunami, juga berfungsi sebagai tempat istirahatnya burung-burung migran yang tiap tahun terbang dari ujung utara bumi ke ujung selatan bumi. Burung yang habitatnya di air (pantai) ini dalam perjalanan panjangnya mengarungi bumi dari kutub utara ke kutub selatan, sebagian di antaranya beristirahat di pantai-pantai dan lahan-lahan basah di Indonesia.

Howes (203) menyatakan, di Indonesia terdapat 19 lokasi lahan basah yang menjadi tempat transit burung-burung migran internasional. Tempat-tempat transit tersebut tersebar di Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, dan Irian Jaya (Papua). Lokasi lahan basah itu di antaranya berada di sekitar hutan mangrove, padang lamun, dan padang lumpur.

Sembilan belas lokasi lahan basah tersebut adalah Tanjung Bakung, Tanjung Datuk, Delta Sungai Musi (Sumsel), Muara Angke (Jakarta), Muara Gembong (Bekasi), Pantai Indramayu-Cirebon, Delta Bengawan Solo dan Brantas (Jawa Timur), Suwung (Bali), Sumba, Kupang (NTT), Pulau Berau, Pulau Layang, Tanjung Sembilang (ketiganya di Kalimantan), Lampuko-Mampi, Lanteboeng, Muara Sungai Salowatu, Teluk Bone (keempatnya di Sulawesi), Pulau Kimaan, Rawa Biru, dan Taman Nasional Wasur (ketiganya di Papua).

Keberadaan burung migran yang transit di lahan basah dan pantai Indonesia tersebut merupakan fenomena alam yang mencengangkan sekaligus menimbulkan tanda tanya besar. Kenapa mereka senang transit di Indonesia? Apakah transitnya burung-burung migran tadi merupakan isyarat betapa pentingnya keberadaan lahan basah dan hutang mangrove di negeri yang rawan bencana tsunami itu?

Burung migran ternyata adalah makhluk kecil yang sangat istimewa. Klassen (2011) misalnya mencatat bahwa berkik besar (Gallinago media) adalah burung migran yang kecepatan terbangnya paling hebat. Berkik terbang secara transkontinental dari Swedia melintasi Eropa, lalu ke Gurun Sahara hanya dalam dua hari. Nonstop. Kecepatan terbangnya rata-rata 97 km/jam. Sementara, burung Tachymarptis melba mampu terbang melintasi benua selama 200 hari nonstop dari Mediterania ke Asia Barat, lanjut ke India. Ia makan plankton udara (aerial plankton) dan tidur bergantian dari mata yang satu ke mata lainnya.

Banyak spesies burung yang bermigrasi melalui jalur yang sama tiap tahunnya. Ada 9 rute migrasi atau flyways yang telah terindikasi. Yaitu: Jalur Atlantik Timur, Jalur Laut Hitam-Mediterania, Jalur Asia-Barat-Afrika Timur, Jalur Asia Tengah, Jalur Asia Timur-Australia, Jalur Pasifik Barat, Jalur Pasifik Amerika, Jalur Mississippi-Amerika, dan Jalur Atlantik Amerika.

Indonesia masuk ke dua jalur migrasi burung pantai dunia, yaitu Jalur Asia Timur-Australia dan Jalur Pasifik Barat. Jalur pertama terbentang dari Alaska menuju Siberia Timur, Asia Timur, terus Timur Tiongkok, lalu ke Asia Tenggara (Semenanjung Malaysia), Indonesia (Sumatera, Kalimantan, Jawa Bali, Lombok), hingga Australia dan Selandia Baru. Sedangkan, jalur kedua terbentang dari Timur Rusia menuju Kepulauan Jepang, Taiwan, Filipina, Papua, terus ke Australia dan Selandia Baru.

Migrasinya burung-burung tersebut, alasan utamanya adalah mencari makanan dan perkawinan. Migrasi ke belahan Bumi Selatan dilakukan pada musim paceklik (musim salju di Utara Bumi) karena makanan berkurang. Setelah musim semi tiba, mereka pulang ke Utara untuk perkembangbiakan (perkawinan). Tapi, belakangan para ilmuwan bertanya lebih jauh: kenapa burung-burung migran terbang sangat jauh untuk mencari makanan dan mempertahankan keturunannya?

Diduga, migrasi burung tersebut merupakan fenomena alam yang menunjukkan dinamika bioatmosfer dan bioekologi bumi. Jika bioatmosfer dan bioekologi bumi mengalami perubahan yang menyimpang, niscaya migrasi burung itu pun akan terganggu. Tidak teratur dan terukur seperti biasanya. Pertanyaan berikutnya, mengapa mereka memilih transit di tempat tertentu? Apakah sekadar demi makanan? Atau, insting makhluk hidup yang terkait dengan bioelektrik dan biomagnetik dalam tubuhnya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akhirnya berujung pada perenungan filsafat: perjalanan burung migran yang mencapai puluhan ribu kilometer dan sangat berisiko tiap tahun itu niscaya bukan sekadar mencari makanan dan memelihara keturunan semata. Ada sesuatu yang lebih besar di balik itu. Tuhan tengah menunjukkan ciptaannya yang sangat beragam variasinya mengikuti bentuk-bentuk bumi dengan segala konsekuensinya. Termasuk, kenapa mereka suka singgah di lahan basah dan hutan mangrove Indonesia.

Akhirnya, dari rasa iman kepada Tuhan, kita yakin bahwa burung-burung migran yang senang transit di lahan basah dan hutan mangrove itu mempunyai misi penting. Mereka tengah menunjukkan kepada bangsa Indonesia bahwa eksistensi kedua kawasan alam tersebut perlu dilestarikan dan dikonservasi. Ini karena lahan basah dan hutan mangrove adalah penyelamat manusia dari gulungan ombak tsunami yang sewaktu-waktu muncul tak terduga. So, tak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia (QS 3:191).

Hadi S Alikodra Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed