detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 27 Desember 2018, 16:03 WIB

Kolom

Natal di Dusun

Saverinus Suhardin - detikNews
Natal di Dusun Perayaan Natal di lereng Gunung Merbabu, Kabupaten Semarang (Foto: Eko Susanto)
Jakarta -

Ketika banyak beredar foto di media sosial tentang larangan mengucapkan selamat Natal, saya langsung menganggap Natal di dusun jauh lebih hikmat daripada di kota.

Dulu di kampung, semasa kanak-kanak, Natal menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Orang-orang berkumpul bersama keluarga, membuat banyak kue, menyembelih banyak hewan, makan bersama, saling mengunjungi satu sama lain, bersalaman membagikan salam damai.

Itulah gambaran umum suasana Natal di kampung saya yang terletak di Flores Barat, NTT.

Memasuki bulan Desember, masing-masing rumah tangga mulai menyulap halaman rumahnya menjadi seperti Betlehem, tempat kelahiran Yesus.

Kintal rumah dipastikan bersih dari sampah dan rumput ilalang. Selanjutnya akan didandani menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitar lingkungan rumah seperti bambu, ilalang, pohon pisang, dan sebagainya. Bentuk hiasan rumah itu sangat beragam. Sebagian besar orang membuat kandang dan pohon Natal.

Ciri khas utama hiasan Natal adalah lampu kerlap-kerlip, menyerupai suasana bintang yang berderang saat Yesus lahir. Bila senja berlalu, cahaya lampu dengan berbagai warna itu mengganti semua keindahannya. Setiap rumah ada. Sepanjang kampung menjadi lebih meriah.

Suasana dalam rumah tidak kalah menyenangkan. Alat pemutar musik mulai melantukan lagu-lagu Natal yang menemani aktivitas keluarga membuat berbagai jenis kue.

Satu atau dua hari menjelang Natal, anak-anak bersama keluarga kecilnya yang merantau agak jauh dari rumah biasanya akan kembali merayakan Natal bersama di rumah orangtua. Makanya perlu banyak penganan untuk menyambut kedatangan mereka.

Beberapa hewan peliharaan pun siap disembelih. Biasanya babi dan ayam. Bergantung kemampuan masing-masing keluarga.

Anak-anak tidak kalah hebohnya. Di kampung jarang bermain petasan. Selain susah diperoleh, harganya lumayan mahal. Anak-anak lebih memilih bermain meriam bambu. Mudah diperoleh dan tentu saja biayanya sangat murah.

Selama masa Natal, mata kita dimanjakan kerlap-kerlip lampu hias yang mirip rasi bintang di langit; hidung kita kembang-kemping mencium harum kue dan daging; telinga kita dilantunkan lagu-lagu Natal yang meriah serta sesekali dikagetkan letupan meriam, dan mulut kita lebih sering mengunyah dan menenggak minuman.

Suasana misa di gereja terasa lebih khusuk dari biasanya. Tenang dan damai. Apalagi pada saat pastor menyerukan, "Marilah kita saling membagikan salam damai." Setiap orang sontak menoleh kiri-kanan dan depan belakang, mengumbar senyuman tulus, mengulurkan tangan sambil mengucapkan, "Salam damai Natal."

Setiba di rumah dari gereja, masing-masing kelurga saling berpelukan, bermaaf-maafan, dan menguatkan agar kehidupan selanjutnya menjadi lebih baik.

Kini, ketika Natal dirayakan di kota rantauan, suasana itu sulit dirasakan lagi. Mulut kita memang mengucapkan selamat hari Natal, jari-jari kita mengetik pesan salam damai Natal, tapi dalam hati dan pikiran tidak benar-benar terasa damai.

Bagaimana bisa damai dan nyaman, orang-orang mempergunjingkan tentang boleh dan tidaknya mengucapkan selamat Natal. Kontroversi itu membuat kita yang merayakannya menjadi serba salah. Seolah ada yang salah bila kami merayakan Natal.

Selama ini, kita terbius dengan suasana kota yang ramai dan megah. Kita rela meninggalkan kampung. Kita menganggap kampung tidak menjanjikan apa-apa. Di kota, semuanya bagus dan lengkap. Lalu, kita berlomba-lomba meninggalkan kampung. Kita merantau mencari peruntungan yang lebih baik.

Sialnya, tidak semua yang diimpikan itu bisa terwujud. Malah terjadi hal sebaliknya. Kita hidup sengsara di kota. Kerja pontang-panting, tapi hasilnya segitu-gitu saja. Saat Natal tiba, kadang hanya ditemani satu-dua orang di kos-kosan tanpa ada kemeriahan suasana di kampung. Tahun ini, saya sangat merindukan Natal di dusun.




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed