ADVERTISEMENT

Kolom Kalis

Haul dan Monumen Ingatan

Kalis Mardiasih - detikNews
Jumat, 21 Des 2018 17:50 WIB
Kalis Mardiasih (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Suatu ketika saya dan Teteh Yulianti Muthmainnah sama-sama sedang berada di Padang Panjang, Sumatera Barat. Aktivis Muhammadiyah itu sedang bertugas mengambil data penelitian soal keulamaan perempuan di asrama Diniyyah Puteri Padang Panjang. Sedangkan saya kebetulan saja sedang melancong. Dari Bukittinggi, setelah sarapan itiak lado mudo sembari menikmati Ngarai Sianok yang hijau itu, saya mendapatkan tukang ojek baik hati yang bersedia mengantar saya ke satu wilayah paling kecil di Tanah Datar yang berjuluk Mesir Van Andalas itu.

Saya dan Teh Yuli gagal bertemu. Teh Yuli harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk wawancara dan observasi. Di Bandara Minangkabau yang akan membawa kami pulang ke Jawa, kami justru tak sengaja bertemu karena jadwal keberangkatan yang tertunda.

Saya memamerkan foto-foto ketika di Padang Panjang. Selain berfoto di area sekolah Diniyyah Puteri, ada pula foto saya berziarah di makam Rangkayo Syaikhah Rahmah El Yunusiyyah, ulama perempuan Minang yang mahsyur namanya itu.

"Lho, di mana ada makam Rahmah El Yunusiyyah?" tanya Teh Yuli.

"Di seberang Masjid. Di belakang pas bangunan asrama. Teteh nggak tahu? Padahal kan beberapa hari di sana."

"Mungkin itu bedanya NU dan Muhammadiyah ya. Orang NU kayak kamu kalau pergi ke mana pun yang dicari makam dulu."

Kami tertawa bersama.

Ziarah, rasa-rasanya memang menjadi identitas yang paling kuat dari warga Nahdiyyin. Istilah Sarkub alias Sarjana Kuburan muncul merespons tradisi yang bertujuan untuk ber-tawassul lewat perantara wali atau tokoh yang dianggap punya karamah itu. Dalam kitab Nashaihul Ibad, Syaikh Nawawi Banten memberikan setidaknya empat tujuan ziarah kubur, yakni mengingat mati dan akhirat, mendoakan ahli kubur, tabarruk atau mendapat keberkahan, dan memenuhi hak ahli kubur yang diziarahi (ziarah ke makam orangtua).

Salah satu tokoh dengan rentang waktu berpulang yang dipercaya sebagai wali oleh banyak orang adalah Gus Dur. Bukti zahir dari kepercayaan itu tampak dari makam yang tak pernah sepi sejak hari pertama ia disemayamkan. Pada hari biasa, peziarah di makam Gus Dur yang terletak di area Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang mencapai tiga ribu orang per hari. Jelang Ramadan, jumlah peziarah bahkan mencapai 10 ribu. Layaknya wali-wali yang ada di dunia, pengunjung makam Gus Dur datang dari berbagai kalangan, lintas identitas dan lintas iman.

Setiap 21 September hari meninggalnya Gus Dur diperingati. Pada peringatan Haul ke-9, rangkaian acara di Pondok Pesantren Ciganjur, Yayasan Wahid Hasyim, Jakarta Selatan dihadiri oleh KH Maimoen Zubair, Habib Abu Bakar Al Attas, Ebiet G Ade, Ustaz Mako, Aristides Katoppo, Toeti Heraty Nurhadi, Mahfud MD, Nazar Sungkar dan Grup Shalawat Padhang Howo. Terlalu banyak gelar yang disematkan kepada sosok Gus Dur, seperti Sang Humanis, Bapak Tionghoa, dan Bapak Pluralisme.

Manusia merawat ingatan lewat monumen, museum, bangunan bersejarah, dan makam. Ziarah dan haul yang terkesan konservatif justru tampak makin relevan di era percepatan informasi. Berita, baik itu fakta maupun kabar bohong, silih berganti dalam hitungan detik membuat kepala manusia tak punya cukup waktu untuk mengabadikan berita menjadi wacana publik. Berita korupsi kepala daerah berganti keributan atas pernyataan tokoh politik yang konyol, kemudian berganti berita kriminal dari seorang dai populer silih berganti dalam beberapa jam saja di media sosial. Duka terhadap bencana dan solidaritas kepada kriminalisasi petani menemukan bentuk yang cukup dalam tagar-tagar trending.

Peristiwa penting di masa lalu menjadi tak hanya usang, tapi asing. Beri contoh, pergerakan menolak lupa untuk Munir Said Thalib. Coba sebutkan nama Munir kepada anak-anak SMA atau mahasiswa zaman sekarang. Berikutnya, sekalian tanyakan kiprah Munir dan mengapa ia dikenang sebagai pejuang Hak Asasi Manusia era Orde Soeharto yang paling berani sehingga 14 tahun silam, ia harus dibunuh di ketinggian empat puluh ribu kaki. Peristiwa yang terjadi pada 2004 sudah tak dikenali. Bercerita tentang mimpi buruk politik Orde Soeharto menjadi agenda yang begitu berat. Belum sembuh dari mimpi buruk, sebuah partai telah lahir mereproduksi sebuah citra baru tentang partai yang berjanji akan berkarya dan membawa kesejahteraan.

Kemanusiaan juga terbentuk dari ragam emosi yang bersifat elastis. Dalam ruang-ruang emosional, kita menikmati jeda untuk mengabadikan sebuah persona, fragmen dan momentum. Di depan nisan, manusia merunduk mengimajinasikan sebuah perjumpaan dengan spirit yang agung. Di antara baris zikir dan doa, manusia menghempaskan kaku dan beku dalam irama dan udara yang lapang. Haul adalah monumen bagi ingatan yang terasa lebih fungsional bagi kemanusiaan.

Kalis Mardiasih menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa lewat @mardiasih

(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT