Kolom

Waktu dan Kita

Bonefasius Zanda - detikNews
Rabu, 02 Jan 2019 12:30 WIB
Foto: BBC World
Jakarta -

Hidup itu seperti naik sepeda. Untuk menjaga keseimbanganmu, kamu harus terus mengayuh ~ Albert Einstein

Waktu akan terus bergerak maju. Waktu tak pernah mengenal kata lelah atau berhenti untuk berjalan bersama kita. Tahun boleh silih berganti, namun kesetiaan waktu tetap utuh dan tak akan pernah berubah. Lantas, kita pun berefleksi dan bertanya pada diri, sudah sejauh mana kita menghargai dan mencintai waktu? Sikap dan tutur macam manakah yang sering kita tampilkan dalam hidup bersama waktu di tahun 2018 yang baru saja kita lewati? Pada titik ini, saya dan mungkin Anda akan bersepakat bahwa dalam perjalanan hidup kita bersama waktu pada 2018, kebanyakan dari kita lebih banyak menduakan serta menyakiti waktu.

Dalam keluarga, sebagai anak seringkali kurang mendapat perhatian dari orangtua, dan sebaliknya anak seringkali berlaku kasar dan mengecewakan orangtua. Tak luput pula, ada pungli korban tsunami, kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur merajalela. Di sekolah, terjadi kekerasan guru terhadap murid, sebaliknya murid terhadap guru. Dalam lingkungan sosial, terjadi perkelahian antartetangga, begitu pun dalam dunia maya, lebih banyak dihiasi oleh berita-berita hoaks dan juga berbagai ujaran kebencian yang melunturkan martabat manusia.

Juga tak kalah hebohnya dengan suhu perpolitikan Tanah Air saat ini, yang doyan mengembuskan isu agama sebagai instrumen untuk meraut suara dan kursi kekuasaan. Selain itu, perayaan Natal kali ini pun (masih) dihiasi oleh berbagai polemik seputar ucapan Natal. Padahal kita hidup dalam satu roh yakni ideologi Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Lagipula, diucapkan ataupun tidak diucapkan, tidak akan berpengaruh sedikit pun pada keyakinan dan keagamaan yang dianut. Toh, kita tetap meyakini pada Sang Pencipta yang satu dan sama. Itu artinya, perdebatan seputar ucapan Natal tak perlu dibahas dan dibesar-besarkan.

Itulah beberapa kisah buruk yang telah menghiasi perwajahan tahun 2018, sekaligus seolah menunjukkan bahwa kita belum mampu bahkan tidak mampu menghargai waktu.

Minggu (30/12/2018), saya mengikuti perayaan ekaristi di Gereja Santo Yoseph Bajawa, Flores, NTT. Di pengujung perayaan, pastor (imam) paroki menegaskan bahwa pada perayaan ekaristi pergantian tahun tidak boleh ada bunyi petasan atau sejenisnya. Pengungkapan rasa syukur kita cukuplah dirayakan dalam doa-doa bersama ataupun diskusi-diskusi bersama sanak saudara di dalam rumah saja. Hemat saya, penegasan ini mengandung dua hal penting. Pertama, pemaknaan dan pengungkapan rasa syukur terhadap pergantian tahun haruslah dengan cara-cara yang humanis dan tidak menimbulkan korban atau masalah. Karenannya, doa dan diskusi-diskusi adalah opsi sekaligus titik awal yang paling tepat untuk memulai memaknai waktu di tahun baru 2019.

Kedua, merayakan pergantian tahun baru dengan berbagai euforia yang berlebihan seperti bermain kembang api adalah salah satu kebiasaan yang keliru. Artinya, kita mengawali pemaknaan waktu untuk tahun yang baru dengan cara lama yang akan melahirkan masalah. Dan, tanpa sadar sebenarnya kita sedang menyakiti kesetiaan waktu --titik awal kita dengan menghidupi perilaku menyakiti. Maka, jangan heran jika sikap-sikap destruktif terhadap waktu yang telah terjadi pada tahun 2018 akan tetap ada, dan pastinya dihidupi, serta dipraktikkan pada Tahun Baru 2019.

Akhirnya, pergantian tahun boleh terjadi berulang kali, namun tidak pernah membawa dampak baik bagi hidup kita. Dan, pada situasi seperti inilah kita sedang menyakiti waktu berulang kali dengan cara-cara yang paling sadis.

Pertanyaannya, apakah kita tak mampu berubah? Jawaban atas pertanyaan ini adalah kita bisa. Pernyataan ini bisa diaktualisasikan jika kita selalu membudayakan sikap selalu bersyukur dan berani menggugat diri. Sebab, ungkapan syukur dan mensyukuri serta naluri yang menggugat bersama rasa syukur itu adalah sebuah ungkapan yang lahir dari kedalaman diri yang paling tulus dalam menyikapi setiap realitas hidup kita.

Suka dan duka adalah realitas hidup. Namun, realitas itu harus dihadapi dengan penuh rasa syukur. Bersyukur saat kita suka dan juga bersyukur saat kita duka. Jika sikap ini yang terus kita rawat, maka sikap menggugat diri untuk tidak boleh kalah terhadap setiap persoalan pun akan tetap menjadi roh dalam diri kita. Oleh karena itu, pemahaman tentang keseimbangan yang dimaksudkan oleh Albert Einstein di atas bukanlah situasi hidup yang tanpa kejatuhan. Tapi, menyadarkan kita bahwa saat kita jatuh, kita juga perlu bangkit lagi. Sembari terus berusaha untuk tidak boleh jatuh pada lubang yang sama.

Oleh keran itu, kesalahan-kesalahan yang telah kita buat pada tahun 2018 tidak boleh kita bawa terus di Tahun Baru 2019 ini. Menggunakan isu agama demi pemuasan nafsu kekuasaan, mempersoalkan ucapan Natal, ataupun sikap yang serakah terhadap alam segera dikubur dalam-dalam, dan cukuplah terjadi pada tahun 2018.

Jadi, mumpung kita baru saja memulai lembaran baru, dan mumpung masih diberi kesempatan, mari kita luangkan waktu untuk sejenak menyepi dan membuat big picture, visi, atau impian yang kita inginkan untuk kemakmuran kita di tahun mendatang. Mulailah membuat impian sekarang juga dan raih keajaiban dalam kehidupan kita berikutnya yang lebih baik, dan bermanfaat bagi banyak orang.

Maka, tepat di saat yang indah ini, mengawali tahun yang baru ini cobalah berhening diri. Tengoklah waktu yang sudah silam. Telusurilah keberhasilan dan kegagalan kita. Dengan demikian, hari baru dan tahun baru mampu membuat kita untuk memulai dengan cara pandang dan tindakan baru yang lebih baik dan lebih indah. Dengan begitu, hidup kita pun dapat diperbarui. Masa lalu tidak dapat kita ubah. Yang kita ubah menjadi lebih indah adalah waktu yang akan datang.

Hidup bukanlah menjaga keseimbangan untuk bergerak mundur, tapi bergerak maju dengan tatapan kepastian untuk berubah pada hamparan masa depan. Karenannya, pemaknaan terhadap waktu janganlah seolah-seolah sebagai kebetulan tetapi harus dimaknai sebagai penyelenggaraan Tuhan. Waktu adalah Tuhan. Maka hargailah waktu sebagaimana Sang Waktu mencintai kita tanpa batas. Itu sebabnya waktu begitu amat berarti dan bernilai. Selamat berbahagia di Tahun Baru 2019!

Bonefasius Zanda pendidik SMA Katolik Regina Pacis Bajawa-Flores-NTT

(mmu/mmu)