detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 23 Desember 2018, 11:58 WIB

Dari Tukang Cukur Jadi Orang Sukses

Ishadi SK - detikNews
Dari Tukang Cukur Jadi Orang Sukses Ishadi SK (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Menjadi orang sukses ada banyak cara, bisa karena beruntung, tekun, berprinsip, atau cerdik. Apa yang dialami oleh Fredy Chandra (bukan nama sebenarnya), seorang tukang cukur di Senayan, Jakarta adalah semua kombinasi dari hal tadi. Orangnya rendah hati, gampang berteman, dan memang punya keahlian yaitu mencukur. Meskipun, pelanggannya menyebut tempat kerjanya bukan kios tukang cukur, tapi salon.

Fredy berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Berrkat ketekunannya dan kehidupannya yang hemat tapi bekerja keras, sedikit demi sedikit dia bisa mengumpulkan uangnya, dan akhirnya menetap di Palmerah, di sebuah rumah yang dibangunnya sendiri seluas 150 m2. Di tempat inilah sebenarnya dia benar-benar membangun sebuah salon potong rambut. Dia bekerja sendiri, dibantu oleh seorang asisten yang setia. Fredy keturunan Tionghoa, ayahnya beragama Konghuchu. Namun, kemudian kedua orangtuanya menjadi mualaf. Fredy, istri, serta anaknya mengikuti menjadi mualaf juga, dan menjadi muslim yang baik.

Cara dia melayani kilennya sangat baik, sehingga umumnya mereka menjadi pelanggan setia. Contohnya saya. Saya sudah lebih dari 35 tahun setia memangkas rambut saya ke Fredy. Saya sudah mencoba di berbagai tempat di Jakarta, Surabaya, Bandung, Palembang, Medan, Batam, bahkan di Australia dan Eropa. Tidak ada seorang pun yang bisa memangkas rambut saya seperti yang saya inginkan.

Di rumahnya yang sempit ada empat kamar untuk masing-masing anaknya. Anaknya yang pertama, Gery (bukan nama sebenarnya) kuliah di Bina Nusantara, dengan spesialisasi animasi. Sekarang bekerja di RCTI di bagian animasi dan sudah menikah dengan orang Depok, keturunan Betawi asli. Sisca, putri kedua, kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Geologi. Karena cerdas dan rajin, ia diangkat menjadi asisten dosen. Ia sering mengadakan penelitian di berbagai wilayah Indonesia, sampai akhirnya mendapatkan beasiswa dari pemerintah Inggris untuk mengambil S2 dengan penelitian khusus mengenai lingkungan hidup. Sepulang dari Inggris, ia menjadi dosen dan peneliti di ITB. Suaminya orang Awak (Padang), sekarang bekerja di perusahaan Jepang.

Ketiga Juwita. Tamat Fakultas Sastra Universitas Indonesia, sekarang mengajar Bahasa Jepang. Suaminya Islam dan keturunan Jawa-Sunda, sekarang bekerja di Bukalapak. Yang terakhir putri keempat, Wien, sekarang ini berusia 20 tahun, saat ini kuliah di Universitas Tirtayasa, Jurusan Teknik Sipil, Banten. Bersama pacarnya, putra Banten asli, Wien mendirikan kafe di Rangkas Bitung. Modalnya diperoleh ketika ia mendapat dana USD 2000 dari Korea Selatan karena dia sukses mengajukan proposal, kemudian mempertahankan proposal itu dalam sebuah seminar di Seoul, Korea Selatan. Universitasnya memang bekerja sama dengan Korea Selatan, khususnya untuk pemberian beasiswa.

Baru enam bulan kafenya berdiri, karena mendapat untung besar, mereka berencana menambah satu gerai baru. Tetapi, oleh ayahnya, Fredy, rencana tersebut ditolak karena khawatir ia tidak bisa menyelesaikan kuliahnya akibat sibuk berbisnis. Wien, sebagaimana saudaranya yang lain amat patuh kepada ayahnya, membatalkan rencananya untuk menambah kafe baru. Namun, ia bertekad di akhir kuliahnya dia sudah akan memiliki 10 kafe di Banten.

Meskipun "hanya" tukang cukur, Fredy mendidik anaknya dengan sangat keras, khususnya ketika di perguruan tinggi --mereka harus tetap kuliah dan harus selalu menjadi nomor satu di kampusnya. Terbukti memang, keempat-empatnya menjadi mahasiswa unggulan di kampus masing-masing, bahkan keempat-empatnya menjadi asisten dosen pada semester 4, menulis berbagai penelitian di berbagai forum ilmiah internasional, dan ditawari berbagai beasiswa.

Wien, karena hubungannya meluas, pernah dilamar oleh asisten dosennya yang berasal dari Jepang. Wien minta syarat, bahwa ia bersedia menjadi istrinya kalau asisten dosen itu pindah beragama Islam. Dia menolak, dan hubungan mereka putus. Pacarnya yang sekarang, putra Banten asli dan alumni Universitas Tirtayasa.

Ketika dulu saya berpindah-pindah rumah dan sekarang tinggal di Cilandak, saya masih selalu menyempatkan untuk datang ke salon Fredy untuk potong rambut. Di salonnya sekarang ini, karena tiga dari empat anaknya sudah menikah, kamar yang selama ini dipakai anak-anaknya disewakan untuk kos-kosan. Bahkan ruang salon yang tadinya luas, dipersempit untuk digunakan sebagai kamar kos tambahan.

Sejak dua puluh tahun yang lalu saya menyaksikan betapa hubungan si tukang cukur ini dengan keluarga di rumahnya sangatlah baik. Barang tentu dia tidak bisa memberikan advice akademik, karen Fredy hanya lulusan SLTA. Tapi, ia memberikan pelajaran motivasi, moral, dan agama secara teratur dan terus-menerus. Saya pernah menghadiri pernikahan putrinya yang kedua. Menurut saya pesta pernikahannya sangat mewah bagi seorang tukang cukur "biasa".

Fredy memang berkat ketekunan dan kerja kerasnya telah menjadi seorang entrepreneur yang sukses. Ia mengatakan bahwa sampai kapan pun dirinya akan menjadi tukang cukur --di salonnya yang semakin sempit itu. "Syukur alhamdulillah," dia mengatakan, "Saya mempunyai anak-anak yang mau mendengarkan, santun, menghormati ayah ibunya dan mau kerja keras untuk mendapatkan nilai dan prestasi terbaik di bangku kuliah."

Fredy adalah contoh terbaik dalam mendidik anak-anaknya lewat pendidikan moral, serta kesadaran bahwa mereka dibesarkan oleh orangtua yang sederhana, seorang tukang cukur.

Tiga puluh tahun Fredy berjuang membesarkan anak-anaknya. Hari ini ia memetik hasilnya.

Ishadi SK Komisaris Transmedia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com