Analisis Zuhairi Misrawi

Amerika Serikat Melawan Arab Saudi

Zuhairi Misrawi - detikNews
Jumat, 21 Des 2018 11:03 WIB
Zuhairi Misrawi (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Secara mengejutkan, Senat Amerika Serikat (AS) menyatakan Muhammad bin Salman (MBS) harus bertanggung jawab atas kematian Jamal Khashoggi. Sikap ini diambil setelah Senat melakukan voting yang dipimpin oleh Senator dari Partai Republik, Bob Corker.

Keputusan Senat tersebut secara otomatis akan mendorong DPR AS untuk mengambil langkah yang sama, sehingga akan menjadi tekanan yang luar biasa kepada Presiden Donald Trump agar AS mengambil langkah yang tegas terhadap Arab Saudi, khususnya MBS.

Pada akhirnya Donald Trump tidak mempunyai pilihan lain kecuali mengambil langkah tegas untuk menegaskan komitmen AS terhadap nilai-nilai luhur yang selama ini dianut perihal hak asasi manusia. Mayoritas publik AS memberikan perhatian terhadap kasus Khashoggi, karena ia dalam setahun terakhir menetap di AS dan menjadi kolomnis di harian terkemuka The Washington Post.

Khashoggi adalah sosok penting karena mampu mengungkap kepemimpinan MBS yang dianggap dapat menjadi wajah baru Arab Saudi. Ia secara terang-benderang melakukan kritik terhadap MBS yang telah membawa Arab Saudi pada masalah serius, akibat kebijakan dan langkah-langkah politik yang hanya sangat pragmatis dan penuh pencitraan, tapi mengabaikan kebhinekaan gagasan. Intinya, seluruh pihak yang mengkritisi kebijakan MBS langsung ditangkap tanpa proses pengadilan, disiksa dalam penjara, bahkan nyawanya melayang.

Khashoggi adalah contoh nyata dari kebengisan MBS yang sangat telanjang, sehingga semua pencitraan yang dibuat selama ini hilang seketika. MBS tidak bisa lari dari tekanan publik internasional, khusus Senat dan DPR AS, yang akan menagih pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan terhadap Khashoggi.

Arab Saudi sendiri langsung merespons keputusan Senat AS tersebut. Menurut mereka, Senat AS dianggap telah mencampuri urusan dalam negeri Arab Saudi, dan mereka menepis bahwa kerajaan tidak akan melakukan tindakan brutal terhadap Khashoggi.

Namun, nasi sudah menjadi bubur. Warga dunia sepertinya tidak akan mempercayai respons Arab Saudi tersebut. Di era digital yang serba transparan ini, tidak sulit untuk menemukan jejak-jejak pelaku pembunuhan terhadap Khashoggi. Siapapun yang melakukan tindakan kriminal tidak akan bisa menghindar dari tuntutan hukum.

Jam tangan Apple yang dipakai Khashoggi telah menjadi saksi akurat tentang proses pembunuhan. Di samping itu, intelejen Turki dengan meyakinkan dapat mengumpulkan seluruh bukti yang dapat menjelaskan orang-orang dekat MBS terlibat langsung dalam pembunuhan. Bahkan, ada bukti kuat perihal komunikasi antara perilaku dengan kantor MBS.

Sebelumnya Arab Saudi menyatakan Khashoggi sudah keluar dari kantor Konsulat Jenderal pada hari yang sama saat almarhum masuk ke kantor tersebut. Tidak lama setelah itu Arab Saudi menyatakan Khashoggi sudah meninggal dunia. Ironisnya, pengakuan Arab Saudi tentang kematian Khashoggi tidak disertai dengan penjelasan jasad Khashoggi.

Jadi sebenarnya sikap Arab Saudi yang tidak jelas tersebut semakin meyakinkan publik bahwa MBS terlibat dalam pembunuhan Khashoggi. Tidak aneh jika Senat AS mengambil langkah tegas, yang disertai dengan sikap agar AS menarik dukungan militer dalam perang di Yaman.

Pada hari-hari mendatang, MBS akan menghadapi masa-masa sulit, karena AS yang selama ini dikenal memanjakannya akan menjadi pihak yang paling lantang akan menekannya. MBS akan mendapatkan sokongan dari Presiden Donald Trump, tapi Senat dan DPR AS akan menjadi penentang keras. MBS akan menghadapi tekanan kuat dari AS yang akan terus menggerus popularitasnya tidak hanya di luar Arab Saudi, tetapi juga di dalam Arab Saudi.

Dampaknya, suara-suara di dalam negeri Arab Saudi, meskipun secara diam-diam, akan melahirkan ketidakpercayaan terhadap MBS. Gelombang ketidakpercayaan tersebut, setidak-tidaknya akan mempengaruhi lingkaran kerajaan yang memberikan mandat terhadap Raja Salman bin Abdul Aziz dan MBS.

Sikap AS yang berani melawan Arab Saudi ini akan menjadi batu sandungan yang sangat serius. Pasalnya, Arab Saudi selama ini selalu mendapatkan sokongan kuat dari AS. Dinasti Ibnu Saud bisa bertahan sampai sekarang ini, di antaranya karena disokong penuh oleh AS, terutama dari segi militer dan persenjataan canggih.

Atas kehendak publik AS agar menjadikan nilai-nilai luhur AS selalu diutamakan, maka Arab Saudi tidak bisa mengelak dari kenyataan tersebut. MBS tidak bisa "membeli" nilai-nilai luhur yang dianut AS. Kematian Khashoggi dapat menjadi "kematian karier politiknya". Pertaruhannya sangat besar, jika MBS masih bersikukuh dengan sikapnya, maka stabilitas politik di dalam Arab Saudi akan mengalami goncangan.

Maka dari itu, sikap Senat AS yang secara eksplisit menyebut MBS bertanggung jawab atas kematian Khashoggi akan menjadi "bola ponas" bagi Arab Saudi. Panggung dunia telah menjadi ruang penghakiman terhadap MBS dan Arab Saudi. Beberapa kasus penangkapan dan pembunuhan yang misterius di Arab Saudi akan menjadi mimpi buruk bagi MBS dan Arab Saudi.

Secara otomatis, warga dunia akan menyaksikan bahwa banyak pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di negeri kaya minyak itu. Kritik keras yang selama ini ditujukan kepada Arab Saudi perihal pelanggaran HAM akan membukakan mata dunia, bahwa Arab Saudi harus memasuki era baru yang dapat menghargai kebebasan berpendapat dan kebebasan berserikat. Menurut Madawi al-Rasheed, Arab Saudi harus melakukan reformasi sistem monarki yang tidak memberikan kewenangan absolut terhadap lingkaran kerajaan. Perlu partisipasi publik secara luas, termasuk adanya kebhinekaan pandangan dalam berbagai kebijakan.

Akhirnya, kematian Khashoggi akan menjadi zaman baru bagi Arab Saudi. Tekanan dari Senat AS, yang akan disusul oleh DPR AS akan memberikan sebuah jalan bagi perubahan yang bersifat radikal di dalam negeri Arab Saudi. Itu pun jika MBS sadar. Jika tidak, bagi kursi MBS akan menjadi kursi panas yang dapat mengancam dirinya.

Zuhairi Misrawi intelektual muda Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta

(mmu/mmu)