detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 04 Januari 2019, 11:20 WIB

Analisis Zuhairi Misrawi

Kemenangan Bashar al-Assad

Zuhairi Misrawi - detikNews
Kemenangan Bashar al-Assad Zuhairi Misrawi (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menarik tentaranya dari Suriah, 19 Desember lalu menimbulkan polemik di dalam negeri dan luar negeri AS. Pasalnya Suriah belum benar-benar merdeka dari ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Setidaknya masih ada sekitar 1 persen dari keseluruhan wilayah Suriah yang masih dikuasai oleh ISIS. Belum lagi kubu oposisi yang mempunyai agenda politik seperti ISIS juga belum benar-benar lumpuh.

Di sisi lain, mundurnya AS dari Suriah akan menjadi kado tahun baru yang sangat indah bagi Bashar al-Assad, bahwa Suriah akan berada dalam genggamannya dibantu oleh Iran dan Rusia. AS secara implisit tidak mau melakukan intervensi dalam kisruh politik di dalam negeri Suriah.

Sikap Donald Trump akan menjadi babak baru bagi Bashar al-Assad untuk membangun kembali Suriah dari kehancuran dan perang yang sangat dahsyat setelah kurang lebih 4 tahun beberapa wilayahnya dikuasai oleh ISIS.

Langkah Trump benar-benar di luar dugaan, karena Suriah merupakan salah satu wilayah strategis yang menjadi lokus pertaruhan politik dengan Rusia. Sejak masa Presiden Barack Obama, AS menghendaki agar Suriah tidak lagi dikuasai oleh Bashar al-Assad. Sikap AS jelas, yaitu Bashar al-Assad harus dilengserkan. Sikap AS tersebut sejalan dengan kepentingan Israel yang menentang keras al-Assad. Arab Saudi juga berada dalam satu kubu dengan AS dan Israel dalam hal menggulingkan rezim al-Assad.

Pada saat itu AS mengerahkan segala upaya untuk mempersenjatai kubu oposisi. Bahkan Hillary Clinton yang menjabat sebagai Menteri Luar Negeri pada saat itu mengakui bahwa AS berkongkalikong dengan kelompok ekstremis di Suriah dalam rangka menggulingkan rezim al-Assad.

Maka dari itu, langkah yang diambil Trump akan menjadi babak baru bagi Suriah. Trump ditengarai mengambil langkah tersebut dalam rangka memenuhi janjinya kepada para pemilihnya selama Pilpres untuk menjadikan kepentingan AS sebagai prioritas utama, "America First". Trump tidak ingin disibukkan dengan masalah luar negeri yang sangat menguras anggaran yang besar dan perhatian yang luar biasa. Karenanya, Trump juga akan menarik tentara di Afghanistan.

Namun, langkah Trump tersebut bukan tanpa penentangan dari dalam negeri AS. Kubu Demokrat mulai mempertanyakan langkah Trump yang dianggap tidak mempertimbangkan stabilitas keamanan di Suriah. Apalagi ancaman ISIS dan kaum ekstremis lainnya sewaktu-waktu dapat mengancam keamanan.

Di samping itu, kubu Demokrat menganggap Trump seolah-olah menyerah kepada Rusia dan Iran. Trump secara tidak langsung telah memuluskan langkah Rusia dan Iran untuk memuluskan jalan Bashar al-Assad untuk berkuasa. Trump dianggap dapat mengecewakan Israel yang selama ini berseteru dengan Iran dan Suriah. Karenanya, langkah yang diambil Trump menimbulkan dampak-dampak politik yang tidak sederhana di kawasan Timur-Tengah. Israel pasti menjadi pihak yang paling merasa terancam dengan langkah yang diambil Trump dalam penarikan tentara dari Suriah.

Keanehan lainnya, Trump menegaskan bahwa Arab Saudi akan berperan dalam pembangunan kembali Suriah. Sikap ini sepertinya hanya isapan jempol, karena Bashar al-Assad tidak sepenuhnya akan memberikan kebebasan kepada Arab Saudi untuk berperan dalam pembangunan kembali beberapa wilayah Suriah yang hancur berkeping-keping.

Maka dari itu, sikap Trump menimbulkan banyak pertanyaan lanjutan, bahkan kehebohan tidak hanya terjadi di dalam negeri AS, melainkan juga di kawasan Timur-Tengah. Utamanya kubu oposisi yang merasa kehilangan dukungan dari AS setelah Trump memutuskan untuk menarik tentara dari Suriah.

Di atas itu semua, Bashar al-Assad seperti mendapatkan durian jatuh dari langit. Ia akan semakin leluasa dalam menentukan arah masa depan Suriah. Apalagi Rusia dan Iran akan berada di belakangan memberikan dukungan penuh bagi al-Assad untuk membangun dan menata ulang Suriah.

Meskipun, kemenangan al-Assad bukan tanpa masalah. Langkah utama yang harus dibangun adalah mengupayakan rekonsiliasi di antara berbagai kelompok yang selama ini berseteru, utamanya kubu oposisi. Sikap zero sum game yang diperankan oleh kubu al-Assad dan kubu oposisi selama ini akan menjadikan Suriah semakin tidak menentu.

Perundingan-perundingan untuk mempertemukan kubu al-Assad dan kubu oposisi kerapkali digelar. Tetapi, perundingan tersebut selalu berakhir karena kuatnya perebutan tahta geopolitik antara AS dan Rusia, termasuk antara Israel dan Iran, dan Saudi dan Iran.

Maka, langkah pertama yang harus diambil Bashar al-Assad harus melakukan persuasi yang efektif dengan kubu oposisi untuk mulai membicarakan rancang-bangun Suriah yang mampu menampung seluruh kepentingan politik di dalam negeri. Itu artinya agenda-agenda konstitusional harus menjadi perbincangan yang paling utama.

Semua pihak harus meletakkan kepentingan bersama Suriah di atas kepentingan kelompok masing-masing. Baru setelah itu, masing-masing pihak menyerahkan kekuasaan politik melalui mekanisme demokrasi yang adil, jujur, dan transparan. Langkah yang diambil Irak dapat menjadi contoh, yaitu ketika semua pihak keluar dari ego sektoral dan sektarian, dan menjadikan demokrasi sebagai instrumen untuk menentukan kekuasaan politik yang dilakukan secara transparan dan akuntabel.

Langkah Trump menarik mundur tentaranya dari Suriah menjadi momentum emas bagi Suriah untuk bangkit dari keterpurukan. Dan, semua itu membutuhkan kebesaran jiwa dari semua pihak, baik kubu al-Assad maupun kubu oposisi untuk keluar dari penjara sektarianisme dan kepentingan politik sesaat. Era menyelesaikan perbedaan kepentingan politik dengan menggunakan senjata sudah berakhir, dan kini menjadi jalan bagi tegaknya nilai-nilai konstitusional dan demokrasi yang akan membawa fajar baru bari Suriah di masa mendatang. Mungkinkah itu terjadi? Kita lihat perkembangannya dalam beberapa bulan mendatang.

Zuhairi Misrawi intelektual muda Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com