Kolom

Politik dan Manusia Kesepian

Naldo Helmys - detikNews
Jumat, 21 Des 2018 11:30 WIB
Kesepian juga bisa singgah dalam ranah perebutan kuasa
Jakarta -

Mampus kau dikoyak-koyak sepi. Demikian tutur Chairil Anwar dalam puisi berjudul Sia-Sia (1943). Kata-kata itu sering dikutip. Dibikinkan meme sambil menggoda manusia kesepian di luar sana. Sepi memang demikian adanya, mampu mencabik eksistensi diri.

Eiichiro Oda lewat serial manga One Piece menggambarkan kondisi tak diingat dalam momen epik. Hiluluk, seorang dokter gadungan di sebuah kerajaan bernama Drum akan menghadapi ajalnya setelah tak sengaja diberi jamur beracun oleh muridnya. Saat itu dia juga ditodong senjata oleh tentara kerajaan karena dituduh memberontak. Dengan santai dan lantang Hiluluk bersuara. Kau pikir kapan seseorang mati? Saat peluru menembus jantungnya? Saat menderita penyakit yang tak ada obatnya? Saat meminum sup jamur beracun? Tidak! Manusia mati ketika mereka dilupakan.

Hiluluk akhirnya memang mati, tetapi ia menjemput kematian dengan bangga karena berhasil membuat penerusnya terinspirasi, terkenang. Di bagian lain, Oda juga menggambarkan tentang Pulau Ohara. Pemerintah Dunia bermaksud membuat pulau itu dilupakan dari sejarah. Sebab, penduduknya yang umumnya adalah arkeolog dan sejarawan sedang berusaha menyingkap sejarah yang ditutupi oleh Pemerintah Dunia. Dalam hal ini, pekerjaan pemerintah dibuat lebih sistematis, menggunakan regulasi tertentu, sehingga terjustifikasi. Alhasil, tidak seorang pun masyarakat internasional yang ingat akan keberadaan Ohara dan isinya.

Oda sebetulnya menangkap hal yang lumrah di dunia posmodern: kesepian dan terlupakan; dan mahal saat ini: kebersamaan dan dikenang. Dalam kisah petualangannya, Oda selalu menghadirkan bahwa kesendirian, kesepian, dan terlupakan adalah hal yang paling buruk dalam kehidupan manusia. Tetapi, hantu kehidupan itu bisa dilawan. Artinya, manusia bisa memilih untuk dikenang dan mengenang, tergantung pembacaan.

Tentu saja, kehidupan itu amat luas dimensinya. Politik adalah bagiannya. Di dalamnya, kesepian pun hadir, dan bahkan bisa meruyak. Atau, jangan-jangan sedari semula politik memang tidak berkawan dengan kebersamaan? Lagi-lagi tergantung pembacaan.

Jika ditengok album sejarah, Presiden Sukarno tampak akrab dengan siapa saja, para pesohor politik internasional. Dia berfoto bersama John F. Kennedy, bersalaman dengan Che Guevara. Dia karib pula dengan Kim Il Sung dari Korea Utara. Pun Sukarno didepak dengan tragis dari tampuk kuasa, dan entah berapa cara dibuat agar dia terlupakan, nyatanya sosok Bung Karno senantiasa terkenang. Setidaknya, dia hadir dalam lembaran uang.

Namun, dalam konstelasi politik, tidak semua orang seberuntung Bung Karno. Banyak juga orang besar yang terlupakan. Tidak usah jauh-jauh, Tan Malaka, salah seorang bapak bangsa, mungkin sudah dilupakan oleh generasi muda. Tidak semua pemimpin negara pula yang mampu membangun karisma. Bahkan yang berkarisma pun belum tentu bertahan. Sukarno masih beruntung, kendati peristiwa 1965 ialah tragedi baginya, setidaknya di rezim berikutnya dia masih dihargai sebagai pendiri republik.

Tengoklah Reza Pahlevi, penguasa Iran yang ditumbangkan lewat Revolusi Islam 1979. Dia terpaksa meninggalkan Iran untuk tidak pernah kembali lagi kendati ajal menjemput. Negaranya dirombak total oleh kekuatan agamais, republikan, dan sosialis yang bolehlah disebut 'populis'. Warisan Dinasti Pahlevi runtuh, digantikan oleh Majelis Ulama ala Ayatollah Khomeini. Hingga sekarang, Republik Islam yang dibangun di atas kemenangan revolusi itu masih berdiri. Andai pemerintahan para ulama itu bertahan beberapa dekade ke depan, Dinasti Pahlevi mungkin benar-benar akan terlupakan, atau diingat semata sebagai antagonis revolusi, prototip dari sebuah kekalahan politik.

Pemimpin yang dijatuhkan oleh kudeta memang cenderung lebih mudah terlupakan oleh generasi selanjutnya. Namun, bagaima halnya pemimpin yang "dilengserkan" secara demokratis, lewat pemilu yang sah, dan secara konstitusi sudah habis batasan periodenya? Bisakah dia terlupakan dan kesepian?

Idealnya, hal itu tidak mesti terjadi. Kecuali, jika sang presiden yang digantikan mewakili eksistensi kelompok di sekitarnya, partai misalnya. Ketika partainya oleng, atau dikritik oleh oposisi, dia bisa berang. Beberapa kali kita lihat, pendukung Donald Trump menyalahkan pemerintahan Obama. Hal itu lumrah adanya. Republik dan Demokrat memang berebut posisi. Dalam hal ini, Obama tidak saja mewakili dirinya, melainkan corak pemerintahan demokratik yang dibawanya.

Di negara demokratis, presiden sekaligus cerminan sebuah bangsa. Melupakannya, tak menghargai jasanya, barangkali menjadi pertanyaan, sebegitu gampangkah manusia singgah dan pergi untuk sekadar diambil manfaatnya? Giat bekerja, dia disokong, tak kesepian. Kerjanya usai, dibiarkan tertinggal di masa lampau, dan baru diungkit kalau dapat menjual elektabilitas tahun-tahun berikutnya. Tentu, hal tersebut tak hanya untuk petahana. Yang sudah habis periodenya pun, patut disantuni, dibuat tak terlupakan.

Menghargai kepala negara dan mantan kepala negara bukan berarti menjilat pada kuasa, maupun dengan sengaja melumpuhkan nalar kritis. Ini soal bagaimana menjadi manusia, kalau memang kita mengamini kesetaraan manusia. Ada mantan presiden yang kedatangannya tak disambut ketika pragmatisme politik diutamakan. Petahana pun turut sulit berkomunikasi menunjukkan kinerjanya, dibalut serangan dari kanan-kiri. Lama-lama, dia pun bisa terlupakan. Penantang pun harus hati-hati bernarasi, kalau tidak mau suatu saat tersandung, lantas berkalung sepi di ujung. Singkatnya, bukan martabat pemimpin yang luntur, tetapi kedunguan-kedunguan masyarakat yang melunturkannya.

Beberapa bulan silam, saya keceplosan menyentil seorang kawan dari Tiongkok. Saya beri ucapan selamat atas apa yang terjadi di negaranya. Dalam pekan itu, pemerintah Tiongkok mengubah konstitusi, sehingga Xi Jinping bisa menjadi "Presiden Seumur Hidup" --cita-cita Bung Karno yang tak kesampaian. Ucapan selamat saya itu dapat diartikan dengan kian jauhnya Tiongkok dari demokrasi. Namun, kawan saya membela. Itu bergantung kamu melihat. Di Barat kamu melihat itu tidak demokratis, tetapi bagi kami, dia [Xi Jinping] adalah ayah.

Pembelaanya mungkin tidak mewakili sepenuhnya sikap rakyat Tiongkok. Tetapi, sebagai manusia perkataannya itu dilandasi moral yang kuat, bagaimana orang yang dianggap berjasa selalu terkenang.

Namun, pada akhirnya manusia akan pulang kepada kesepian. Perlahan satu dengan yang lain akan saling melupakan. Tak diingat menjadi lumrah. Pun begitu, ada kabar gembira. Kendati orang dilupakan oleh sesamanya, Tuhannya akan selalu ingat, besar dan kecil yang mereka perbuat. Ikhlas berpolitik, ikhlas bernegara, dan ikhlas mengayomi akan berbuah manis di penghabisan masa.

Naldo Helmys alumnus Master of Science in International Relations dari University of Glasgow

(mmu/mmu)